Dunia Itu…

Kata Mbah Kyai, tiada yang lebih nikmat di dunia kecuali tidur.

Bayi nangis kekejer (sangat keras) karena kelaparan. Setelah menunggu beberapa lama, makanan pun datang. Sayang, ia terlanjur ngantuk akibat kelelahan nangis tadi. Dibangunkan dengan cara apa pun, tak mau bangun.

Acara televisi semenarik apa pun, lebih milih tidur kalau sudah ngantuk.

Pengantin baru mana yang bahagia saat malam pertamanya didera ngantuk? Bukankah lebih bahagia kalau tidur saja?

Dan masih banyak lagi.

Mbah Kyai juga menambahkan. Ngantuk yang ditidurkan, layaknya sakit yang terobati. Kebelet buang hajat yang dilanjutkan pergi ke WC, adalah sakit yang terobati. Dan masih banyak lagi.

Jadi, dunia itu bahagia jika penuh sakit yang terobati. Salah kalau kita ndhak mau sakit. Tambah salah kalau kita ingin sakit terus.

Si Pembuat Ketidakadilan Kondisinya Mengenaskan

Barang-barang berbahaya berasal dari ketidakadilan. (Cak Nun)

Prediksi Cak Nun ini bisa berlaku di mana saja. Baik di lingkungan rumah, tempat kerja, negara, bahkan dalam hubungan antar negara. Barang-barang dalam kalimat di atas saya maknai sebagai kumpulan beberapa orang. Eh, bisa juga hanya seseorang ding.

Yang pernah saya temui, si pembuat ketidakadilan biasanya punya cara khusus dalam menanggulangi bahaya dari orang-orang (yang dianggap berbahaya) tadi. Bisa diupayakan dengan pura-pura memberi perhatian lebih, atau sekedar menyodorkan uang tutup mulut.

Sayangnya, upaya penanggulangan itu memunculkan ketidakadilan lain bagi pihak yang sebelumnya tidak berbahaya. Akhirnya, bertambahlah jumlah barang-barang berbahaya di sekitar pembuat ketidakadilan.

Lebih disayangkan lagi yaitu: seorang pembuat ketidakadilan yang belum sadar bahwa sedang banyak barang berbahaya di sekitar dirinya. Dia tetap santai membuat ketidakadilan-ketidakadilan yang makin menjadi-jadi hingga kehancuran menghampirinya.

Dan lebih dari sekedar lebih-disayangkan, si pembuat ketidakadilan ini baru menyadari sepak terjang barang-barang berbahaya ini setelah haknya dalam membuat keadilan dicabut oleh Yang Maha Adil.

Dunia Online Tak Kenal Tanggalan

Sebuah kekhawatiran tiba-tiba muncul dari suatu hal yang mungkin tak banyak digubris oleh rekan-rekan kerja saya sebelumnya. Tepatnya, tentang ancaman penjatuhan (kembali) nama baik via media online.

Hari ini ada tonggak sejarah baru tertancap di lingkungan kerjaku. Pencerahan dari Sang Maha Kuasa muncul begitu saja tanpa kami memintanya. Sebuah kekhawatiran tiba-tiba muncul dari suatu hal yang mungkin tak banyak digubris oleh rekan-rekan kerja saya sebelumnya. Tepatnya, tentang ancaman penjatuhan (kembali) nama baik via media online.

Media online yang dulu dianggap dewa penolong dalam penyaluran segala macam informasi, kini berbalik menjadi hal yang ditakuti. Ada suatu pola pemanfaatan media sebagai ajang penjatuhan nama baik. Tak tahu siapa yang paling diuntungkan, yang jelas, ada suatu keuntungan yang didapat sesaat setelah menulis berita secara online.

Berawal dari kejadian kriminal yang kebetulan menyangkut nama institusi kami, akhirnya muncullah beberapa berita yang hingga kini kami nilai mencoreng nama baik. Berita yang semestinya sudah kadaluwarsa, muncul kembali begitu saja. Dan dapat kami pastikan akan meracuni siapa saja.

Kalau begini aturannya, menulis berita tak perlu pakai tanggalan lagi. Berita lama yang menyakitkan tetap bisa meracuni siapa saja, kapan saja, dan di mana saja.

Aku Wedi Karo Bapakku

Aku wedi karo bapakku wiwit cilik nganti saiki.

Pernah aku ingin mengungkapkan kebosananku kepadanya. Atas kegalakannya. Atas kelebaiannya saat ia mengkhawatirkan keadaanku. Dan masih banyak lagi.

Wis. Aku bosen dadi anakmu, Pak!
_______
Tapi, sebelum semua itu aku lakukan, sudah jelas terbayang betapa mengerikannya hidupku nanti. Ketika beliau berkata duluan, “Aku iki wis luwih dhisik bosen dadi bapakmu, Le! Sakdurunge kowe isa maneni aku kaya ngene iki!”

Enthung

“Enthung, enthung, omahmu ngendi?” dengan nada penuh keingintahuan kita bertanya.

(Beberapa detik kemudian enthung-nya bergerak-gerak seperti terinduksi medan magnet. Lalu menunjuk ke suatu arah)

Tapi, pernahkah kita benar-benar mendatangi rumahnya? Tidakkah kita merasa iba kepada si enthung yang telah bersusah payah menunjukkan tempat asalnya? Lalu kenapa bertanya asal segala? Lantas, kalau sudah seperti ini, siapa yang seharusnya disalahkan?

Tolong, jangan salahkan enthung.

Masyarakat Jawa menyebut kepompong dengan enthung. Jadi, enthung adalah kepompong.

Nongkrong di Jembatan

Jembatan itu dibangun untuk dilewati beban yang berjalan. Kalau tiap sore banyak beban yang nangkring berjam-jam di atas jembatan tanpa bergerak, tidakkah kalian takut kalau…

Kalau nanti gantian jembatannya yang bergerak, biasanya akan lebih mengejutkan.

Kebenaran Sejati

Sutikno pemuda berudheng. Bukan peci, bukan pula kupluk haji. Udhengnya lama tak dicuci. Makin membuatnya terkesan lain dari yang lain. Orang umum bilang kalau Sutikno agak terganggu jiwanya. Gila.

Tapi tidak menurutku.

Waktu itu ia datang nendekat. Menyulut rokok mengais sensasi nikmat. Wajar, hampir tiap saat ia mendengar orang sekitarnya memaki, mengejek, dan menghujat. Dengan senang hati aku persilakan ia untuk sekedar melepas penat.

Tak sekalipun ia menatapku. Malah aku yang memperhatikan gerak-geriknya. Gurat wajah Sutikno yang lebih tua dariku ingin berpesan: jika kamu memohon petunjuk atas jalan lurus kepadaNya, maka bersiaplah. Jangan kau kira lurus itu tak berbelok.

Tersentak sukmaku.

Menunduk wajahku. Kuusap seluruhnya, mulai dahi hingga dagu. Nafas dalam kuhela sejenak. Jari-jemari kujangkarkan di kepala.

Selama ini aku mengira jalan lurus tak berbelok sama sekali. Selalu aku agungkan kebenaran versiku sendiri. Sedang waktu itu, polah tingkah Sutikno menegaskan sebuah pelajaran.

Tiba-tiba ia berdiri. Tangannya bergerak. Lalu ia menggambar sebuah garis yang letaknya jauh di depan sana. “Garis itu bisa dilihat, tapi tak akan mampu direngkuh oleh diri ini,” ia menambahkan lagi, “nggagas merengkuh, ngidak wae ora isa!” tandasnya.

Garis kok apikmen ta, No, Sutikno?” tanyaku.

“Itulah kebenaran sejati.” jawabnya.

Albert Einstein Menembakku

Mak sliyut.

Beberapa detik kesadaranku melayang di atas udara. Terlihat jelas sosok Albert Einstein yang gimbal rambutnya.

Bentuk tangannya mirip seperti tangan-tangan biasanya. Menodongkan pistol tepat di pelipis kiriku.

“Maaf, Mbah. Jangan di situ. Ada jerawatnya,” aku pindahkan ujung pistol itu ke pelipis kananku, “sini saja, Mbah,”

“Jangan bergerak!” teriaknya.

Lha yang bergerak juga siapa?”

“Tembak! Dor!” teriaknya lagi.

“Sudah, Mbah?” tanyaku.

“Belum. Kamu gila!”

“Lho? Kok bisa?”

“Iya. Lha wong kamu mengulang-ulang tindakan yang sama dengan mengharap hasil yang berbeda!” sambil mendorong pistolnya hingga kepalaku goyah dan terbangun.

Turu wae! Bangun!” kata Bapak.

Mempercepat Pertumbuhan Kumis

Kumis yang ia dambakan kini terwujud sudah. Setelah beberapa bulan menanti, kini panjangnya sudah mencapai 3 inchi. Cukup panjang untuk ukuran kumis pria normal di desa sini.

Meski belum bisa menyaingi kumisnya Mbah Fu Manchu, tapi Pak Wira cukup terlihat wagu.

Kali ini usahanya terbilang berhasil. Pasalnya, sudah berulang kali ia mencoba memanjangkan kumis. Tapi selalu gagal. Terakhir kalinya, seingat saya, ia gagal karena hal yang cukup sepele.

Setahun yang lalu, kumis Pak Wira sudah mencapai 1,5 inchi. Wati, yang saat itu masih berusia 5 tahun sedang ada di pangkuannya. Pagi yang cerah membuatnya ingin berjalan-jalan sambil mengajak Wati. Sampai di depan rumah Mbah Cip, Wati menangis. Dokar milik Mbah Cip yang waktu itu belum dijual telah merampas semua perhatian Wati.

Mampirlah Pak Wira ddan Wati di rumah Mbah Cip.

Setelah mendudukkan Wati di atas dokar, lantas Pak Wira jagongan dengan yang punya rumah. Obrolan makin asyik ketika sepe goreng dihidangkan oleh Mbah Yem.

Tersingkatlah cerita ini.

Sedang enak-enaknya makan sepe goreng, Wati menjerit kesakitan, “Wadhuh, Pakeee Wir! Wiraaa!”

Dengan gragapan Pak Wira mendekati sumber suara. Naluri seorang ayah terlihat jelas saat adegan itu. Tapi, Mbah Cip menghadang langkahnya.

Aja nyedhak, Wir! Yang njerit tadi bukan Wati!” kata Mbah Cip sambil memegang tangan Pak Wira.

Pripun ta, Mbah? Lha wong jelas yang duduk di dokar cuma Wati. Nanti kalau kenapa-kenapa, bagaimana horok?” Pak Wira mulai gugup.

“Potong kumismu! Itu satu-satunya cara biar yang menjerit tadi tak kesakitan lagi.”

Alah yung, biyung… Hubungannya apa, Mbah?” Pak Wira menggerutu.

“Jiwamu merasa kesakitan atas kesombongan yang selama ini bersarang di tiap helai kumismu itu, Wir! Ia tak mampu menjerit sekeras tadi tanpa perantara Wati. Anakmu…”

Wadhuh, Pakeee Wir! Wiraaa!” Wati menjerit lagi.

“Cepet potong, Wir!”

“Tapi, Mbah…”

Alah, kesuwen!”

Kres!
(Cuthel)