Aku Wedi Karo Bapakku

Aku wedi karo bapakku wiwit cilik nganti saiki.

Pernah aku ingin mengungkapkan kebosananku kepadanya. Atas kegalakannya. Atas kelebaiannya saat ia mengkhawatirkan keadaanku. Dan masih banyak lagi.

Wis. Aku bosen dadi anakmu, Pak!
_______
Tapi, sebelum semua itu aku lakukan, sudah jelas terbayang betapa mengerikannya hidupku nanti. Ketika beliau berkata duluan, “Aku iki wis luwih dhisik bosen dadi bapakmu, Le! Sakdurunge kowe isa maneni aku kaya ngene iki!”

Enthung

“Enthung, enthung, omahmu ngendi?” dengan nada penuh keingintahuan kita bertanya.

(Beberapa detik kemudian enthung-nya bergerak-gerak seperti terinduksi medan magnet. Lalu menunjuk ke suatu arah)

Tapi, pernahkah kita benar-benar mendatangi rumahnya? Tidakkah kita merasa iba kepada si enthung yang telah bersusah payah menunjukkan tempat asalnya? Lalu kenapa bertanya asal segala? Lantas, kalau sudah seperti ini, siapa yang seharusnya disalahkan?

Tolong, jangan salahkan enthung.

Masyarakat Jawa menyebut kepompong dengan enthung. Jadi, enthung adalah kepompong.

Nongkrong di Jembatan

Jembatan itu dibangun untuk dilewati beban yang berjalan. Kalau tiap sore banyak beban yang nangkring berjam-jam di atas jembatan tanpa bergerak, tidakkah kalian takut kalau…

Kalau nanti gantian jembatannya yang bergerak, biasanya akan lebih mengejutkan.