Dunia Online Tak Kenal Tanggalan

Sebuah kekhawatiran tiba-tiba muncul dari suatu hal yang mungkin tak banyak digubris oleh rekan-rekan kerja saya sebelumnya. Tepatnya, tentang ancaman penjatuhan (kembali) nama baik via media online.

Hari ini ada tonggak sejarah baru tertancap di lingkungan kerjaku. Pencerahan dari Sang Maha Kuasa muncul begitu saja tanpa kami memintanya. Sebuah kekhawatiran tiba-tiba muncul dari suatu hal yang mungkin tak banyak digubris oleh rekan-rekan kerja saya sebelumnya. Tepatnya, tentang ancaman penjatuhan (kembali) nama baik via media online.

Media online yang dulu dianggap dewa penolong dalam penyaluran segala macam informasi, kini berbalik menjadi hal yang ditakuti. Ada suatu pola pemanfaatan media sebagai ajang penjatuhan nama baik. Tak tahu siapa yang paling diuntungkan, yang jelas, ada suatu keuntungan yang didapat sesaat setelah menulis berita secara online.

Berawal dari kejadian kriminal yang kebetulan menyangkut nama institusi kami, akhirnya muncullah beberapa berita yang hingga kini kami nilai mencoreng nama baik. Berita yang semestinya sudah kadaluwarsa, muncul kembali begitu saja. Dan dapat kami pastikan akan meracuni siapa saja.

Kalau begini aturannya, menulis berita tak perlu pakai tanggalan lagi. Berita lama yang menyakitkan tetap bisa meracuni siapa saja, kapan saja, dan di mana saja.

Investasi Tanah Bisa Jadi Menyiksa Diri

Saya sependapat dengan pedoman kaum sederhana. Yakni memilih beli tanah daripada beli mobil. Apalagi hanya untuk bergaya. Selain tersiksa saat mikir uang untuk membeli, pajak per tahunnya juga mencekik si pemilik. Belum lagi masalah perawatan. Dan yang pasti adalah harga jualnya turun setiap tahun.

Beda dengan tanah. Makin hari harganya makin bertambah. Ditanami apa-apa bisa dipanen. Bisa buat persediaan makanan. Kalau lebih, bisa dibagi ke sanak famili.

Tapi,

Praktiknya tak semudah teori. Dengan iming-iming ‘hujan tak basah,┬áterik matahari tak lagi mempan’, mobil jadi tujuan utama untuk menghabiskan uang tabungan. Buat kepentingan sosial juga bisa. Untuk nambah reputasi, jelas. Sampai-sampai, kalau lihai memberdayakan, si tanah tadi bisa teraih dari hasil jerih payah si mobil.

Baiklah pembaca. Kalau sekiranya masih kuat menahan godaan kemewahan dari lingkungan sekitar, silakan tabungannya tetap disimpan untuk membeli tanah dan sawah beberapa tahun ke depan. Tapi kalau mau hidup gembira dan tetap bisa tertawa, belilah mobil mewah, rumah mewah, dan mewah-mewah lainnya. Mereka bisa jadi pemicu agar seolah-olah kita akan hidup di dunia selamanya.

Eh, tapi jangan lupa. Soalnya tak ada jaminan pula kalau para pembaca ini masih bisa hadir di sini esok hari.