Investasi Tanah Bisa Jadi Menyiksa Diri

Saya sependapat dengan pedoman kaum sederhana. Yakni memilih beli tanah daripada beli mobil. Apalagi hanya untuk bergaya. Selain tersiksa saat mikir uang untuk membeli, pajak per tahunnya juga mencekik si pemilik. Belum lagi masalah perawatan. Dan yang pasti adalah harga jualnya turun setiap tahun.

Beda dengan tanah. Makin hari harganya makin bertambah. Ditanami apa-apa bisa dipanen. Bisa buat persediaan makanan. Kalau lebih, bisa dibagi ke sanak famili.

Tapi,

Praktiknya tak semudah teori. Dengan iming-iming ‘hujan tak basah, terik matahari tak lagi mempan’, mobil jadi tujuan utama untuk menghabiskan uang tabungan. Buat kepentingan sosial juga bisa. Untuk nambah reputasi, jelas. Sampai-sampai, kalau lihai memberdayakan, si tanah tadi bisa teraih dari hasil jerih payah si mobil.

Baiklah pembaca. Kalau sekiranya masih kuat menahan godaan kemewahan dari lingkungan sekitar, silakan tabungannya tetap disimpan untuk membeli tanah dan sawah beberapa tahun ke depan. Tapi kalau mau hidup gembira dan tetap bisa tertawa, belilah mobil mewah, rumah mewah, dan mewah-mewah lainnya. Mereka bisa jadi pemicu agar seolah-olah kita akan hidup di dunia selamanya.

Eh, tapi jangan lupa. Soalnya tak ada jaminan pula kalau para pembaca ini masih bisa hadir di sini esok hari.

Sinkronisasi Cipta, Rasa, dan Karsa

Tridaya sudah tidak asing lagi di telinga kita. Tiga kekuatan yang perlu dimaksimalkan agar hidup kita bahagia. Hehehe…

Cipta, rasa, dan karsa. Penalaran, penghayatan, dan pengamalan.

Baru-baru ini saya sadari bahwa tiap-tiap komponen tridaya itu dimaksimalkan dengan cara belajar. Kalau seseorang punya keseimbangan cipta, rasa, dan karsa; maka dikatakan sudah dewasa.

Bayi yang baru lahir, sudah punya tridaya. Tapi saya yakin, ia belum bisa menalar. Kalau boleh saya bilang, penghayatan akan rasa laparnya langsung diamalkan dengan kegiatan menangis. Apapun yang ia hayati, pengamalannya adalah menangis. Sungguh tragis. Hehehe…

Lalu ia beranjak besar. Biasanya dilantunkan sebuah lagu pengantar tidur. Ada juga yang diajak putar-putar naik sepeda motor. Ini yang lagi nge-tren.

Ada satu pengalaman yang membuat saya terusik. Hehehe…

Ceritanya, waktu masih kecil, sebelum saya tidur, dilantunkanlah lagu Pamit Mulih oleh ibu saya. Lagu keroncong ini dilantunkan oleh Mbah Gesang. Begini lirik lagunya:

Lilanana pamit mulih
Pesthi kula yen dede jodhone
Mugi enggal antuk sulih
Wong kang bisa ngladeni slirane

Pancen abot jroning ati
Ninggal ndika wong sing tak tresnani
Nanging badhe kados pundi
Yen kawula sadrema nglampahi

Mung semene atur puji karya raharja
Sak pungkure aja lali asring kirim warta

Eman-eman benjang ndika
Yen ta nganti digawe kuciwa
Batin kula mboten lila
Yen ta nganti mung disiya-siya

Karena waktu itu usia saya baru 5 tahun, mungkin nalar ini sudah mulai berkembang. Namun sayang, perkembangan rasa yang saya miliki tidak sejalan dengan perkembangan nalar. Saya belum bisa menghayati lagu yang saya dengar. Akhirnya, lagu yang seharusnya dihayati sebagai lagu sedih (pamit mulih), eh, malah mendorong saya untuk tidur. Memang sangat jelas, waktu itu kondisi cipta, rasa, dan karsa saya belum seimbang.

Tahun demi tahun, saya disekolahkan. Sampai akhirnya saya bisa berpendapat seperti ini.

 

 

Salaman Salim Slamet

Judulnya mirip gaya bicara Pak Guru Bahasa Arab. Beliau sedang menerangkan akar dari sebuah kata, Salaman. Tapi maksud saya bukan itu. Saya mau cerita tentang peristiwa salaman.

Salaman adalah istilah untuk dua orang dewasa yang sedang berjabat tangan . Kalau untuk orang yang belum dewasa, biasanya diminta salim. Tadi pagi saya salim dengan Pak Slamet.

Apa saya belum dewasa? Menurut saya sih sudah. Cuma saya masih suka terlambat.

Baiklah, pembaca. Kebetulan saja Pimpinan saya namanya Pak Slamet. Setiap pagi, beliau sudah datang duluan. Begitu juga pagi ini. Akhirnya kami salaman.

Tapi salaman yang tadi rasanya berbeda. Seolah ada pesan yang ingin beliau sampaikan kepada saya.

Perlu diketahui bahwa: saya hobi terlambat. Berulang kali diingatkan oleh rekan-rekan. Bahkan seminggu yang lalu saya ditegur Pak Slamet via SMS. Intinya, beliau meminta saya untuk lebih dewasa lagi. Meminta saya untuk berpikir lebih cerdas bahwa terlambat adalah awal dari rusaknya agenda keseharian saya. Juga akan mengancam keselamatan saya jangka panjang.

Akhirnya saya simpulkan. Peristiwa salaman tadi pagi (yang agak lama durasinya itu) berisi pesan: Mas, kalau peringatan saya lewat SMS tidak mempan, sampeyan saya tegur lewat kontak batin. Semoga mujarab.

Tabung Sebagian Kosa Katamu

Sejak muncul mapel Bahasa Indonesia, ada dua sisi berbeda dalam belajar bahasa. Formal dan informal. Sayangnya saya tidak berusaha mengupas keduanya. Hehehe…

Eh, tapi ada dua tipe orang yang tidak boleh ditiru. Keduanya berkaitan dengan pola belajar bahasa. Pertama, orang yang terlalu miskin kosa kata. Kedua, kelebihan kosa kata.

Misikin kosa kata berarti punya ide banyak tapi sulit mengungkapkan. Yang kaya kosa kata, idenya satu penjelasannya banyak.

Posisi saya saat ini sedang kebanyakan tingkah. Membuat tulisan yang sulit ditemukan manfaatnya. Hehe…

Pindah Sekolahkan Anakmu

Anak-anak sangat suka meniru-niru. Sering pula diikuti dengan kebiasaan minta dibelikan sesuatu (yang menurutnya baru).

Meniru cara bicara temannya. Meniru beli mainan yang belum ia punya. Ingin punya sepatu bola seperti temannya. Bahkan minta dibelikan sesuatu barang yang belum pernah ia ketahui sebelumnya (baru diberi bayangan oleh guru di sekolahnya).

Intensitas kegiatan meniru-niru ini, dipengaruhi oleh lingkungan. Paling berperan lagi adalah teman bermain, teman sekolah, dan gurunya.

Perlu diketahui, barang yang sedang nge-tren di tiap-tiap lingkungan itu berbeda. Kadang-kadang ada barang yang sedang nge-tren di suatu tempat, ternyata sudah tidak digemari lagi di tempat anak Anda sekolah. Atau malah barang itu dianggap tidak penting bagi teman sekelasnya. Bahkan, belajar adalah barang paling penting yang diyakini oleh teman sekolah (baru) anak Anda.

Dengan kecermatan, Anda bisa menemukan dan memilih lingkungan terbaik untuk anak. Lingkungan yang berpotensi kecil dalam hal menyulut intensitas kegiatan meniru-niru. Maka saya sarankan: Pindah sekolahkan anakmu!

Rayuan Si Tukang Pangkas Rambut

Saya habis potong rambut. Bukan di tempat biasanya. Ini terjadi karena saya keceplosan memuji model rambut seorang teman. Akhirnya, secara suka rela ia mengajak saya ke tukang pangkas rambut yang biasa ia datangi. Jujur saja, akhir ceritanya nanti, saya berhasil potong rambut dengan embel-embel gratis.

Tapi di balik gratisan itu, banyak hal menarik yang bisa saya ceritakan. Mulai dari tempat potong rambut yang tidak permanen, sampai rayuan maut si tukang pangkas rambut.

Langsung setelah pujian saya tadi terlontar, ia mengajak menuju tempat itu. Tepat di sebelah barat terminal bus. Hanya kios sederhana. Beratapkan seng, berdinding kain warnanya hijau muda. Tulisan di kain hijau itu warnanya merah. Resmi kelihatan tempat cukur ndeso. Papan nama 50 x 50 cm terpasang agak miring. Menambah kegelisahan.

Untung saja tidak pakai antri. Tapi ini makin membuat saya gelisah. Jangan-jangan saya diantar ke tempat potong rambut yang salah.

Singkat cerita, ternyata si tukang pangkas rambut ini asli Jakarta. Pernah kursus sama hairstylist ternama di Indonesia. Sayang, ijazahnya ikut terbakar saat tragedi 1998. Saya yakin dengan pengakuannya.

Beberapa kata mutiara darinya adalah:

  1. Mas, motong rambut itu tidak seperti motong kertas. Rambut itu bisa tumbuh, Mas. Saya bisa memprediksikan bentuk rambut sampeyan 3 hari ke depan. Ini yang membedakan saya dengan tukang potong rambut yang lain.
  2. Mas, saya ingat betul pesan guru saya. Lebih baik pelan-pelan tapi pelanggan puas, daripada kejar setoran tapi esok hari gak ada yang datang lagi.
  3. Mas, rambutmu empuk. Ini pakai minyak yang 4 ribuan, ya? Saya jualan minyak yang 12 ribuan. Kalau Mas mau, besok saya bawakan.
  4. Mas, kalau pakai minyak rambut saya yang 12 ribuan, nanti pas tua gak tumbuh uban.
  5. Mas, lekukan di dahi seperti ini jarang yang punya, lho.
  6. Mas, sayang sekali. Potongan rambut sampeyan yang sebelumnya ini tidak teratur. Untuk kesempatan ini, saya betulkan dulu saja, ya. Kalau nanti ke sini lagi, Mas baru bisa minta model.
  7. Tapi harus rutin. Kalau setelah dari sini sampeyan ke tempat potong rambut yang lain, ya saya harus mengulangi lagi perbaikannya. Baru nanti sampeyan bisa minta dipangkas model apa pun.
  8. Meski saya yakin akan ke-profesionalan saya, tapi saya tetap tahu diri, Mas. Itu, lihat saja papan namanya. Saya cuma nulis Tukang Potong Rambut Theo (namanya). Sebenarnya, kalau nanti tempatnya sudah permanen, saya mau pasang papan nama Bengkel Ganteng.

Saya sadar kalau sedang dirayu. Tapi hasil pangkas yang memuaskan, menghapus segala kecurigaan. Terlebih lagi, untuk hasil yang sebagus ini, saya tidak mengeluarkan uang sepeser pun. Saya ikhlas mendengarkan rayuan Si Tukang Pangkas Rambut. Menurut saya, ia salah satu dari sekian banyak tokoh yang sebenarnya masih bisa dibanggakan di negeri ini. Hehehe…

Pangkas rambut dan potong rambut itu menurut saya sama saja.

 

Menuju Kemajuan

Saya tahu, saodara-saodara tak suka sama mereka yang banyak berteori. Mereka akan tetap gembredek ketika ada percobaan yang masih bisa dijelaskan dengan teori lama.

Maka dari itu, segeralah kerja keras. Mari kita lakukan percobaan-percobaan baru yang tidak bisa dijelaskan oleh mereka. Saat inilah kemajuan dikatakan terjadi.

Sayangnya, ini teori lama. Hihihi…

Memilih Jurusan Kuliah

Bagi yang sedang bingung menentukan pilihan, segera saja ambil keputusan. Hehehe…

Menurut pengalaman yang sudah-sudah, jurusan kuliah sarat dengan keberuntungan. Kalau memang suka sekali dengan salah satu jurusan, kemungkinan besar bisa diterima. Yakinlah.

Selain itu juga didasarkan pada hasil tes kemampuan akademik. Boleh juga dari hasil tes IQ. Lihat saja pada kolom jurusan yang disarankan. Itu sudah lebih dari cukup untuk pertimbangan memilih jurusan kuliah.

Tren terbaru saat ini, jurusan kuliah adalah urusan nomor sekian. Yang paling penting adalah status mahasiswa segera digenggam. Dengan begitu, saat nanti berurusan  dengan birokrasi di negeri ini, biasanya dapat kemudahan.

Apa pun jurusan kuliahnya, yang penting Anda suka.

 

 

Mbah Putri Baju Oranye

Sinar Keduwang, turun. Lurus terus sampai ketemu jembatan. Rumah kedua setelah jembatan, sebelah utara jalan. Di situ ada Mbah Putri yang kemarin bajunya oranye. Tiap saya lewat, kebetulan saja sedang duduk santai sambil ber-mbako ria.

Saya bisa memastikan beliau tidak punya akun FB. Kalau sampai punya, para pecinta status bebau menyedihkan pasti akan segera punah.

Sebab Mbah Putri itu akan update status begini, “Ndhuk, Le. Umurku nganti tekan sak mene iki ora merga kakehan dhuwit. Tuwekku sak mene isih seger nyumet mbako, ora merga bandha donya. Aku awet urip merga yen pas gela, tak peksa tetep seneng. Siji welingku, sing entheng aja digawe abot. Perkara cilik aja digedhek-gedhekne. Apa meneh nganti ditulis dadi status neng efbe.”

Orang Besar Beneran

Kegiatan pembagian sesuatu di negara ini sering membuat marah beberapa pihak. Apalagi di daerah perbatasan. Kalau kulon kali sudah dibagi sedangkan etan kali belum, mulailah kecemburuan itu.

Banyak tudingan muncul. Mulai dari menyalahkan pejabat etan kali yang dirasa kurang profesional, sampai keinginan untuk berontak. Kalau perlu dicopot saja pejabatnya.

Ini baru saja terjadi. Namun sekali lagi, keberuntungan masih di tangan saya.

Saya sempatkan berpikir dua kali. Apakah dengan pemberontakan itu bisa menyelesaikan masalah? Jangan-jangan kondisi negara yang seperti sekarang ini bermula dari pemberontakan yang hampir saya lakukan tadi?

Karena banyak orang besar yang tidak punya masalah besar, akhirnya masalah kecil sering dibesar-besarkan. Sebagai orang kecil, marilah masalah yang besar-besar ini kita perkecil. Biar kita bisa cepat menutupi kekurangan mereka.