Mitos Anak Gimbal di Dieng

Waktu itu saya melihatnya sendiri. Ini tidak sekedar Mitos Anak Gimbal di Dieng. Tapi benar-benar saya sudah melihat Anak Gimbal di Dieng.

Konon, beberapa tahun yang silam, ada cerita tentang ketertarikan seorang anak yang tinggal di Wonogiri. Sebuah kota yang terkenal dengan gapleknya. Singkong dari Wonogiri memenuhi hampir 10% kebutuhan bahan baku penganan singkong di Indonesia. Begitu prediksi saya. 😀

Maaf ya ngelantur sampai mana-mana.

Kembali ke cerita yang sesuai dengan judul. Saya tertarik dengan cerita Anak Gimbal di Dieng.

Saya melihat sendiri Anak Gimbal di Dieng. Begitu juga Anda. Anak Gimbal sebagai subyek. Di Dieng sebagai keterangan. Ini semua cukup membuktikan keberadaannya.

Jujur saya merasa takut mencari informasi lebih lanjut tentang Anak Gimbal di Dieng ini. Maka dari itu, untuk lebih jelasnya, silakan Anda searching lagi informasi yang lebih akurat dan terpercaya. Terima kasih sudah membaca. 😀

Ampak-ampak Singgelapura

… maka boleh dibilang lakon kethoprak itu memuat sayembara yang disayembarakan…

Ampak-ampak Singgelapura merupakan sebuah lakon kethoprak yang terkenal di era 90an. Tepatnya pada tahun 1990, sebuah media cetak memuat cerita tersebut. Selain sebagai pelipur lara, juga menjadi sebuah strategi pemasaran koran yang menekankan pada penyesuaian konten dengan emosi para pembaca.

Kala itu, berita kekalahan Irak atas Amerika membuat pembaca malas membeli koran. Akhirnya disisipkanlah cerita tersebut secara bersambung. Untuk lebih menarik perhatian, dibuatlah sayembara dengan total hadiah mencapai ratusan juta.

Berdasarkan sumber yang kurang dipercaya, Ampak-ampak Singgelapura bercerita tentang perebutan putri mahkota (sapa ngono jenenge) oleh beberapa ksatria. Dan akhirnya ada salah satu dari mereka yang berhasil memenangkan sayembara perebutan putri mahkota itu.

Jika gambaran umum cerita yang saya tulis di atas benar, maka boleh dibilang lakon kethoprak itu memuat sayembara yang disayembarakan. 😀

Referensi: https://thedahlaniskanway.wordpress.com/2013/03/17/ketoprak-sayembara-pelipur-lara/

Enthung

“Enthung, enthung, omahmu ngendi?” dengan nada penuh keingintahuan kita bertanya.

(Beberapa detik kemudian enthung-nya bergerak-gerak seperti terinduksi medan magnet. Lalu menunjuk ke suatu arah)

Tapi, pernahkah kita benar-benar mendatangi rumahnya? Tidakkah kita merasa iba kepada si enthung yang telah bersusah payah menunjukkan tempat asalnya? Lalu kenapa bertanya asal segala? Lantas, kalau sudah seperti ini, siapa yang seharusnya disalahkan?

Tolong, jangan salahkan enthung.

Masyarakat Jawa menyebut kepompong dengan enthung. Jadi, enthung adalah kepompong.

Mempercepat Pertumbuhan Kumis

Kumis yang ia dambakan kini terwujud sudah. Setelah beberapa bulan menanti, kini panjangnya sudah mencapai 3 inchi. Cukup panjang untuk ukuran kumis pria normal di desa sini.

Meski belum bisa menyaingi kumisnya Mbah Fu Manchu, tapi Pak Wira cukup terlihat wagu.

Kali ini usahanya terbilang berhasil. Pasalnya, sudah berulang kali ia mencoba memanjangkan kumis. Tapi selalu gagal. Terakhir kalinya, seingat saya, ia gagal karena hal yang cukup sepele.

Setahun yang lalu, kumis Pak Wira sudah mencapai 1,5 inchi. Wati, yang saat itu masih berusia 5 tahun sedang ada di pangkuannya. Pagi yang cerah membuatnya ingin berjalan-jalan sambil mengajak Wati. Sampai di depan rumah Mbah Cip, Wati menangis. Dokar milik Mbah Cip yang waktu itu belum dijual telah merampas semua perhatian Wati.

Mampirlah Pak Wira ddan Wati di rumah Mbah Cip.

Setelah mendudukkan Wati di atas dokar, lantas Pak Wira jagongan dengan yang punya rumah. Obrolan makin asyik ketika sepe goreng dihidangkan oleh Mbah Yem.

Tersingkatlah cerita ini.

Sedang enak-enaknya makan sepe goreng, Wati menjerit kesakitan, “Wadhuh, Pakeee Wir! Wiraaa!”

Dengan gragapan Pak Wira mendekati sumber suara. Naluri seorang ayah terlihat jelas saat adegan itu. Tapi, Mbah Cip menghadang langkahnya.

Aja nyedhak, Wir! Yang njerit tadi bukan Wati!” kata Mbah Cip sambil memegang tangan Pak Wira.

Pripun ta, Mbah? Lha wong jelas yang duduk di dokar cuma Wati. Nanti kalau kenapa-kenapa, bagaimana horok?” Pak Wira mulai gugup.

“Potong kumismu! Itu satu-satunya cara biar yang menjerit tadi tak kesakitan lagi.”

Alah yung, biyung… Hubungannya apa, Mbah?” Pak Wira menggerutu.

“Jiwamu merasa kesakitan atas kesombongan yang selama ini bersarang di tiap helai kumismu itu, Wir! Ia tak mampu menjerit sekeras tadi tanpa perantara Wati. Anakmu…”

Wadhuh, Pakeee Wir! Wiraaa!” Wati menjerit lagi.

“Cepet potong, Wir!”

“Tapi, Mbah…”

Alah, kesuwen!”

Kres!
(Cuthel)

Maaf, Aku Tidak Tahu

Jangan ragu untuk menjawab ‘tidak tahu’. Kalau ingin yang lebih elegan, bisa bilang gini, “Maaf, itu bukan kapasitas saya.”

Saya tidak malu kalau harus bilang tidak tahu. Aku ora ngerti. Sori, aku ora mudheng. Karena Mbah Guru berpesan, “Wong ora mudheng kuwi asline wis nate sinau. Mung wae, durung teka titi wancine ngerti.

Jika kita terlanjur paham bahwa masyarakat ilmiah itu terdiri dari komunitas homogen yang berpredikat ngerti/mudheng, maka sudah selayaknya paradigma itu kita ubah. Karena tidak bisa kita pungkiri, saat ini, di sudut-sudut kampung ilmiah, banyak diisi oleh golongan minoritas yang menghargai ketidaktahuan sebagai proses ilmiah.

Kesimpulannya, kalau merasa benar, belum tentu lebih tinggi predikatnya daripada mereka yang tidak tahu. grin emoticon

Pendataan Peserta UN

Pendataan Dikmen sedang ramai dibicarakan. Utamanya oleh operator sekolah, baik SMA maupun SMK. Sisi positif pendataan ini sangat banyak. Pastinya, jika agenda pendataan ini berjalan sukses, peta persebaran Peserta Didik, Pendidik, dan Tenaga Kependidikan akan terlihat dengan jelas. Kebijakan pun dapat diambil dengan tepat.

Sisi negatif dari pendataan ini juga ada. Coba kita ingat kembali Pendataan Dikdas 2012 yang telah dirilis lebih awal daripada Pendataan Dikmen. Banyak sekali Operator Dapodikdas yang berkeluh kesah. Hal ini disebabkan oleh aplikasi Dapodikdas yang dulu memiliki banyak masalah. Belum lagi masalah sinkronisasi yang bersamaan, sehingga menyebabkan server pusat menjadi down. Operator pun sulit melaksanakan tuntutan sinkronisasi data.

Pengertian pendataan sendiri dapat diartikan sebagai pen·da·ta·an n 1 proses, cara, perbuatan mendata; 2 pengumpulan data; pencarian data. Pegertian ini didapatkan dari http://kbbi.web.id/data.

Perlu diketahui pula bahwa kecenderungan masyarakat kita, jika dimintai data pasti berharap ada sesuatu yang akan dibagikan kepadanya. Entah budaya itu warisan dari mana, yang jelas, masyarakat menganggap pendataan diartikan sebagai suatu kegiatan pemetaan. Yang berujung dengan pembagian sesuatu. Bisa uang, sembako, pakaian, santunan, dan kartu jaminan. 😀

Formulir pendataan banyak macamnya. Mulai dari pendataan Peserta Didik, Pendidik, dan Tenaga Kependidikan. Yang saya ketahui banyak, formulir pendataan UN siswa SMK. Ini penting sekali. Sebab, sebelum muncul Daftar Nominasi Sementara (DNS) Peserta UN 2014/2015, formulir pendataan itu digunakan sebagai acuan utama kebenaran data. Kalau sampai ada siswa yang belum mengumpulkan formulir pendataan UN, wah, Operator Dapodikmen pasti kalang kabut.

Info pendataan merupakan kata kunci utama para operator Dapodikdas. Bukan Dapodikmen. Soalnya, situs web resmi Pendataan untuk SD dan SMP namanya Info Pendataan – Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Alamatnya di dapo.dikdas.kemdikbud.go.id/ , coba saja kalau tidak percaya.

Pendataan Dikdas sudah saya singgung di atas tadi. Jadi, saya kira tidak perlu saya perpanjang lagi. Ini tema yang amat krusial.

Pendataan siswa. Ehm, pendataan siswa ini saya kira masih terlalu umum. Maksudnya, bisa saja kan pedataan siswa ini bertujuan untuk beberapa hal. Coba kita urutkan sejak awal: pendataan siswa baru, pendataan siswa peserta MOS, pendataan siswa peserta ekstrakurikuler, pendataan siswa peserta Ujian Mid Semester Gasal, pendataan siswa peserta Ujian Semester Gasal, pendataan siswa peserta Ujian Mid Semester Genap, pendataan siswa peserta Ujian Semester Genap, baru kemudian Pendataan siswa peserta Ujian Nasional. Nah, banyak sekali, kan? Mau pilih yang mana sekarang? Yang jelas dong kalau jadi orang. Kalau kebanyakan gini kan saya yang jadi bingung.

Akhirnya, informasi yang sangat mengejutkan adalah: Pendataan UN Tahun Pelajaran 2014/2015 berakhir pada tanggal 31 Desember 2014.

Apa (itu) Arti Hidup

Rekan-rekan saya, teman dunia maya yang saya hormati.

Perkenankan saya mengucapkan sepatah dua patah kata sebagai wujud apresiasi. Ini erat kaitannya dengan sepak terjang kalian. Khususnya, dalam mempengaruhi kehidupan saya. Perihal menemukan apa itu arti hidup.

Kawan, aku ingat benar waktu itu. Sebelum aku mengenal kalian. Aku selalu kesulitan ketika ditanya apa itu arti hidup. Kadang kala, atau bahkan sering kali hanya kujawab dengan menyebutkan ciri-ciri makhluk hidup.

Tapi semenjak aku mengenal kalian, aku sadar, hidup itu bukan bernapas. Bukan pula makan atau cukup dengan berkembang biak. Satu lagi, salah besar jika hidup hanya diartikan sebatas mengeluarkan zat sisa.

Sungguh, aku sangat berterima kasih kepada kalian. Dengan interaksi yang intens dan terus menerus, akhirnya aku bisa menemukan apa itu arti hidup. Meskipun demikian, aku belum bisa mengungkapkannya sekarang. Entah kapan, aku juga belum mengerti.

Mungkin tak banyak yang dapat aku tuliskan. Jika ada salah kata, mohon dimaafkan. Sekian.

PAYUNG PELANGI

Sore tadi.

Sekian lama tak kupakai, payung pelangi kupinta menemaniku lagi. Menerjang derasnya hujan. Menapaki jalanan sunyi Dusun Dongol nan angker dan medeni.

Tibalah aku di bawah rerimbunan papringan milik Mbah Sular. Payung pelangi yang kupegang bergerak-gerak. Aku sendiri merasakan energi negatif yang mempengaruhinya.

Benar ternyata. Tak lama kemudian ia meronta. Ia makin lupa diri. Ingin sekali ia lepas dari genggaman tanganku ini. Sekuat tenaga kumenahan kehendaknya. Aku mobat-mabit kesana-kemari. Gapit pager patah berkeping-keping tertimpa badanku. Tanah di sekitarku makin mblethok saja. Peluran PNPM kini tak bersih lagi. Payung itu memporak-porandakan setiap sudut papringan milik Mbah Sular.

Aku tidak menyerah. Kubacakan mantra dari guruku. “Sil sil kwaci enak disisil. Kir kir sumingkira badan alus kang nguwasani ragane si payung iki! Ciyaaattt!” Dikombinasikan dengan Jurus Naga Gana, akhirnya aku bisa menguasainya.

Aku berhasil me-ngeplek-kan payung itu ke tanah. Lalu ia tersungkur.

Anehnya, selang beberapa detik, ia mingkup dengan sendirinya. Lalu membuka lagi. Berulang-ulang. Seolah mengejekku.

Sebentar kemudian ia berdiri. Mengambang di atas tanah sekitar satu meter.

Kugunakan Jurus Seribu Bayangan. Ratusan ragaku yang hanya duplikat itu berhasil mengecoh pengelihatannya. Lalu ragaku yang asli dengan sigap mencekik lehernya.

Tapi sayang. Jurus Ular Putih yang ia miliki berhasil mengelabuhiku. Payung pelangi mlurut dari genggamanku. Ia terbang. Menembus rerimbunan daun bambu hitam milik Mbah Sular. Mereka berguguran bagai tersengat panas bara api membara. Tetes-tetes air hujan minggir sejenak. Memberi jalan kepada payung pelangi yang akan mencapai kesejatiannya.

Tiba-tiba cahaya matahari menyelinap dari arah barat. Menggusur awan hitam nan pekat. Sisa-sisa air hujan yang masih nekat turun seolah berteriak keras, “Berbahagialah duhai payung pelangi. Wujudmu kini tak lagi bisa didekap oleh siapa pun. Termasuk Heri,”

Aku tertunduk lesu. Kuletakkan lututku di peluran PNPM. Meski berat, kuberusaha menengadah. Melihat kesejatian payung pelangi. “Meski kau kini telah sejati, tapi wujudmu tak nyata lagi. Tak seperti payungku yang kugenggam setengah jam tadi,”

Dua Tipe Paranormal

Sejauh ini saya melihat ada dua jenis paranormal:

Tipe Langsung

Paranormal tipe ini punya sebuah senjata pakem. Bisa berupa mantra, ritual, atau benda (jimat) apa pun. Ketika dibutuhkan langsung digunakan. Tanpa ia berlagak sok tahu tentang hasil yang akan didapatkan. Pada saat praktik pun, ia tak bergaya layaknya paranormal yang normal. Ia hanya sebatas membaca mantra yang sudah dihafalkan. Mempraktikkan ritual yang sudah dihafalkan. Me(…), ngempakne benda yang ia miliki. 😀

Pokoknya, tipe ini cenderung bersikap dingin. Ia tak mau tahu tentang hasilnya. Misalkan diminta mencari orang hilang, ya sudah. Setelah menggunakan senjata pakemnya tadi, selesai.

Tipe Tidak Langsung

Tipe yang satu ini tidak punya pakem. Bisa dibilang, ia sedikit menguasai ilmu psikologi pendidikan. Lebih tepatnya ilmu perkembangan peserta didik. Ia sangat lihai dalam mengalihkan perhatian. Ketika diminta untuk menyelesaikan suatu masalah, langkah pertama adalah menenangkan pasien. Tak memiliki cara pakem. Strateginya selalu berganti. Disesuaikan dengan usia pasien.

Kalau pasien sudah tua, biasanya diberikan kalimat-kalimat yang halus. Kedengarannya nyaman. Menguatkan semangat.

Kalau masih kecil, malah dibentak. Biar takut dan jera. Kemudian lupa dengan masalahnya.

Nah, tentang hasil yang akan didapatkan, paranormal tipe ini cenderung sok tahu. Meskipun nanti hasilnya berbeda dengan yang diprediksikan, pasien tetap ingin kembali meminta jasanya. Soalnya terlanjur ketagihan dengan suasana nyaman yang diberikan oleh si paranormal tadi. Intinya, paranormal tipe ini lebih cocok jadi motivator.

 

Soal mencari uang, orang normal juga punya beberapa tipe. Dua diantaranya mirip dengan paranormal. Pertama, ia bekerja dengan pakem. Tak memikirkan hasil. Kedua, bekerja dengan banyak berpikir tentang hasil. Meski kadang prediksi pendapatan sering mleset, tetap saja banyak pertimbangan.

Silakan mau pilih yang mana. Paranormal, normal, atau abnormal?