Sepertinya Saya Tidak Punya Jiwa Seorang Guru

Jiwa seorang guru dibangun oleh beberapa tiang penyangga. Satu diantaranya adalah perasaan terpanggil untuk meluruskan jalan anak didiknya; jika ternyata sedang melenceng atau bahkan terlanjur keblasuk. Caranya dengan memberikan informasi yang cukup, mudah diterima, dan efektif.

Panggilan jiwa seorang guru untuk memberikan informasi yang cukup tidak bisa dinilai sencara kuantitatif. Seberapa banyak kata dalam sebuah petuah yang ia paparkan, tak ada seorang pun yang bisa menilainya. Kalau ada yang bisa menentukan batas minimal jumlah kata per pepatah per hari yang harus disampaikan oleh seorang guru, maka niscaya orang itu sudah diambang keambiguan.

Upaya guru dalam memberikan informasi, tak bisa dipandang sama. Mudah atau sulit informasi itu diterima, banyak faktornya. Standardisasi atas suatu bentuk informasi mustahil dilaksanakan. Karena informasi dalam arti sebuah pepadhang bukan sekedar susunan kata-kata biasa. Anggukan kepala bisa jadi lebih mudah diterima daripada penjelasan panjang lebar yang tidak sesuai dengan kebutuhan anak didik.

Efektivitas informasi yang disampaikan guru dapat dilihat dari perubahan kebiasaan. Jika ada perubahan yang signifikan, maka nilai efektivitasnya tinggi. Apa itu perubahan? Perubahan adalah sebuah perbandingan dua kejadian. Jika perbedaannya mencolok, semisal mula-mula diam lalu tertawa, inilah wujud asli dari sebuah perubahan.

Mempertahankan Idealisme dengan Realistis

Idealisme banyak diajarkan di sekolah. Tapi cara mempertahankannya sangat jarang disinggung, apalagi dijelaskan.

Lalu muncullah banyak orang yang terkesan merelakan idealismenya runtuh karena terbentur oleh realitas yang mereka hadapi. Masih untung sebagian dari mereka bisa lupa bahwa dulu pernah mempertahankan idealisme sampai mati-matian. Tapi, ada juga yang terbebani oleh keputusan mereka mengakhiri idealismenya.

Apapun itu, memang baiknya seimbang. Idealisme diperjuangkan wajar-wajar saja. Asalkan tidak lupa bahwa kita perlu menikmati realitas; saat demi saat yang kita temui.

Diingatkan Tuhan

Gonjang-ganjing suasana sekitar, membuat hati ini tak tenang. Bisa dibilang, ini kondisi paling parah yang selama ini saya alami. Sepanjang jalan, darah penjuang keadilan dan kebenaran mengalir tiada henti. Rumah dan sarana umum rata dengan tanah. Senjata perang hampir habis stoknya. Tapi itu semua itu belum bisa menebus kemenangan yang diharapkan oleh pihak kami. Sebab, teguran Tuhan tidak pernah kami hiraukan selama ini.

(Alhamdulillah, bisa memulai dengan paragraf hiperbola) 😀

Memang benar. Jika ada yang mengatakan bahwa Tuhan selalu mengingatkan hambanya dengan caraNya sendiri. Saya sudah berulang kali diingatkan olehNya. Dengan cara yang tidak biasa. Meski saya masih sering ngeyel dan tidak bisa menguasai diri.

Mari, sejenak menyelam ke dalam kehidupan pribadi saya. 😛

Anda bayangkan saya sedang bimbang. Menghadapi dua kutub yang saling serang. Saya ada di tengahnya.

Bukan, saya bukan penengah.

Lebih tepatnya, saya adalah anak buah dari kedua kutub tersebut.

Saya tidak mau dibilang plin-plan. Sehari ikut sana, besok ikut sini. Karena perlu Anda ketahui, bahwa kewajiban saya yang utama adalah bekerja sesuai perintah kedua pihak tersebut. Itu ada hitam di atas putihnya. 😀

Kita sebut saja pihak A dan pihak B. Keduanya berada pada himpunan semesta S. 😛

Saya bertanggung jawab atas kesuksesan program kerja pihak A. Di sisi lain, banyak sekali program kerja pihak B yang wajib saya sukseskan. Di sisi yang lainnya lagi, pihak A dan B saling menjatuhkan. Jika program A mapun B sukses, semesta akan hancur. 🙁

Sebenarnya, keterkaitan antara A, B, saya, dan S lebih rumit lagi. Tidak sederhana seperti apa yang saya tulis di atas. Tapi, daripada saya ingat lagi dengan beban hidup saya, lebih baik saya tulis dengan lebih sederhana.

Akhirnya, saya bingung mencari tempat bergantung.

Hari pertama, saya menyadari ancaman dari kedua pihak.

Hari kedua, saya memutuskan ikut pihak A.

Hari ketiga, saya yakin ikut pihak B.

Hari keempat, saya tidak memihak A dan B, tapi ikut semesta.

Hari kelima dan keenam saya bimbang tak karuan.

Hari ketujuh, saya mendapat petunjuk untuk bergabung ke dalam lindungan Tuhan.

Hari-hari saya berikutnya berjalan dengan lancar. Tiada lagi gambar-gambar kehancuran semesta yang selalu terbayang sebelumnya. Karena saya yakin, keberpihakan yang bersifat mutlak hanya kepadaNya. Selain itu, hanya sebatas profesionalitas dan proporsionalitas kerja. Hasilnya, terserah Tuhan.

Membalas Isu dengan Tindakan Nyata

Belajar dari banyak kejadian, akhirnya saya memilih untuk lebih banyak diam. Banyak hal yang perlu dipertimbangkan sebelum banyak bicara. Karena beberapa kata yang ditautkan bersama bisa mengandung banyak makna. Padahal, banyak sekali pendengar yang merasa bebas mengartikan makna kata per kata yang mereka rekam dengan kuping masing-masing.

Banyak kata banyak. 😀

Ada sebuah sebab dari munculnya bahan pembicaraan. Tentang perbuatan saya mencuri, misalnya. Bisa saja kemarin itu, saya langsung menyangkal bahwa saya tidak mencuri. Tapi apakah mereka langsung percaya? Kalau pun ada, orang itu pasti sangat suka dengan saya. Namun sayang, orang yang benci kepada saya jumlahnya lebih banyak. Akhirnya energi saya terbuang sia-sia demi mempersiapkan susunan kalimat-kalimat sangkalan.

Berbeda ketika saya membuktikan sendiri di depan mata kepala oarng lain. Bahwa saya tidak mencuri. Atau saya berusaha mencari si pencuri yang sebenarnya. Atau kalau memang saya mencuri, lalu saya benar-benar menghentikan kebiasaan saya mencuri. Tanpa sepatah kata pun, mereka yang semula yakin bahwa saya pencuri, pasti akan percaya kalau saya bukan pencuri.

Akhirnya, membuktikan dengan tindakan nyata itu bisa menjadi senjata pamungkas. Ampuh tak tertandingi. Bisa dimiliki oleh siapa saja. Berita se-ngeri apa pun, tak perlu dibalas dengan berita lain yang lebih ngeri. Cukup dengan menyangkal fakta yang secara tidak sengaja telah diopinikan miring oleh orang lain; berwujud tindakan nyata.

Eh, misal fakta yang disebarluaskan itu benar-benar fakta, langkah perubahan nyata masih tetap terasa ampuhnya. Reputasi kembali naik, nama baik kembali dapat dimiliki.

Biarkan Terjadi Konflik

Sering kita berada di sekitar orang yang sedang konflik. Entah di rumah, lingkungan, maupun tempat kerja.

Tapi, seuntung-untungnya orang yang sedang berkonflik, masih untung orang netral yang ada di sekitarnya. Mereka bisa mengambil pelajaran dari kemunculan konflik itu.

Hingga pada akhirnya nanti, kedamaian surga menghampiri kita. Kedamaian yang berupa ketidakmunculan sebuah konflik pun.

Dan satu dari sekian banyak surga dunia adalah pengelolaan konflik yang berjalan baik. Mulai dari pencegahan, penanganan, hingga pemulihan konflik.

Itu semua bisa diteliti dan dipersiapkan rancangannya jika model dan macam-macam konflik terus muncul bertubi-tubi.

Jadi, biarkan saja konflik terua terjadi. Asalkan kita bisa meneliti dan memaknai pesan yang termuat di dalamnya.

Dunia Online Tak Kenal Tanggalan

Sebuah kekhawatiran tiba-tiba muncul dari suatu hal yang mungkin tak banyak digubris oleh rekan-rekan kerja saya sebelumnya. Tepatnya, tentang ancaman penjatuhan (kembali) nama baik via media online.

Hari ini ada tonggak sejarah baru tertancap di lingkungan kerjaku. Pencerahan dari Sang Maha Kuasa muncul begitu saja tanpa kami memintanya. Sebuah kekhawatiran tiba-tiba muncul dari suatu hal yang mungkin tak banyak digubris oleh rekan-rekan kerja saya sebelumnya. Tepatnya, tentang ancaman penjatuhan (kembali) nama baik via media online.

Media online yang dulu dianggap dewa penolong dalam penyaluran segala macam informasi, kini berbalik menjadi hal yang ditakuti. Ada suatu pola pemanfaatan media sebagai ajang penjatuhan nama baik. Tak tahu siapa yang paling diuntungkan, yang jelas, ada suatu keuntungan yang didapat sesaat setelah menulis berita secara online.

Berawal dari kejadian kriminal yang kebetulan menyangkut nama institusi kami, akhirnya muncullah beberapa berita yang hingga kini kami nilai mencoreng nama baik. Berita yang semestinya sudah kadaluwarsa, muncul kembali begitu saja. Dan dapat kami pastikan akan meracuni siapa saja.

Kalau begini aturannya, menulis berita tak perlu pakai tanggalan lagi. Berita lama yang menyakitkan tetap bisa meracuni siapa saja, kapan saja, dan di mana saja.

Realitas yang Pahit

Pahit, sungguh pahit.

Ketika itu, anak-anak sedang bermain di taman. Lalu aku menyuruh mereka memasuki ruangan, “Ayo anak-anak, masuk kelas! Kita dikejar target,” aku melihat jelas raut muka kekecewaan di wajah mereka. Tapi kalimat perintahku belum bisa berhenti, “ayo, agak cepat! Hari ini kita menyocokkan PR yang kemarin!”

Lega rasanya satu per satu dari mereka mau mengikuti perintahku. Kami pun memulai ritual belajar mengajar seperti sedia kala.

“Baik, soal nomor satu, ya. Terdapat 5 lampu masing-masing 10 Watt, menyala 1 jam setiap hari, hitung biaya yang harus dibayar dalam satu bulan, jika biaya per kWh Rp 100,00!”

Tak kusangka ada seorang siswa yang mengangkat tangannya, “Pak, mohon maaf,”

“Iya, Min, ada apa?”

“Kata ayah saya, nanti kalau sudah besar, kita bertemu banyak pertanyaan tentang biaya,”

“Maksudmu bagaimana?”

Mbok ya kita di kasih bocoran pertanyaan-pertanyaan tentang biaya yang benar-benar akan kita temui,”

“Bisakah kamu memberikan satu contoh? Pasti kamu sudah dapat bocoran dari ayahmu, kan?”

Min membuka tasnya. Terlihat ia mencari sesuatu. Setelah ketemu, lalu ia mengambilnya, “Ini, Pak. Sudah ketemu,” ia menunjukkan secarik kertas, lalu membaca tulisannya, “Bagaimana caranya memutar uang satu juta?”

Kemudian ia menegaskan lagi. Bahwa pertanyaan-pertanyaan semacam itulah yang sering ditemui orang dewasa.

7 Keajaiban yang Belum Pernah Terjadi

Tentang judul di atas, jujur saya sampaikan bahwa saya tidak berbohong. Karena keajaiban itu belum terjadi, memang tidak seharusnya saya sampaikan di sini.

Satu hal yang lebih penting, saya baru saja menggagalkan rencana Pak Tarwadi update status. Padahal sudah banyak sekali tulisannya. Tapi apa yang beliau katakan? “Tidak apa-apa. Mungkin sebaiknya memang tidak diterbitkan,”

Senang sekali jika semua orang bisa begitu. Kalau belum diizinkan terjadi, kenapa harus memaksakan diri?