Dunia Itu…

Kata Mbah Kyai, tiada yang lebih nikmat di dunia kecuali tidur.

Bayi nangis kekejer (sangat keras) karena kelaparan. Setelah menunggu beberapa lama, makanan pun datang. Sayang, ia terlanjur ngantuk akibat kelelahan nangis tadi. Dibangunkan dengan cara apa pun, tak mau bangun.

Acara televisi semenarik apa pun, lebih milih tidur kalau sudah ngantuk.

Pengantin baru mana yang bahagia saat malam pertamanya didera ngantuk? Bukankah lebih bahagia kalau tidur saja?

Dan masih banyak lagi.

Mbah Kyai juga menambahkan. Ngantuk yang ditidurkan, layaknya sakit yang terobati. Kebelet buang hajat yang dilanjutkan pergi ke WC, adalah sakit yang terobati. Dan masih banyak lagi.

Jadi, dunia itu bahagia jika penuh sakit yang terobati. Salah kalau kita ndhak mau sakit. Tambah salah kalau kita ingin sakit terus.

Aku Wedi Karo Bapakku

Aku wedi karo bapakku wiwit cilik nganti saiki.

Pernah aku ingin mengungkapkan kebosananku kepadanya. Atas kegalakannya. Atas kelebaiannya saat ia mengkhawatirkan keadaanku. Dan masih banyak lagi.

Wis. Aku bosen dadi anakmu, Pak!
_______
Tapi, sebelum semua itu aku lakukan, sudah jelas terbayang betapa mengerikannya hidupku nanti. Ketika beliau berkata duluan, “Aku iki wis luwih dhisik bosen dadi bapakmu, Le! Sakdurunge kowe isa maneni aku kaya ngene iki!”

Kebenaran Sejati

Sutikno pemuda berudheng. Bukan peci, bukan pula kupluk haji. Udhengnya lama tak dicuci. Makin membuatnya terkesan lain dari yang lain. Orang umum bilang kalau Sutikno agak terganggu jiwanya. Gila.

Tapi tidak menurutku.

Waktu itu ia datang nendekat. Menyulut rokok mengais sensasi nikmat. Wajar, hampir tiap saat ia mendengar orang sekitarnya memaki, mengejek, dan menghujat. Dengan senang hati aku persilakan ia untuk sekedar melepas penat.

Tak sekalipun ia menatapku. Malah aku yang memperhatikan gerak-geriknya. Gurat wajah Sutikno yang lebih tua dariku ingin berpesan: jika kamu memohon petunjuk atas jalan lurus kepadaNya, maka bersiaplah. Jangan kau kira lurus itu tak berbelok.

Tersentak sukmaku.

Menunduk wajahku. Kuusap seluruhnya, mulai dahi hingga dagu. Nafas dalam kuhela sejenak. Jari-jemari kujangkarkan di kepala.

Selama ini aku mengira jalan lurus tak berbelok sama sekali. Selalu aku agungkan kebenaran versiku sendiri. Sedang waktu itu, polah tingkah Sutikno menegaskan sebuah pelajaran.

Tiba-tiba ia berdiri. Tangannya bergerak. Lalu ia menggambar sebuah garis yang letaknya jauh di depan sana. “Garis itu bisa dilihat, tapi tak akan mampu direngkuh oleh diri ini,” ia menambahkan lagi, “nggagas merengkuh, ngidak wae ora isa!” tandasnya.

Garis kok apikmen ta, No, Sutikno?” tanyaku.

“Itulah kebenaran sejati.” jawabnya.

Janggel

Blug!

Pothelan janggel itu dibuang ke latar. Beberapa biji jagung masih menempel. Dengan segera sejumlah ayam bangkok muda beradu ketangkasan. Mematuk pothelan janggel. Berebut. Beradu kuat.

Sepintas mereka terlihat dewasa. Berusaha keras memenuhi hajat hidupnya. Wajar, masih muda, tangkas, dan kuat.

Tapi, apakah mereka meraup untung dari polah tingkah mereka yang serba nggaya itu? Tidak.

Sisa biji jagung yang mereka perebutkan tak satu pun masuk perut. Semua mencelat.

Beruntunglah dua ekor ayam (jantan dan betina) tua. Mereka tampak lebih tenang. Dengan langkah pasti dan teliti memungut rejeki. Satu per satu sisa biji jangung akhirnya mereka kuasai.

Janji Palsu

Sepeda yang ia miliki kini sudah menganjak usia empat tahun. Jangka waktu kredit yang cukup lama untuk ukuran orang Indonesia. Meski begitu, Pak Ngabdul tetap bersyukur bisa memiliki sepeda.

Ia sangat sayang dengan sepedanya. Acara apa pun ia datangi bersamanya. Cukup pantas jika ia dibilang sebagai penyayang sepeda. Namun hal ini hanya terlihat empat tahun yang lalu. Waktu sepedanya masih baru.

Lama-lama hal itu memudar. Kalau dulu ia mencuci motornya setiap hari, kini sebulan sekali pun belum pasti. Sepedanya terlihat sangat kotor. Kedua bannya halus. Rantai sepedanya kendor dan berbunyi saat dipakai berjalan. Remnya hampir blong. Lampu sein yang kiri mati. Predikat penyayang sepeda sudah tak melekat lagi padanya.

Entah kenapa, hari ini agaknya berbeda. Pagi-pagi ia sudah berkata dalam hati. Ingin sekali ia mencuci sepedanya. Oh, mungkin hari ini ia sedang libur kerja. Makanya punya niat seperti itu.

Kegiatan rutinitasnya pun ia mulai. Sejak pukul 7 pagi, ia sudah membersihkan halaman. Menyusul kemudian menata beberapa buku yang berserakan di ruang tamu. Sampai pukul 11 siang, ia tak kunjung memulai rencananya mencuci sepeda.

Hingga akhirnya, senja pun tiba. Ia baru teringat kalau selepas magrib ada undangan. Lalu ia bergegas dandan, kemudian berangkat mendatangi acara kondangan di rumah Pak Lurah.

Tak disangka sebelumnya, saat hendak berbelok ke kiri, jagrak sepeda motornya menyangkut aspal. Ia terpelanting ke arah kanan. Jatuh tersungkur membujur.

Helm yang ia kenakan menggelinding hingga beberapa meter jauhnya.

Kabel remnya putus. Kedua ban sepeda motornya robek. Hingga terlihat kawatnya.

Ia merasa kesakitan bukan main. Ia berteriak kesakitan. Tapi teriakannya itu tak didengar oleh seorang pun. Beberapa kali ia mencoba bangkit, tapi tak bisa. Kesadarannya pun hilang.

Beberapa menit kemudian ia terlihat dikerumuni orang. Banyak sekali.

Ia kembali sadar. Saat orang-orang mencoba mengangkatnya ke pinggir jalan, ia menolak. Katanya ingin sekali melihat kondisi sepedanya.

Sepeda yang masih tergeletak itu memaki dirinya sendiri. Beribu perasaan bercampur menjadi satu. Ia kesal kepada juragannya. Bisanya cuma berjanji. Tak pernah ditepati.

Tapi ia juga kecewa telah membuat juragannya jatuh.

Seolah mengerti dengan apa yang dirasakan sepedanya, Pak Ngabdul lalu berlutut di hadapan sepeda itu. Ia sangat merasa bersalah telah membuat janji yang tak ditepati. Apalagi berjanji dengan benda mati.

Ia kemudian berucap dalam hati. Berjanji tidak akan mengulanginya lagi.

(Janji lagi?)

Keseimbangan Saat Naik Sepeda

“Nah, sudah sampai, ayo semua turun!” pinta Pak Ngabdul.

Man yang duduk di stang segera bergegas. Ia mencoba menapakkan kakinya ke tanah dengan hati-hati. Wajahnya agak grogi.

Min terlihat lebih tenang. Soalnya ia duduk di jok belakang pit kebo milik bapaknya. Lebih mudah ia menggapai tanah dengan kaki mungilnya. Sejenak kemudian, ia terlihat mengunjukkan kathok. Sambil kakinya meloncat kecil. Adegan yang cukup wajar.

Mereka lalu masuk ke warung tenda di terminal atas Slogohimo.

“Sana, duduk yang kosong sana!” kata Pak Ngabdul sambil menunjuk meja paling depan.

Setelah memesan tiga porsi nasi goreng, kemudian ia kembali mendekati kedua anaknya.

Melihat bapaknya datang lalu bertanya, “Kenapa ya Dhe, kalau sepedanya berjalan, kok tidak ambruk? Padahal kalau berhenti hoyag-hoyig lho. Padahal sudah dipegangi. Apalagi kalau dilepaskan, pasti mak brus!” ekspresi Man semakin mantap dengan gerakan tangan dan badannya yang lemah gemulai.

Dha, dhe, dha, dhe! Karo bapake barang ora sopan!” tukas Min sambil menyodok sikutnya Man.

“Yaa, memang begitu itu,” jawab Pak Ngabdul sembari menata kursi, lalu duduk, “itu sudah hukum alam, Le.” Pak Ngbdul lalu mengelus rambut Man. Mantranya mulai diucapkan. Mantra sakti biar anaknya tak bertanya yang aneh-aneh lagi.

Raut muka Man tidak puas mendengar jawaban itu. Sayang, ia sudah kena ‘bisa’ mantra bapaknya.

Saya yang sedari tadi mengikuti adegan itu ikut prihatin. Jawaban Pak Ngabdul tidak pas. Sungguh beruntung aku bisa mempersiapkan jawaban itu sejak kini.

Gila (tapi suka) Kerja

Gila Kerja mudah dikenali. Kalau sudah bekerja tak mau berhenti. Inginnya semua rampung dalam sehari. Tak memandang kondisi fisiknya yang sudah tidak muda lagi. Katanya, kalau tak kerja, nanti badan sakit semua.

Orang gila, tapi suka bekerja. Lebih baik daripada orang waras yang malas.

Saya mulai curiga, sekarang banyak orang yang suka bekerja tapi malah dilarang oleh orang sekitarnya. Akhir kata, mereka yang aslinya waras itu berdandan seperti orang gila. “Kalau sudah tampil gila, mau ngapain aja tidak ada yang mencela,” tukas salah satu dari mereka.

Sayang, di tivi-tivi, sekolah-sekolah, dan lingkungan bermain saat ini; banyak cita-cita yang menjulang tinggi tentang datangnya uang meski yang berharap itu cuma ongkang-ongkang.

 

Selamat Jalan Mbah Sakinah

Saya sangat terkejut. Lima hari setelah naskah drama satu adegan di bawah ini saya tulis, Mbah Sakinah meninggal dunia. Tanpa sakit yang menyiksa. Maafkan semua kesalahan saya, Mbah. Semoga engkau tenang di sisiNya. Diampuni segala dosa dan kesalahanmu. Serta diberikan tempat yang mulia.

Dan lewat tulisan ini pula aku memohon izin. Semoga namamu mampu menjadi pemicu tulisan-tulisanku selanjutnya. Meski aku tahu, beberapa hari ke depan aku belum berani menulis namamu.

Tak ada niat buruk apa pun yang aku miliki. Hingga aku memilih Bu Sakinah sebagai istri Pak Ngabdul. Hanya semacam kebolehjadian saja.

Tetapi aku yakin, kelak engkau pasti berdampingan di tempat indah denganNya. Bersama pula dengan Pak Ngabdul yang sudah lebih dulu menuju kesejatiannya.

Sekali lagi, aku mohon izih, Mbah. Kisahmu bersama Pak Ngabdul akan tetap aku tulis. Semoga dapat bermanfaat untuk semua orang. Khususnya aku, Heri.

Selamat jalan, Mbah Sakinah.

 

PAK NGABDUL
Bu,

BU NGABDUL
Ngapa ta, Pak?! (Sewot. Nyambi ngrajangi brambang)

PAK NGABDUL
Ora, tak takok.

BU NGABDUL
Takok mbok ya gek takok!

PAK NGABDUL
(Nyedhak. Lungguh jejere Bu Ngabdul)
Janjane jenengmu asli ki sapa ta, Bu?

BU NGABDUL
Lha genah Sakinah ngono kok! Ndadakan! Padikmen!

PAK NGABDUL
Nah, Sakinah. Oupet, opet, opet. Ayune neh…
(Njawil pipine bojone)

SAKINAH
Ah, embuh! Ngalih kana! (Nyikang-nyikang)

Hari Baik

Memulai suatu kegiatan sangat sulit dijalankan. Padahal seribu langkah itu bermula dari satu langkah saja. Kalau gagal merencanakan permulaan suatu kegiatan, sama saja merencanakan kegagalan itu sendiri. Masyarakat Jawa sadar betul akan hal ini.

Maka dari itu, muncul istilah ‘hari-baik’. Walau sebenarnya semua hari itu baik, tapi kalau sudah termotivasi dengan iming-iming hari-baik, memulai segala kegiatan bukan lagi hal yang menyulitkan. Langkah pertama yang terencana, menghindarkan kegagalan pada langkah-langkah berikutnya. Sekian.