Rahasia di Balik Istilah ‘Ora Becik’

Anda pernah dilarang orang tua saat akan melakukan sesuatu? Apa alasan mereka? “Yen ngengkrongne ceret aja miring ngono kuwi, ora becik. Aja lungguh neng ngarep lawang, ora becik.”

Dan anehnya, terdorong oleh rasa takut, kita secara spontan menuruti perintah mereka. Seberapa ampuh istilah ora becik ini? Ikuti ulasannya.

Ora artinya tidak.

Becik artinya baik.

Ora becik artinya: tidak baik.

Apapun yang kita lakukan jika dinilai oleh orang tua akan mendatangkan kerugian (akan terjadi sesuatu yang tidak baik), pasti mereka segera melarang dengan kata ampuh ora becik. 😀

Kadang alasan ini tidak bisa diterima begitu saja. Karena terkesa memaksa.

Apalagi bagi kita yang masih muda dan merasa ingin tahu. Pasti akan nggrundel dengan larangan melakukan sesuatu hanya dengan alasan ora becik. Mosok ora enek alesan liyane? Hahaha…

Tapi, kalau kita mau merenungkannya, beberapa hal yang dilarang dengan alasan ora becik ini memang ada benarnya.

Kita ambil contoh: “Yen ngengkrongne ceret aja miring ngono kuwi, ora becik.”

Kenapa alasannya harus ora becik? Tidak adakah alasan lain yang lebih jelas dan gamblang?

Jawabannya, ada. Tapi, butuh waktu banyak untuk menjelaskan mengapa posisi ceret harus tepat pada tempatnya. Agar air di dalam ceret tidak tumpah. Agar apa yang kita lakukan tidak sia-sia.

Padahal, saat orang tua kita mengeluarkan ajian ora becik ini, bisa dipastikan mereka sedang melihat bahaya yang mengancam diri kita. Kalau kita tidak segera diingatkan dengan kata kunci yang mudah diucap, singkat, dan sedikit memaksa; pasti hal-hal yang tidak kita inginkan akan terjadi.

Begitu juga larangan duduk di depan pintu dengan alasan ora becik. Duduk di depan pintu memang sekilas hal yang sepele. Tidak ada orang yang dirugikan andai saja kita melakukannya. Hanya saja, pintu adalah jalur mobilisasi utama di rumah. Kalau di depan pintu ada penghalangnya, bukankah mobilisasi akan terganggu?

Durung meneh yen ngerti-ngerti enek lindhu. Apa gelem dirimu ditubruk wong sing mlayu seka njero mah? Hahaha…

Selain itu, secara filosofi (halah) pintu adalah jalur utama masuknya rejeki. Kalau jalur masuk rejeki ditutup, ya rejekinya mbalik lagi. Kalau sudah begini, motivasi untuk bekerja keras akan menurun. Hehehe…

Jadi, tidak ada salahnya jika kita memperhatikan larangan orang tua. Apapun alasan mereka.  Termasuk dengan alasan ora becik. Karena salah satu ciri orang dewasa adalah bisa dan mau berpikir beberapa kali. Serta mau dan mampu memposisikan diri dengan baik, sesuai kebutuhan.

Foto diambil dari: http://www.ukhtiindonesia.com/wp-content/uploads/2015/10/070000_marahantsluar.jpg

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *