Aku Ingin Pizza

Tiap ada iklan pizza itu, semua putra-putri Pak Ngabdul serentak bersorak, “Bernyayi bersama sambil ber ha rap!”

 

“Ora sah rame, Ndhuk, Le. Ngerti wengi apa ora?!” sahut Pak Ngabdul.

 

“Berlindung bersama sambil ti a rap!” mereka menyahut lagi.

 

(Krompyang!!!)

Cangkir jembungnya Pak Ngabdul mendarat tak beraturan.

Lurah Idaman

Kepandaian itu wajib diusahakan dan dimiliki. Tapi setelah nanti kesampaian, kepandaian harus bisa membawa diri menuju kearifan.

Begitu kata Pak Ngabdul. Siapa sangka orang semacam itu adalah lurah. Bagaimana kisahnya? Simak liputan berikut ini:

Continue reading “Lurah Idaman”

Memilih Jurusan Kuliah

Bagi yang sedang bingung menentukan pilihan, segera saja ambil keputusan. Hehehe…

Menurut pengalaman yang sudah-sudah, jurusan kuliah sarat dengan keberuntungan. Kalau memang suka sekali dengan salah satu jurusan, kemungkinan besar bisa diterima. Yakinlah.

Selain itu juga didasarkan pada hasil tes kemampuan akademik. Boleh juga dari hasil tes IQ. Lihat saja pada kolom jurusan yang disarankan. Itu sudah lebih dari cukup untuk pertimbangan memilih jurusan kuliah.

Tren terbaru saat ini, jurusan kuliah adalah urusan nomor sekian. Yang paling penting adalah status mahasiswa segera digenggam. Dengan begitu, saat nanti berurusan  dengan birokrasi di negeri ini, biasanya dapat kemudahan.

Apa pun jurusan kuliahnya, yang penting Anda suka.

 

 

Orang Besar Beneran

Kegiatan pembagian sesuatu di negara ini sering membuat marah beberapa pihak. Apalagi di daerah perbatasan. Kalau kulon kali sudah dibagi sedangkan etan kali belum, mulailah kecemburuan itu.

Banyak tudingan muncul. Mulai dari menyalahkan pejabat etan kali yang dirasa kurang profesional, sampai keinginan untuk berontak. Kalau perlu dicopot saja pejabatnya.

Ini baru saja terjadi. Namun sekali lagi, keberuntungan masih di tangan saya.

Saya sempatkan berpikir dua kali. Apakah dengan pemberontakan itu bisa menyelesaikan masalah? Jangan-jangan kondisi negara yang seperti sekarang ini bermula dari pemberontakan yang hampir saya lakukan tadi?

Karena banyak orang besar yang tidak punya masalah besar, akhirnya masalah kecil sering dibesar-besarkan. Sebagai orang kecil, marilah masalah yang besar-besar ini kita perkecil. Biar kita bisa cepat menutupi kekurangan mereka.

 

Mulai Menulis Lagi

Bicara soal visi menulis, saya ingin punya tulisan yang berkualitas dan berbobot. Mengusung tema terkini. Bisa berpengaruh buat kehidupan orang banyak. Dan yang pasti bisa menyuruh orang menyebut saya penulis ulung.

Sayang sekali, saya tidak punya banyak misi untuk meraih visi itu. Makin sering berpikir tentang visi menulis, makin lama pula tulisan saya benar-benar bisa disebut tulisan. Paling mentok ya tidak jadi menulis.

Untung saja ada tema terlaris sepanjang masa di dunia tulis-pertulisan. Tema apakah itu? Ya tema seputar menulis itu sendiri.

Seperti halnya manusia, paling mudah kalau tiba saatnya membicarakan sesamanya. Menulis pun kalau yang dibicarakan tentang menulis, rasanya juga mudah.

 

Profesi Dadakan Jelang Pileg 2014

Profesi dadakan yang laris di musim menjelang Pemilu 2014 (urut dari yang terbanyak) adalah:

  1. Pengamat : mulai dari mahasiswa hingga profesor sibuk menjadi pengamat (ya cuma mengamati) di banyak kasus politik. Bahkan mahasiswa yang harusnya mendalami keilmuannya dan menyiapkan diri untuk kepemimpinan masa depan justru sibuk jadi pengamat (ya jadi pengamat saja dengan sudut pandang pragmatis, tidak lebih. Bagaimana? Karena data-data acuannya adalah berita. Dan sudah rahasia umum bahwa berita hari ini tidak ada bedanya dengan gula pasir warna putih atau cokelat yang dijual di warung. Jadi masalahnya sebenarnya rasa manis atau gulanya? Itu juga membingungkan kan).
  2. Pemisuh : ini golongan pengamat yang kehilangan kendali sehingga kalau ada berita, dan ada lobang komentarnya langsung misuh-misuh, ada yang beropini beda dengannya, langsung dipisuhi dan segala pisuh2 yang tidak membersihkan tangan (loh kok) tetapi makin memuakkan. Sayangnya, ada juga sih mahasiswa yang bergabung di golongan ini (ga tahu kenapa kok bisa2nya mau gabung)
  3. Penengah : ini golongan pengamat yang cukup mapan dan semeleh pikirannya sehingga seringkali menjadi penengah ketika para pemisuh berkompetisi satu sama lain menunjukkan kualitas pisuhannya karena mempertahankan Idola masing-masing
  4. Pebisnis : ini golongan pengamat yang kreatif sehingga disamping mengamati kasus politik, mereka juga merumuskan kasus-kasus politik yang bisa dikomersilkan. Bisa wujudnya media massa, hingga sekelompok blogger yang memainkan kata kunci untuk mendulang ribuan dolar.
  5. Pelaku Politik : ini golongan paling kecil jumlahnya yang sering jadi bahan pembullyan, menurutq sih yang beneran jahat sebenarnya sedikit, tapi yang beneran baik juga sedikit, sisanya adalah melihat pasar para pebisnis sehingga mau jadi jahat atau baik itu tergantung sinyal dari pebisnis, mana yang laris (lah ini jadinya jahat atau baik, atau ….. muna…..k ya). Tapi aku lebih mengapresiasi golongan ini, karena merakalah golongan orang yang paling berani di zona bahaya sekaligus yang paling tahu inti dari masalahnya.

Kesimpulan tidak bermutunya :
Semakin orang pengin tahu banget semakin ia tidak tahu, karena biasanya ia hanya memilih jadi pengamat dan kepo2 dari kejauhan. Kalo agak sedikit nglindur lalu misuh2 dengan tidak terkendali meski ada juga yang semeleh pikirannya lalu mencoba melihat sisi lain dan mencoba memperbaiki. Sayangnya upaya golongan penengah ini sering gagal karena isunya dimainkan golongan pebisnis. Sementara para ksatria politik masih sibuk dalam pertarungan yang paling menentukan ini (ada yang jujur, ada yang curang, dan ada yang sembunyi menunggu yang bertarung mati semua lalu mencuri).

Lalu saya siapa? Saya hanya penulis status ini dengan harapan diterbitkan Ki Heri di lapak Ngabdulisasi.com-nya.

 

Telas Sabin

Iki sing crita anake Pak Ngabdul:
Nalika kula alit, Bapak Mbok kula saben dinten nyambut damel wonten sabin. Namung kaleresan mawon, sabin kalawau lajeng dipunpanggeni dening satunggaling sekolahan.

Duk rikala pemasangan batu pertama pondasi sekolahan, Bapak Mbok kula gondhelan galengan sak kenceng-kencengipun. Amrih boten ical pedamelanipun.

Pitung dinten pitung dalu, gondhelanipun tansaya kenceng. Kenceng gondhelanipun ugi kenceng pikiranipun.

Ndilalah Kersa Allah, pamarintah paring kabijkasanan. Bapak Mbok kula dipunparingi pedamelan enggal nadyan boten kesah saking panggenan ingkang dipungondheli galenganipun kalawau.

Dugi sepriki, Bapak Mbok kula taksih nyambut damel wonten sabin. Namung kemawon, sabinipun sampun pareng dipunwastani ‘telas sawah’.

MH370 & Emha 370

Saya tegaskan sejak awal bahwa saudara-saudara semua harus meyakini bahwa pilot MH370 itu adalah Pak Ngabdul. Memang sulit menerima kenyataan ini. Tapi saya mohon untuk tetap dilaksanakan.

Lalu kenapa harus hilang? Pesawat itu hilang beneran atau dihilangkan? Atau malah ada pihak yang tega menghilangkan pesawat hanya untuk mengalihkan perhatian? Simak berita berikut ini.

ngabdulisasi.com [divider]Dilatarbelakangi oleh maraknya aksi skenarionisasi sebuah peristiwa, hilangnya pesawat MH370 terancam mendapat tudingan serupa. Kerap kali aksi usil tersebut bertujuan untuk mendukung kepentingan suatu pihak.

Pak Ngabdul awalnya tidak berprasangka apa pun. Seperti biasanya, ia menerbangkan pesawat Emha370 dengan bahagia. Baru beberapa saat lepas landas, Pak Ngabdul berupaya untuk melaporkan keadaan pesawatnya. Namun ternyata, banyak sekali pernyataan yang tidak ditanggapi oleh Pemandu Lalu Lintas Udara (PLLU) sesuai dengan konteksnya. Seperti misalnya, “Aku sudah terbang dengan santai,” kata Pak Ngabdul. Lalu PLLU menanggapi, “Apa kamu sudah terbang dengan santai?” 🙁

Lagi…

Pak Ngabdul: “Iki mengko mudhun jam pira? Cuaca cerah apa ora?

PLLU: “Lha kowe arep ngapa?”

Pak Ngabdul: “Alah, yung…

Pak Ngabdul geram sesaat dengan suasana seperti ini. Hingga akhirnya, ia memutuskan secara diam-diam menurunkan pesawatnya tanpa sepengetahuan PLLU. “Para penumpangku kabeh, iki aku lagi sensi karo PLLU. Tak putusne, awake dhewe mudhun neng kene wae. Papan kene iki mbok arani alas ya entuk. Segara ya entuk. Perkampungan apa meneh, entuk! Wis pokoke bebas,”

“Mangan sak anane wae. Nek kesel, ya turu. Neng njero pesawat entuk, neng njaba ya entuk. Bebas.”

“HPmu arep mbok uripne, ya uripna. Ben keluargamu tambah bingung. Mergane, wong-wong sing nonton tipi ngira yen awake dhewe iki wis mati. Nek isih nekat mbok uripne, kuwi tegese malah nguwatne bukti yen prastawa iki mung apus-apusan.”

Dengan keputusan seperti ini, Pak Ngabdul berusaha menyampaikan pesan: kewaspadaan harus diutamakan. Meskipun Pak Ngabdul tahu peristiwa hilangnya pesawat ini berpotensi mengalihkan orang-orang akan kewaspadaan itu sendiri, tetapi inilah satu-satunya cara yang ia ambil demi kembalinya kesadaran orang-orang yang ia sayangi. 🙂

Dhanyangan

Ajaran tentang bahaya sifat sombong memang mudah didengarkan. Mudah dihafal, tapi sangat sulit dijalankan. Dengan pertimbangan efektivitas metode pembiasaan, orang-orang kuno menyusun serangkaian metode pembelajaran yang secara tidak langsung membiasakan masyarakat agar bersikap rendah hati.

Namun sayang, tidak semua rencana pembelajaran dapat berjalan sesuai tujuan. Beberapa aturan itu malah disalahartikan. Orang berhasil jadi rendah hati, tapi tidak berhasil jadi orang yang banyak berpikir. Aturan tinggal aturan, tak pernah ada keinginan untuk memikirkan sebab munculnya aturan itu sendiri.

Ambil saja satu contoh aturan. Kalau akan mengirimkan sejumlah makanan ke luar kota, sedangkan nanti harus melewati kali berpenunggu itu, jangan sampai lupa untuk menyisihkan sedikit bagian, biar rasa makanan yang diantar tetap nikmat. Kalau sampai lupa, siap-siap saja makanan akan berasa hampa.

Masih takut belum bisa rendah hati? Ya silakan menyisihkan makanan. Sedikit saja, tidak usah banyak-banyak. Sebaliknya, kalau sudah tahu sebab dimunculkannya aturan itu, daripada membuang makanan sia-sia, lebih baik kan memilih untuk menjaga kerendahan hati saja.

Kalau masih ditunggangi kesombongan, prestasi setinggi apa pun pasti tak ada rasanya. Itu kira-kira pesan dari rencana pembelajaran orang kuno yang disusun untuk kita.

Aturan ini tidak hanya berlaku untuk makanan. Sudah diperkenankan menjalar ke beberapa sudut kehidupan. Contohnya, beberapa instansi yang secara resmi berprestasi, ternyata kalau kita berada di dalamnya, suasananya hampa. Asin wae ora, apa meneh gurih. 🙂

Penyakit Punya Perasaan

Tilik Pak Ngabdul. Pirang-pira ndina ora tau njedhul. Tibake piyambake lagi gerah. Ning ora parah.

“Ngga kula tambakne? Obat napa suntik, Pak?” tak tareni.

“Ora sah repot-repot, Mas. Aku emoh diarani ngePHPin penyakitku iki. Penyakit ya duwe perasaan. Dheweke pengin dirasakne. Sing tenang, mengko nek wis dirasakne, penyakite bosen, njur lunga karepe dhewe,” ngono ngendikane Pak Ngabdul.

“Ngeten lhe Pak Ngabdul, jenengan niku termasuk cikal bakal kampung ngriki, dados jenengan niku klebet ‘pelaku sejarah’ ingkang kedah njagi kasarasan. Amargi menawi wonten warga ingkang mbetahaken ‘informasi akurat’ babagan kampung ngriki, sinten malih cobi ingkang saget crita dakik-dakik, menawi sanes njenengan??? Dados jenegan niku termasuk ‘barang langka’ ingkang kedah dipun jagi,”

“Pun, gek mang klamben dawa! Ngga kula terne suntik!”
“O alah… Wong tuwek og kandhan-kandhanane angel timen,”