Mulai Menulis Lagi

Bicara soal visi menulis, saya ingin punya tulisan yang berkualitas dan berbobot. Mengusung tema terkini. Bisa berpengaruh buat kehidupan orang banyak. Dan yang pasti bisa menyuruh orang menyebut saya penulis ulung.

Sayang sekali, saya tidak punya banyak misi untuk meraih visi itu. Makin sering berpikir tentang visi menulis, makin lama pula tulisan saya benar-benar bisa disebut tulisan. Paling mentok ya tidak jadi menulis.

Untung saja ada tema terlaris sepanjang masa di dunia tulis-pertulisan. Tema apakah itu? Ya tema seputar menulis itu sendiri.

Seperti halnya manusia, paling mudah kalau tiba saatnya membicarakan sesamanya. Menulis pun kalau yang dibicarakan tentang menulis, rasanya juga mudah.

 

Profesi Dadakan Jelang Pileg 2014

Profesi dadakan yang laris di musim menjelang Pemilu 2014 (urut dari yang terbanyak) adalah:

  1. Pengamat : mulai dari mahasiswa hingga profesor sibuk menjadi pengamat (ya cuma mengamati) di banyak kasus politik. Bahkan mahasiswa yang harusnya mendalami keilmuannya dan menyiapkan diri untuk kepemimpinan masa depan justru sibuk jadi pengamat (ya jadi pengamat saja dengan sudut pandang pragmatis, tidak lebih. Bagaimana? Karena data-data acuannya adalah berita. Dan sudah rahasia umum bahwa berita hari ini tidak ada bedanya dengan gula pasir warna putih atau cokelat yang dijual di warung. Jadi masalahnya sebenarnya rasa manis atau gulanya? Itu juga membingungkan kan).
  2. Pemisuh : ini golongan pengamat yang kehilangan kendali sehingga kalau ada berita, dan ada lobang komentarnya langsung misuh-misuh, ada yang beropini beda dengannya, langsung dipisuhi dan segala pisuh2 yang tidak membersihkan tangan (loh kok) tetapi makin memuakkan. Sayangnya, ada juga sih mahasiswa yang bergabung di golongan ini (ga tahu kenapa kok bisa2nya mau gabung)
  3. Penengah : ini golongan pengamat yang cukup mapan dan semeleh pikirannya sehingga seringkali menjadi penengah ketika para pemisuh berkompetisi satu sama lain menunjukkan kualitas pisuhannya karena mempertahankan Idola masing-masing
  4. Pebisnis : ini golongan pengamat yang kreatif sehingga disamping mengamati kasus politik, mereka juga merumuskan kasus-kasus politik yang bisa dikomersilkan. Bisa wujudnya media massa, hingga sekelompok blogger yang memainkan kata kunci untuk mendulang ribuan dolar.
  5. Pelaku Politik : ini golongan paling kecil jumlahnya yang sering jadi bahan pembullyan, menurutq sih yang beneran jahat sebenarnya sedikit, tapi yang beneran baik juga sedikit, sisanya adalah melihat pasar para pebisnis sehingga mau jadi jahat atau baik itu tergantung sinyal dari pebisnis, mana yang laris (lah ini jadinya jahat atau baik, atau ….. muna…..k ya). Tapi aku lebih mengapresiasi golongan ini, karena merakalah golongan orang yang paling berani di zona bahaya sekaligus yang paling tahu inti dari masalahnya.

Kesimpulan tidak bermutunya :
Semakin orang pengin tahu banget semakin ia tidak tahu, karena biasanya ia hanya memilih jadi pengamat dan kepo2 dari kejauhan. Kalo agak sedikit nglindur lalu misuh2 dengan tidak terkendali meski ada juga yang semeleh pikirannya lalu mencoba melihat sisi lain dan mencoba memperbaiki. Sayangnya upaya golongan penengah ini sering gagal karena isunya dimainkan golongan pebisnis. Sementara para ksatria politik masih sibuk dalam pertarungan yang paling menentukan ini (ada yang jujur, ada yang curang, dan ada yang sembunyi menunggu yang bertarung mati semua lalu mencuri).

Lalu saya siapa? Saya hanya penulis status ini dengan harapan diterbitkan Ki Heri di lapak Ngabdulisasi.com-nya.

 

Telas Sabin

Iki sing crita anake Pak Ngabdul:
Nalika kula alit, Bapak Mbok kula saben dinten nyambut damel wonten sabin. Namung kaleresan mawon, sabin kalawau lajeng dipunpanggeni dening satunggaling sekolahan.

Duk rikala pemasangan batu pertama pondasi sekolahan, Bapak Mbok kula gondhelan galengan sak kenceng-kencengipun. Amrih boten ical pedamelanipun.

Pitung dinten pitung dalu, gondhelanipun tansaya kenceng. Kenceng gondhelanipun ugi kenceng pikiranipun.

Ndilalah Kersa Allah, pamarintah paring kabijkasanan. Bapak Mbok kula dipunparingi pedamelan enggal nadyan boten kesah saking panggenan ingkang dipungondheli galenganipun kalawau.

Dugi sepriki, Bapak Mbok kula taksih nyambut damel wonten sabin. Namung kemawon, sabinipun sampun pareng dipunwastani ‘telas sawah’.

MH370 & Emha 370

Saya tegaskan sejak awal bahwa saudara-saudara semua harus meyakini bahwa pilot MH370 itu adalah Pak Ngabdul. Memang sulit menerima kenyataan ini. Tapi saya mohon untuk tetap dilaksanakan.

Lalu kenapa harus hilang? Pesawat itu hilang beneran atau dihilangkan? Atau malah ada pihak yang tega menghilangkan pesawat hanya untuk mengalihkan perhatian? Simak berita berikut ini.

ngabdulisasi.com [divider]Dilatarbelakangi oleh maraknya aksi skenarionisasi sebuah peristiwa, hilangnya pesawat MH370 terancam mendapat tudingan serupa. Kerap kali aksi usil tersebut bertujuan untuk mendukung kepentingan suatu pihak.

Pak Ngabdul awalnya tidak berprasangka apa pun. Seperti biasanya, ia menerbangkan pesawat Emha370 dengan bahagia. Baru beberapa saat lepas landas, Pak Ngabdul berupaya untuk melaporkan keadaan pesawatnya. Namun ternyata, banyak sekali pernyataan yang tidak ditanggapi oleh Pemandu Lalu Lintas Udara (PLLU) sesuai dengan konteksnya. Seperti misalnya, “Aku sudah terbang dengan santai,” kata Pak Ngabdul. Lalu PLLU menanggapi, “Apa kamu sudah terbang dengan santai?” 🙁

Lagi…

Pak Ngabdul: “Iki mengko mudhun jam pira? Cuaca cerah apa ora?

PLLU: “Lha kowe arep ngapa?”

Pak Ngabdul: “Alah, yung…

Pak Ngabdul geram sesaat dengan suasana seperti ini. Hingga akhirnya, ia memutuskan secara diam-diam menurunkan pesawatnya tanpa sepengetahuan PLLU. “Para penumpangku kabeh, iki aku lagi sensi karo PLLU. Tak putusne, awake dhewe mudhun neng kene wae. Papan kene iki mbok arani alas ya entuk. Segara ya entuk. Perkampungan apa meneh, entuk! Wis pokoke bebas,”

“Mangan sak anane wae. Nek kesel, ya turu. Neng njero pesawat entuk, neng njaba ya entuk. Bebas.”

“HPmu arep mbok uripne, ya uripna. Ben keluargamu tambah bingung. Mergane, wong-wong sing nonton tipi ngira yen awake dhewe iki wis mati. Nek isih nekat mbok uripne, kuwi tegese malah nguwatne bukti yen prastawa iki mung apus-apusan.”

Dengan keputusan seperti ini, Pak Ngabdul berusaha menyampaikan pesan: kewaspadaan harus diutamakan. Meskipun Pak Ngabdul tahu peristiwa hilangnya pesawat ini berpotensi mengalihkan orang-orang akan kewaspadaan itu sendiri, tetapi inilah satu-satunya cara yang ia ambil demi kembalinya kesadaran orang-orang yang ia sayangi. 🙂

Dhanyangan

Ajaran tentang bahaya sifat sombong memang mudah didengarkan. Mudah dihafal, tapi sangat sulit dijalankan. Dengan pertimbangan efektivitas metode pembiasaan, orang-orang kuno menyusun serangkaian metode pembelajaran yang secara tidak langsung membiasakan masyarakat agar bersikap rendah hati.

Namun sayang, tidak semua rencana pembelajaran dapat berjalan sesuai tujuan. Beberapa aturan itu malah disalahartikan. Orang berhasil jadi rendah hati, tapi tidak berhasil jadi orang yang banyak berpikir. Aturan tinggal aturan, tak pernah ada keinginan untuk memikirkan sebab munculnya aturan itu sendiri.

Ambil saja satu contoh aturan. Kalau akan mengirimkan sejumlah makanan ke luar kota, sedangkan nanti harus melewati kali berpenunggu itu, jangan sampai lupa untuk menyisihkan sedikit bagian, biar rasa makanan yang diantar tetap nikmat. Kalau sampai lupa, siap-siap saja makanan akan berasa hampa.

Masih takut belum bisa rendah hati? Ya silakan menyisihkan makanan. Sedikit saja, tidak usah banyak-banyak. Sebaliknya, kalau sudah tahu sebab dimunculkannya aturan itu, daripada membuang makanan sia-sia, lebih baik kan memilih untuk menjaga kerendahan hati saja.

Kalau masih ditunggangi kesombongan, prestasi setinggi apa pun pasti tak ada rasanya. Itu kira-kira pesan dari rencana pembelajaran orang kuno yang disusun untuk kita.

Aturan ini tidak hanya berlaku untuk makanan. Sudah diperkenankan menjalar ke beberapa sudut kehidupan. Contohnya, beberapa instansi yang secara resmi berprestasi, ternyata kalau kita berada di dalamnya, suasananya hampa. Asin wae ora, apa meneh gurih. 🙂

Penyakit Punya Perasaan

Tilik Pak Ngabdul. Pirang-pira ndina ora tau njedhul. Tibake piyambake lagi gerah. Ning ora parah.

“Ngga kula tambakne? Obat napa suntik, Pak?” tak tareni.

“Ora sah repot-repot, Mas. Aku emoh diarani ngePHPin penyakitku iki. Penyakit ya duwe perasaan. Dheweke pengin dirasakne. Sing tenang, mengko nek wis dirasakne, penyakite bosen, njur lunga karepe dhewe,” ngono ngendikane Pak Ngabdul.

“Ngeten lhe Pak Ngabdul, jenengan niku termasuk cikal bakal kampung ngriki, dados jenengan niku klebet ‘pelaku sejarah’ ingkang kedah njagi kasarasan. Amargi menawi wonten warga ingkang mbetahaken ‘informasi akurat’ babagan kampung ngriki, sinten malih cobi ingkang saget crita dakik-dakik, menawi sanes njenengan??? Dados jenegan niku termasuk ‘barang langka’ ingkang kedah dipun jagi,”

“Pun, gek mang klamben dawa! Ngga kula terne suntik!”
“O alah… Wong tuwek og kandhan-kandhanane angel timen,”

 

Profesi Anyar di Tatanan Dunia Baru

“Atiku sumelang, ora isa dak bayangake babar pisan. Titenana, suk bakal teka titi wancine bocah sekolah kena dietung ngango driji tangan. Amarga kabeh wong wis ikhlas nrima lair batin, nadyan profesine mung dadi tumbak cucukan,” gerutu orang berbaju hitam itu.

“Mas, ampun enten mriki. Boten pareng, nggih…”
“Pun, mrika. Gek dilajengne lampahe,” pinta Pak Lurah.

Bukan Sekedar Mesem

Eseman Pak Ngabdul tidak semata-mata ditujukkan untuk mesem. Eseman beliau memiliki tujuan yang lebih besar daripada sekedar melebarkan ukuran bibir dan memperlihatkan gigi yang tinggal beberapa gelintir. Beliau tidak sekedar mengharapkan perhatian dari orang per orang yang kebetulan ditemui.

Lebih dari itu semua, kebiasaan mesem yang dilakukan oleh Pak Ngabdul bertujuan untuk mengembangkan jiwa, memperluas relasi, dan membentuk kepribadian. Itu artinya, mesem menjadi bagian dari kegiatan pengembangan diri Pak Ngabdul.

Sabar, Dul!

Mas, besok pagi jadi jagong jam 10, kan?

SMS itu belum dibalas. Bukannya tidak punya pulsa. Hanya saja Pak Ngabdul belum punya kepastian. Beliau tak pegang uang sama sekali.

***

Jam 08.13 WIB. Saudara ipar yang ngirim SMS tadi sudah sampai di rumah. Pikiran Pak Ngabdul makin amburadul. Untuk menambah keyakinan, baju batik pembelian istrinya sudah beliau kenakan. Kemudian duduk di kursi depan dengan pikiran yang tidak nyaman.

“Ayo berangkat sekarang saja, Mas Ngabdul. Daripada kesiangan,” ajak saudara iparnya.

“Iya, sebentar lagi,” jawab beliau dengan tenang.

Dalam hati, Pak Ngabdul masih berharap ada orang yang mau memberikan kepastian. Tapi tak kunjung datang. Kemudian beliau masuk ke rumah. Menemui Sang Istri tercinta.

“Bu, saya mau keluar sebentar,”

“Mau ke mana ta, Pak?” Sang Istri paham apa yang sedang terjadi.

Ndak ke mana-mana, kok. Cuma sebentar,”

Satu, dua, sampai tiga rumah beliau lewati. Berharap salah satu pemilik rumah itu ada yang melambaikan tangan. Pertanda mau memberi pinjaman uang.

Harapan kepada manusia sia-sia. Tetap tidak ada kepastian.

Jam 09.05 WIB. Tiba-tiba Pak Ngabdul ingin sekali pergi ke Kantor Kelurahan. Meski hanya Ketua RT, beliau sering diminta untuk menjadi pembaca doa. Orang-orang percaya doa beliau mudah terkabul. Entah apa alasannya. Sejauh yang saya tahu, belum ada dokumentasi tentang doa apa saja yang sudah terkabul berkat dilafalkan oleh Pak Ngabdul.

Menurut saya lafalnya memang mujarab:

“Ya Tuhan, kabulkanlah doa kami, baik yang bisa dilafalkan, maupun yang masih ada dalam pikiran. Sungguh kami menyadari keterbatasan kemampuan kami dalam hal berungkapan. Engkaulah yang Maha Pengasih, Maha Penyayang, dan Maha Mengetahui. Aamiin …”

Sebenarnya beliau sangat-sangat paham. Kalau masih berharap selain kepadaNya, semua jadi tidak pasti.

Benar. Di kelurahan tidak melihat siapa-siapa.

Singkat cerita beliau meninggalkan Kantor Kelurahan dengan kepasrahan yang amat mendalam.

“Pak! Pak Ngabdul! Tunggu sebentar!” teriak Lurah yang baru saja keluar dari kamar mandi.

“Ini buat jenengan, kemarin saya lupa mau memberikan.”

Matur sembah nuwun, Pak Lurah,” sambil menerima amplop persegi panjang yang agak tebal.

Rapelan honor pelafal doa 750.000 kini ditangan. Sepanjang jalan pulang, Pak Ngabdul hanya bisa senyum-senyum sendirian. Persis seperti wong edan.

Jam 09.58 WIB.

“Mas, ayo! Jadi jagong apa tidak ta ini ?!” tanya saudara iparnya.

“Ayo, lho…” jawab beliau dengan tenang.

Sepatu Kulit, Eh, Karet

Ketemu Pak Ngabdul pas pakai sepatu karet. Model sepatunya keren. Pantofel, khas sepatu kulit Magetan.
“Thik sae timen sepatu jenengan, Pak,” aku basa-basi.
Beliau menjawab, “Penak athik, Mas. Empuk gek anget,”
“Regine pinten?”
“Alah murah. Telung puluh ewu,” Gayanya sok banyak uang.
“Tumbase pundi? Peken mriku enten?”
“Alah enek, Mas,” jawab beliau sambil berlalu.