Mitos Anak Kedua dari Tiga Bersaudara

Bapak Iwan memiliki keluarga yang bahagia. Istrinya bernama Ibu Maya. Lengkap dengan kedua putra-putrinya, Budi dan Ani. Mereka hidup tentram dengan segala kesederhanaan.

Keluarga itu hidup nyaman di tengah-tengah mitos yang beraneka ragam. Tidak boleh bepergian pada hari ketiga setelah hari kelahiran. Segera meletakkan sapu lidi dengan posisi terbalik biar hujan segera reda. Dilarang makan sambil tiduran karena bisa berubah jadi ular.

Dari sekian banyak mitos yang beredar di keluarganya, Ani sangat tertarik dengan mitos bahwa anak nomor 2 dari 3 bersaudara memiliki keunikan tersendiri.

Dengan melihat potensi yang ada pada dirinya kini, ia sangat berambisi untuk mewujudkan mitos ini. Ia berharap kelak akan memiliki kepribadian yang unik, mudah berkarir, dan disenangi semua orang.

Ia tidak sekedar berharap mitos ini terjadi. Bahkan secara alami, rencana demi rencana ia siapkan demi mendapatkan keunikan yang ia dambakan. Mulai dari bergaya layaknya kakak yang sedang bermain dengan adiknya, membawa boneka kemana pun ia pergi, sampai akhirnya ia divonis mengalami gangguan jiwa.

Gangguan jiwanya berlanjut sampai dewasa. Meski Pak Iwan dan Bu Maya telah menghadirkan adik untuk Ani, tetap saja ia gila. Orang-orang beranggapan, mitos yang Ani inginkan sudah benar-benar terjadi pada dirinya.

Nulis Terus, Terus Nulis

Beberapa hari ini aku tidak bisa menangkap wangsit. Makan saja tidak enak, semua benda yang kutemui rasanya kuanggap pahit. Sudah nyoba berulang-kali komat-kamit. Bekas luka itu masih saja terasa sakit.

Memang tidak terlalu keras pukulan itu. Tapi berhasil membuat jari-jemariku kaku. Stabilitas pikiranku mulai terganggu. Sebenarnya kalimat itu bernada wagu, menurutku:

Bagaimana bisa dipercaya segala omonganmu, lha wong kamu saja belum nikah. Belum merasakan getirnya kehidupan. Juga belum nyicipi manisnya dunia sejati.

Serahkan Kepada Ahlinya

Dulur-dulur, mumpung lagi udan. Mumpung aku ra enek gaweyan, tak critani. Panjenengan kabeh lak wis ngerti sada to? Tibake, sada kuwi enek loro, sada lanang karo sada wadon. Aja nganti kleru milih.

Yen kira-kira ora isa milih endi sing lanang, endi sing wadon, pasrahna kancane wae. Aja nganti nekat. Apa meneh mung merga kejar setoran. Nek isih tetep nekat, kabeh urusan isa dadi gaswat.

Lugasnya begini. Kalau cuma mau cari masalah, tidak perlu susah-susah. Hampir tiap hari kita dikasih tahu masalah-masalah yang sedang dihadapi oleh negeri ini. Baik melalui televisi maupun media informasi terkini.

Saking banyaknya masalah, tujuan mereka memunculkan masalah itu makin tidak jelas. Sebenarnya mereka itu sekedar memberi tahu, atau minta kepada kita biar ikut memberi solusi, atau mendorong kita untuk memperbesar masalah?

Kemungkinan yang terakhir itulah yang lebih pas. Setelah dikasih tahu berbagai masalah yang tidak sepadan dengan kemampuan kita, berusahalah kita mencari solusi (dengan nekat).

Ketemukah kita dengan solusi? Tidak.

Masalah baru mulai berdatangan. Salah paham, apatis, menyalahkan pihak yang tidak jelas, membenarkan pihak yang seolah-olah jelas, sampai-sampai membenci diri sendiri (karena merasa menyesal hidup di negeri ini).

Akhirnya, saya kira lebih nyaman kalau kita menyerahkan segalanya sesuatu kepada ahlinya. Kalau merasa ahli, ya silakan…

Ayo Bangkit!

Saudara-saudaraku sebangsa setanah wutah rah!
Ayo kita bang kit kan semangat nasionalisme! Kobarkan daya juang meraih jati diri bangsa yang sedang tersembunyi! Tumpas habis masalah sampai ke akar-akarnya!
Memperbesar masalah sepele adalah masalah besar yang sedang disepelekan oleh bangsa ini. Salam!

Memilih Semua Pilihan

Hidup adalah pilihan. Suatu saat tak ada pilihan lagi kecuali mati.

Ada yang pernah bilang tentang masalah mati ini. Yang penting bukan kapan matinya, tetapi bagaimana caranya mati.

Sama kalau begitu. Yang penting bukan kapan milihnya, tetapi bagaimana caranya milih. Berkaitan dengan cara memilih, ambil saja semua pilihan yang ada termasuk salah satu jawaban dari pertanyaan: bagaimana caranya milih?

Memvariabelkan Ketetapan Demi Perubahan

Masalah judul saya anggap wajar.

Singkat kata saya ini sedang merasa terombang-ambing. Ikut ke sana, gabung ke situ. Menghadapi cobaan demi cobaan. Menahan benturan demi benturan.  Menangkis serangan demi serangan. Menggabungkan keping-keping kengawuran yang berserakan. Baca Selengkapnya

Ngerti Sakdurunge Winarah

Ngerti artinya mengerti. Sedangkan winarah (diwarahi) berarti diberi tahu. Kalau digabungkan menjadi ngerti sakdurunge winarah (NSW), maknanya: pemahaman yang sudah bisa dimengerti tanpa ada campur tangan dari pihak lain (tidak ada yang memberi tahu secara langsung). Baca Selengkapnya