Buku Pegangan Keluarga

Pak Lurah, saya punya usulan. Tiap-tiap keluarga di Dusun Dongol ini wajib merekam cara mengasuh anaknya. Direkam melalui tulisan. Kami yakin, tiap-tiap keluarga punya cara unik membina rumah tangganya hingga anak-anaknya jadi DEWAsa. Kalau sudah jadi, dijilid jadi satu, diberi nama Kitab Babon Keluarga Bahagia Sejahtera.

Beberapa puluh tahun ke depan, orang-orang asing bakal sibuk cari buku semacam itu. Karena mereka kagum akan kejayaan nusantara yang kembali menggema di dunia. Sungguh.

Investasi Tanah Bisa Jadi Menyiksa Diri

Saya sependapat dengan pedoman kaum sederhana. Yakni memilih beli tanah daripada beli mobil. Apalagi hanya untuk bergaya. Selain tersiksa saat mikir uang untuk membeli, pajak per tahunnya juga mencekik si pemilik. Belum lagi masalah perawatan. Dan yang pasti adalah harga jualnya turun setiap tahun.

Beda dengan tanah. Makin hari harganya makin bertambah. Ditanami apa-apa bisa dipanen. Bisa buat persediaan makanan. Kalau lebih, bisa dibagi ke sanak famili.

Tapi,

Praktiknya tak semudah teori. Dengan iming-iming ‘hujan tak basah,┬áterik matahari tak lagi mempan’, mobil jadi tujuan utama untuk menghabiskan uang tabungan. Buat kepentingan sosial juga bisa. Untuk nambah reputasi, jelas. Sampai-sampai, kalau lihai memberdayakan, si tanah tadi bisa teraih dari hasil jerih payah si mobil.

Baiklah pembaca. Kalau sekiranya masih kuat menahan godaan kemewahan dari lingkungan sekitar, silakan tabungannya tetap disimpan untuk membeli tanah dan sawah beberapa tahun ke depan. Tapi kalau mau hidup gembira dan tetap bisa tertawa, belilah mobil mewah, rumah mewah, dan mewah-mewah lainnya. Mereka bisa jadi pemicu agar seolah-olah kita akan hidup di dunia selamanya.

Eh, tapi jangan lupa. Soalnya tak ada jaminan pula kalau para pembaca ini masih bisa hadir di sini esok hari.

Orang Kota

Pagi tadi ada pendatang baru. Asalnya dari kota. Orangnya menggiurkan. Gaya rambutnya mirip bintang iklan. Bajunya baru. Kulitnya putih. Wajahnya berbinar. Tinggi semampai, tapi sayang ia bukan perawan. Asli laki-laki.

Sorot matanya sayu. Lidahnya kelu. Padahal tak ada keadaan yang mendukung sikapnya itu. Wajar saja. Ia kan orang baru. Mungkin masih malu-malu.

Satu hal yang paling tidak saya suka. Ia berlagak apa-apa tidak tahu. Kegiatan yang seharusnya lumrah ia lakoni, seolah asing belum pernah dijalani. Barang elektronik yang wajar dimiliki warga kota, malah ia banyak bertanya tentangnya. Orang terkenal yang seharusnya ia kenal, malah tidak hafal.

Ini sebuah trik. Agar orang desa seperti kami menganggapnya baik hati. Padahal dibalik itu, kami semua menahan emosi.

Sudahlah, Nak. Di zaman ini, orang baik yang benar-benar asli saja masih dicurigai. Apalagi hanya pura-pura baik. Satu hal yang saya takuti. Tingkahmu yang pura-pura bodoh itu menjadi kenyataan di kemudian hari.

Ehm, tapi. Kelihatannya saya malah takut sama diri saya sendiri. Apa jangan-jangan kamu benar-benar orang baik yang asli, ya?

Doaku Malam Ini

Mari menikmati mimpi malam ini. Mimpi yang bertaraf biasa. Tentang kehidupan pasca kekalahan capres pilihanmu juga pilihan saya. Entah nomor satu atau dua.

Nikmati sepuasnya. Biar tidak kaget, kalau-kalau mimpi ini jadi nyata. Biar para hati siap menerima apapun yang jadi kehendakNya.

Karena kita semua paham, presiden pilihanmu nanti akan jadi presidenku. Presiden pilihanku akan jadi presidenmu juga. Syukurlah kalau pilihan kita sama. Toh kalau beda, juga tak ada masalah buat kita.

Sinkronisasi Cipta, Rasa, dan Karsa

Tridaya sudah tidak asing lagi di telinga kita. Tiga kekuatan yang perlu dimaksimalkan agar hidup kita bahagia. Hehehe…

Cipta, rasa, dan karsa. Penalaran, penghayatan, dan pengamalan.

Baru-baru ini saya sadari bahwa tiap-tiap komponen tridaya itu dimaksimalkan dengan cara belajar. Kalau seseorang punya keseimbangan cipta, rasa, dan karsa; maka dikatakan sudah dewasa.

Bayi yang baru lahir, sudah punya tridaya. Tapi saya yakin, ia belum bisa menalar. Kalau boleh saya bilang, penghayatan akan rasa laparnya langsung diamalkan dengan kegiatan menangis. Apapun yang ia hayati, pengamalannya adalah menangis. Sungguh tragis. Hehehe…

Lalu ia beranjak besar. Biasanya dilantunkan sebuah lagu pengantar tidur. Ada juga yang diajak putar-putar naik sepeda motor. Ini yang lagi nge-tren.

Ada satu pengalaman yang membuat saya terusik. Hehehe…

Ceritanya, waktu masih kecil, sebelum saya tidur, dilantunkanlah lagu Pamit Mulih oleh ibu saya. Lagu keroncong ini dilantunkan oleh Mbah Gesang. Begini lirik lagunya:

Lilanana pamit mulih
Pesthi kula yen dede jodhone
Mugi enggal antuk sulih
Wong kang bisa ngladeni slirane

Pancen abot jroning ati
Ninggal ndika wong sing tak tresnani
Nanging badhe kados pundi
Yen kawula sadrema nglampahi

Mung semene atur puji karya raharja
Sak pungkure aja lali asring kirim warta

Eman-eman benjang ndika
Yen ta nganti digawe kuciwa
Batin kula mboten lila
Yen ta nganti mung disiya-siya

Karena waktu itu usia saya baru 5 tahun, mungkin nalar ini sudah mulai berkembang. Namun sayang, perkembangan rasa yang saya miliki tidak sejalan dengan perkembangan nalar. Saya belum bisa menghayati lagu yang saya dengar. Akhirnya, lagu yang seharusnya dihayati sebagai lagu sedih (pamit mulih), eh, malah mendorong saya untuk tidur. Memang sangat jelas, waktu itu kondisi cipta, rasa, dan karsa saya belum seimbang.

Tahun demi tahun, saya disekolahkan. Sampai akhirnya saya bisa berpendapat seperti ini.