Serahkan Kepada Ahlinya

Dulur-dulur, mumpung lagi udan. Mumpung aku ra enek gaweyan, tak critani. Panjenengan kabeh lak wis ngerti sada to? Tibake, sada kuwi enek loro, sada lanang karo sada wadon. Aja nganti kleru milih.

Yen kira-kira ora isa milih endi sing lanang, endi sing wadon, pasrahna kancane wae. Aja nganti nekat. Apa meneh mung merga kejar setoran. Nek isih tetep nekat, kabeh urusan isa dadi gaswat.

Lugasnya begini. Kalau cuma mau cari masalah, tidak perlu susah-susah. Hampir tiap hari kita dikasih tahu masalah-masalah yang sedang dihadapi oleh negeri ini. Baik melalui televisi maupun media informasi terkini.

Saking banyaknya masalah, tujuan mereka memunculkan masalah itu makin tidak jelas. Sebenarnya mereka itu sekedar memberi tahu, atau minta kepada kita biar ikut memberi solusi, atau mendorong kita untuk memperbesar masalah?

Kemungkinan yang terakhir itulah yang lebih pas. Setelah dikasih tahu berbagai masalah yang tidak sepadan dengan kemampuan kita, berusahalah kita mencari solusi (dengan nekat).

Ketemukah kita dengan solusi? Tidak.

Masalah baru mulai berdatangan. Salah paham, apatis, menyalahkan pihak yang tidak jelas, membenarkan pihak yang seolah-olah jelas, sampai-sampai membenci diri sendiri (karena merasa menyesal hidup di negeri ini).

Akhirnya, saya kira lebih nyaman kalau kita menyerahkan segalanya sesuatu kepada ahlinya. Kalau merasa ahli, ya silakan…

Sepatu Kulit, Eh, Karet

Ketemu Pak Ngabdul pas pakai sepatu karet. Model sepatunya keren. Pantofel, khas sepatu kulit Magetan.
“Thik sae timen sepatu jenengan, Pak,” aku basa-basi.
Beliau menjawab, “Penak athik, Mas. Empuk gek anget,”
“Regine pinten?”
“Alah murah. Telung puluh ewu,” Gayanya sok banyak uang.
“Tumbase pundi? Peken mriku enten?”
“Alah enek, Mas,” jawab beliau sambil berlalu.

Jagan-jagan

“Le, iki Mamak tuku kendhil. Dinggo jagan-jagan nek pulsane Mamak entek, kenek nggo miskol Bapakmu!” kata Mamak, garwane Pak Ngabdul.

Si Bungsu menggerutu, “Oalah, Mamak ki mbok sisan tuku genthong. Ngirit olehku bengak-bengok. Nek nganggo genthong, ra mung trima miskol, Mak. Pisan mbengok, alarm-e Bapak isa sisan muni.”

“Ngertia, Le. Bapakmu eneng paran kana panganane mung sithik. Mulane aku tuku kendhil. Ora liya ya genthong ning luwih cilik.”

Ayo Bangkit!

Saudara-saudaraku sebangsa setanah wutah rah!
Ayo kita bang kit kan semangat nasionalisme! Kobarkan daya juang meraih jati diri bangsa yang sedang tersembunyi! Tumpas habis masalah sampai ke akar-akarnya!
Memperbesar masalah sepele adalah masalah besar yang sedang disepelekan oleh bangsa ini. Salam!

Memilih Semua Pilihan

Hidup adalah pilihan. Suatu saat tak ada pilihan lagi kecuali mati.

Ada yang pernah bilang tentang masalah mati ini. Yang penting bukan kapan matinya, tetapi bagaimana caranya mati.

Sama kalau begitu. Yang penting bukan kapan milihnya, tetapi bagaimana caranya milih. Berkaitan dengan cara memilih, ambil saja semua pilihan yang ada termasuk salah satu jawaban dari pertanyaan: bagaimana caranya milih?

Bukan Makna Takdir yang Sebenarnya

Dalam catatan perjalanannya, Pak Ngabdul pernah menjadi workaholic. Pekerja keras tak kenal lelah. Berkarakter kuat dalam usaha pencapaian kesuksesan. Sebagian orang berpendapat bahwa Pak Ngabdul tak percaya takdir. Merencanakan segalanya mulai dari persiapan, pelaksanaan, sampai dengan evaluasinya. Percaya benar dengan slogan: Jika kau gagal merencanakan, artinya engkau telah merencanakan kegagalan.

Lambat laun bukannya makin kuat keworkaholickan beliau, tetapi sediki demi sedikit menghilang. Ini berkat jasa cicak di dinding yang tak lagi terlihat menangkap nyamuk. Anehnya, ia masih tetap menjatuhkan kotorannya di peralatan-peralatan penting milik Pak Ngabdul.

“Betapa bodohnya aku ini. Menganggap segalanya atas kehendakku. Cicak pun dipelihara olehNya. Buat apa aku bekerja keras merencanakan segala sesuatu?” gumam beliau.

Kini resmi beliau menjadi seorang pendiam. Tak suka berencana. Mengandalkan takdir Tuhan. Slogan yang beliau anut: Segalanya sudah diskenariokan. Rejeki, jodoh, dan mati pun tak perlu lagi aku pikirkan.

Aku menunggu untuk diperjalankan. Aku menanti hingga diperankan. Hidupku sudah cukup lumrah jika aku habiskan untuk menerima kenyataan.

***

Bukan ketenangan yang beliau dapatkan, tetapi segala aspek hidupnya menjadi berantakan. Hubungan beliau dengan Tuhan tak lagi diperbuat meski keyakinan akan takdir begitu melekat. Hubungan sosialnya berkembang pesat, tetapi yang beliau rasakan seolah hidup dalam kurungan kebolehjadian.

Tiba-tiba Pak Ngabdul merasakan kesadaran akan pentingnya perencanaan hidup. Namun beliau masih menganggap ini adalah bagian dari takdir Tuhan.

Seperti biasanya, sore ini beliau diperjalankan untuk buruh membersihkan halaman rumah  orang-orang. Peralatan-peralatan yang penuh dengan tahi cicak sudah beliau bersihkan. Kali ini giliran halaman rumah milik Pak Dwija Saraya, guru Matematika yang serba bisa. Halaman rumahnya luas, tampak serasi dengan rumahnya yang bertingkat-tingkat dan berwarna-warni.

Pak Ngabdul mencoba lagi merencakan kegiatan buruhnya. Hasilnya memuaskan. Perkerjaannya selesai tepat waktu. Pelaksanaannya pun lancar tanpa halangan.

Tak disangka, usai merampungkan pekerjaan, beliau diundang makan-makan. Makan-makan dalam rangka slametan atas keserbabisaan yang sampai saat ini masih melekat di diri Pak Dwija Saraya.

Untuk ukuran orang semiskin Pak Ngabdul, acara slametan semacam itu layaknya takdir baik dari Tuhan yang diberikan cuma-cuma. Dan takdir cuma-cuma inilah yang sekaligus menyadarkan beliau. Bahwasanya keseimbangan usaha dan garisan nasib berubah sebutan menjadi takdir.

Langsung saja beliau menginformasikan kejadian ini kepada orang-orang terdekatnya. Pak Ngabdul meniru gaya motivator-motivator yang dahulu beliau anut petuahnya. Menyerukan hal-hal manis diluar logika, yang ujung-ujungnya mengajak untuk tidak suka berusaha.

Setelah mengumpulkan orang-orang terdekatnya, beliau segera bersuara, “Saksikanlah! Malam ini aku memohon kepada Tuhan biar aku diizinkan untuk diam. Tetapi jika memang tidak diperkenankan, aku akan meminta diperjalankan ke arah rumah yang sedang mengadakan pesta slametan. Biar di sana nanti aku bisa menikmati banyak sekali makanan. Tanpa perlu mengeluarkan uang!”

Malam itu pun orang-orang terdekat Pak Ngabdul mengikuti semua gerak-gerik beliau. Sampai akhirnya terbukti sudah omongannya. Kini semua orang melihat Pak Ngabdul sedang menikmati keterkabulan doanya. Bisa dipastikan bahwa orang-orang terdekatnya kini sedang meyakini makna takdir yang bukan sebenarnya.