Pembiasan

Pak Ngabdul memandang segelas kopi yang ada di depannya. Tadi pagi beliau melihat anak-anak sekolah bermain gelas berisi air yang dimasuki pensil. Anak-anak begitu senang bukan kepayang. Mereka melihat pensil yang seolah patah setelah bergoyang.

Nah, di sore yang cerah ini, Pak Ngabdul ingin ikut-ikutan melihat pensil yang patah tadi. Karena tak ada pensil, langsung saja beliau memasukkan sebatang lidi ke dalam gelas berisi kopi. Berharap bisa senang sampai kepayang, tapi sesal yang didapatkan. Lidinya tidak kelihatan.

Sambil marah-marah Pak Ngabdul membuang isi gelas tadi. Kopi hitam berhamburan. Pak Ngabdul ke dapur. Beliau menuang air putih dari ketel kuning (hadiah dari seseorang yang pergi ke Arab Saudi). Kemudian kembali ke teras lagi. Kini isi gelas telah berganti.

Lidi akhirnya dimasukkan. Sejenak kemudian Pak Ngabdul menyimak dengan jeli kejadian alam yang sedang beliau hadapi.

Terlihatlah suatu fenomena alam namanya pembiasan. Nampak jelas bentuk lidi yang seolah patah setelah bernyanyi. Pak Ngabdul senang sekali melihatnya. Sampai-sampai tak sadar mengambil satu tahu goreng di dekat gelas bekas wadah kopi.

Eh, bungkus tahu goreng itu tak lain adalah sobekan kertas ulangan Mata Pelajaran Fisika. Milik seorang siswa SMK Jurusan Multimedia. Dia kelas tiga.

Pak Ngabdul jadi tambah suka. Padahal beliau tak bisa membaca. Cuma melihat gambar yang serupa dengan kejadian alam yang sedang dihadapkan Tuhan di depan matanya (mata beliau). Persis sekali gambaranya. Ada gelas ada lidi.

Entah bantuan datang dari mana, Pak Ngabdul tiba-tiba berkesimpulan: Jika cahaya melalui bidang batas antara dua medium yang berbeda kerapatannya, maka terjadilah perubahan cepat rambatnya. Perubahan cepat rambat cahaya ini akan membelokkan arah rambat cahaya. Dan seolah mematahkan obyek yang sedang memantulkan cahaya ke mata kita.

Pak Ngabdul mengeryitkan kening tanda tak suka. Mestinya, akan lebih baik lagi kalau di bidang batas itu muncul gradasi. Sebatang lidi yang akhirnya terlihat ngeblur. Dari lidi padat yang ada di medium udara, kemudian terlihat lidi serbuk di medium cair. Tidak patah. Terkesan tragis kalau lidi itu patah.

Pak Ngabdul terlihat kebingungan waktu ada suara bergema dari dalam ketel warna kuning, “Bukankah lebih baik lagi kalau bidang batas antara medium udara dan cair juga ikut-ikutan ngeblur, Dul?”

“Oh, iya, ya. Tapi enggak juga ding. Kalau semuanya ngeblur, jadi tidak kelihatan dong harmoninya. Keserasiannya kurang. Dan yang pasti, kengebluran lidi terkesan tidak begitu ngeblur kalau bidang batasnya ikutan ngeblur juga.”

Akhirnya beliau pun diam. Dalam diri beliau berkecamuk rasa tidak suka dengan fenomena pembiasan. Hanya karena tidak ada keadilan dalam hal kengebluran. Keharmonisan.

“Kalau lidi itu sistem sedangkan air dan udara lingkungan, seharusnya memang sistem-lah yang harus menyesuaikan diri terhadap lingkungan. Biar ada harmonisasi yang terwujudkan. Tidak terkesan patah. Serta tidak pula memaksa-maksa lingkungan biar nge…” belum selesai berujar tentang kengawurannya, terganggulah konsentrasi mulut Pak Ngabdul. Ada slilit yang mampir di sela giginya.

Dipatahkanlah lidi setengah panjangnya. Separoh di ambil, sisanya dicelupkan lagi ke dalam gelas. Semua bagian lidi tercelup.

Keberhasilan Pak Ngabdul membersihkan slilit diberengi dengan keberhasilan menarik ulang kesimpulan.

Lidi kotor yang barusan berperan jadi tusuk gigi kini dibuang. Pak Ngabdul berkonsentrasi pada lidi yang ada di dalam gelas. Ternyata tak ada patahan yang terkesan. Tak perlu lagi ngeblur-ngebluran.

Kembalilah semua pada masalah sudut pandang. Buh! (masih ada slilit tersisa)

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *