Sepertinya Saya Tidak Punya Jiwa Seorang Guru

Jiwa seorang guru dibangun oleh beberapa tiang penyangga. Satu diantaranya adalah perasaan terpanggil untuk meluruskan jalan anak didiknya; jika ternyata sedang melenceng atau bahkan terlanjur keblasuk. Caranya dengan memberikan informasi yang cukup, mudah diterima, dan efektif.

Panggilan jiwa seorang guru untuk memberikan informasi yang cukup tidak bisa dinilai sencara kuantitatif. Seberapa banyak kata dalam sebuah petuah yang ia paparkan, tak ada seorang pun yang bisa menilainya. Kalau ada yang bisa menentukan batas minimal jumlah kata per pepatah per hari yang harus disampaikan oleh seorang guru, maka niscaya orang itu sudah diambang keambiguan.

Upaya guru dalam memberikan informasi, tak bisa dipandang sama. Mudah atau sulit informasi itu diterima, banyak faktornya. Standardisasi atas suatu bentuk informasi mustahil dilaksanakan. Karena informasi dalam arti sebuah pepadhang bukan sekedar susunan kata-kata biasa. Anggukan kepala bisa jadi lebih mudah diterima daripada penjelasan panjang lebar yang tidak sesuai dengan kebutuhan anak didik.

Efektivitas informasi yang disampaikan guru dapat dilihat dari perubahan kebiasaan. Jika ada perubahan yang signifikan, maka nilai efektivitasnya tinggi. Apa itu perubahan? Perubahan adalah sebuah perbandingan dua kejadian. Jika perbedaannya mencolok, semisal mula-mula diam lalu tertawa, inilah wujud asli dari sebuah perubahan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *