Diingatkan Tuhan

Gonjang-ganjing suasana sekitar, membuat hati ini tak tenang. Bisa dibilang, ini kondisi paling parah yang selama ini saya alami. Sepanjang jalan, darah penjuang keadilan dan kebenaran mengalir tiada henti. Rumah dan sarana umum rata dengan tanah. Senjata perang hampir habis stoknya. Tapi itu semua itu belum bisa menebus kemenangan yang diharapkan oleh pihak kami. Sebab, teguran Tuhan tidak pernah kami hiraukan selama ini.

(Alhamdulillah, bisa memulai dengan paragraf hiperbola) πŸ˜€

Memang benar. Jika ada yang mengatakan bahwa Tuhan selalu mengingatkan hambanya dengan caraNya sendiri. Saya sudah berulang kali diingatkan olehNya. Dengan cara yang tidak biasa. Meski saya masih sering ngeyel dan tidak bisa menguasai diri.

Mari, sejenak menyelam ke dalam kehidupan pribadi saya. πŸ˜›

Anda bayangkan saya sedang bimbang. Menghadapi dua kutub yang saling serang. Saya ada di tengahnya.

Bukan, saya bukan penengah.

Lebih tepatnya, saya adalah anak buah dari kedua kutub tersebut.

Saya tidak mau dibilang plin-plan. Sehari ikut sana, besok ikut sini. Karena perlu Anda ketahui, bahwa kewajiban saya yang utama adalah bekerja sesuai perintah kedua pihak tersebut. Itu ada hitam di atas putihnya. πŸ˜€

Kita sebut saja pihak A dan pihak B. Keduanya berada pada himpunan semesta S. πŸ˜›

Saya bertanggung jawab atas kesuksesan program kerja pihak A. Di sisi lain, banyak sekali program kerja pihak B yang wajib saya sukseskan. Di sisi yang lainnya lagi, pihak A dan B saling menjatuhkan. Jika program A mapun B sukses, semesta akan hancur. πŸ™

Sebenarnya, keterkaitan antara A, B, saya, dan S lebih rumit lagi. Tidak sederhana seperti apa yang saya tulis di atas. Tapi, daripada saya ingat lagi dengan beban hidup saya, lebih baik saya tulis dengan lebih sederhana.

Akhirnya, saya bingung mencari tempat bergantung.

Hari pertama, saya menyadari ancaman dari kedua pihak.

Hari kedua, saya memutuskan ikut pihak A.

Hari ketiga, saya yakin ikut pihak B.

Hari keempat, saya tidak memihak A dan B, tapi ikut semesta.

Hari kelima dan keenam saya bimbang tak karuan.

Hari ketujuh, saya mendapat petunjuk untuk bergabung ke dalam lindungan Tuhan.

Hari-hari saya berikutnya berjalan dengan lancar. Tiada lagi gambar-gambar kehancuran semesta yang selalu terbayang sebelumnya. Karena saya yakin, keberpihakan yang bersifat mutlak hanya kepadaNya. Selain itu, hanya sebatas profesionalitas dan proporsionalitas kerja. Hasilnya, terserah Tuhan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *