Bukan Makna Takdir yang Sebenarnya

Dalam catatan perjalanannya, Pak Ngabdul pernah menjadi workaholic. Pekerja keras tak kenal lelah. Berkarakter kuat dalam usaha pencapaian kesuksesan. Sebagian orang berpendapat bahwa Pak Ngabdul tak percaya takdir. Merencanakan segalanya mulai dari persiapan, pelaksanaan, sampai dengan evaluasinya. Percaya benar dengan slogan: Jika kau gagal merencanakan, artinya engkau telah merencanakan kegagalan.

Lambat laun bukannya makin kuat keworkaholickan beliau, tetapi sediki demi sedikit menghilang. Ini berkat jasa cicak di dinding yang tak lagi terlihat menangkap nyamuk. Anehnya, ia masih tetap menjatuhkan kotorannya di peralatan-peralatan penting milik Pak Ngabdul.

“Betapa bodohnya aku ini. Menganggap segalanya atas kehendakku. Cicak pun dipelihara olehNya. Buat apa aku bekerja keras merencanakan segala sesuatu?” gumam beliau.

Kini resmi beliau menjadi seorang pendiam. Tak suka berencana. Mengandalkan takdir Tuhan. Slogan yang beliau anut: Segalanya sudah diskenariokan. Rejeki, jodoh, dan mati pun tak perlu lagi aku pikirkan.

Aku menunggu untuk diperjalankan. Aku menanti hingga diperankan. Hidupku sudah cukup lumrah jika aku habiskan untuk menerima kenyataan.

***

Bukan ketenangan yang beliau dapatkan, tetapi segala aspek hidupnya menjadi berantakan. Hubungan beliau dengan Tuhan tak lagi diperbuat meski keyakinan akan takdir begitu melekat. Hubungan sosialnya berkembang pesat, tetapi yang beliau rasakan seolah hidup dalam kurungan kebolehjadian.

Tiba-tiba Pak Ngabdul merasakan kesadaran akan pentingnya perencanaan hidup. Namun beliau masih menganggap ini adalah bagian dari takdir Tuhan.

Seperti biasanya, sore ini beliau diperjalankan untuk buruh membersihkan halaman rumah  orang-orang. Peralatan-peralatan yang penuh dengan tahi cicak sudah beliau bersihkan. Kali ini giliran halaman rumah milik Pak Dwija Saraya, guru Matematika yang serba bisa. Halaman rumahnya luas, tampak serasi dengan rumahnya yang bertingkat-tingkat dan berwarna-warni.

Pak Ngabdul mencoba lagi merencakan kegiatan buruhnya. Hasilnya memuaskan. Perkerjaannya selesai tepat waktu. Pelaksanaannya pun lancar tanpa halangan.

Tak disangka, usai merampungkan pekerjaan, beliau diundang makan-makan. Makan-makan dalam rangka slametan atas keserbabisaan yang sampai saat ini masih melekat di diri Pak Dwija Saraya.

Untuk ukuran orang semiskin Pak Ngabdul, acara slametan semacam itu layaknya takdir baik dari Tuhan yang diberikan cuma-cuma. Dan takdir cuma-cuma inilah yang sekaligus menyadarkan beliau. Bahwasanya keseimbangan usaha dan garisan nasib berubah sebutan menjadi takdir.

Langsung saja beliau menginformasikan kejadian ini kepada orang-orang terdekatnya. Pak Ngabdul meniru gaya motivator-motivator yang dahulu beliau anut petuahnya. Menyerukan hal-hal manis diluar logika, yang ujung-ujungnya mengajak untuk tidak suka berusaha.

Setelah mengumpulkan orang-orang terdekatnya, beliau segera bersuara, “Saksikanlah! Malam ini aku memohon kepada Tuhan biar aku diizinkan untuk diam. Tetapi jika memang tidak diperkenankan, aku akan meminta diperjalankan ke arah rumah yang sedang mengadakan pesta slametan. Biar di sana nanti aku bisa menikmati banyak sekali makanan. Tanpa perlu mengeluarkan uang!”

Malam itu pun orang-orang terdekat Pak Ngabdul mengikuti semua gerak-gerik beliau. Sampai akhirnya terbukti sudah omongannya. Kini semua orang melihat Pak Ngabdul sedang menikmati keterkabulan doanya. Bisa dipastikan bahwa orang-orang terdekatnya kini sedang meyakini makna takdir yang bukan sebenarnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *