Syarat Lolos Tilang Tambah 1 Lagi

Menyalakan lampu kendaraan di siang hari kini bukan hal baru lagi. Konon alasan ilmiah yang menjadi pertimbangan diberlakukannya aturan ini adalah kecepatan cahaya yang lebih besar dibandingkan kecepatan rambat bunyi (klakson). Cahaya merambat 300.000.000 meter tiap detik. Sedangkan bunyi hanya 300 meter tiap detiknya.

Banyak pihak berharap dengan ikut andilnya kecepatan cahaya ini, angka kejadian kecelakaan lalu-lintas dapat menurun. Namun tidak sedikit pula yang menolak dengan alasan isyarat cahaya lampu hanya bisa digunakan saat berlawanan arah. Kalau dari belakang terus mau nyalip, ya harus ngebel thin-thin. 

Terlepas dari itu semua, muncul sebuah wacana unik. Ide ini menyangkut keberlangsungan hidup dari dua lampu utama tiap-tiap kendaraan. Lampu jauh dan lampu dekat.

Saat berkendara pada malam hari, tentu lampu dekat lebih dominan. Walaupun lampu jauh tak kalah penting juga untuk memberikan isyarat kepada pengguna jalan lain.

Sedangkan pada siang hari, kita cenderung berpikir untuk menggunakan lampu jauh. Karena tidak seperti malam hari, meskipun lampu jauh yang dinyalakan, pasti tidak mengganggu pengguna jalan lain. Alias tidak menyilaukan.

Selain alasan di atas, kita juga perlu memikirkan masa hidup kedua lampu itu. Kalau siang malam hanya lampu dekat yang dipakai terus, tentu ia akan cepat mati.

Maka demi kelancaran berkendara, kita harus menyeimbangkan waktu menyala antar keduanya. Idealnya ya sama.

Ini masalahnya, apa kita sanggup dan telaten melakukan hal itu?

Kalau sekiranya tidak, mari kita minta tolong kepada pihak-pihak terkait agar mau membantu. Kalau boleh, syarat lolos tilang ditambah satu lagi.

Nanti rencananya, di spedometer akan ditambah alat penghitung waktu menyala lampu jauh dan dekat. Kalau tidak sama nilainya, kita kena tilang. 😀

Sepertinya Saya Tidak Punya Jiwa Seorang Guru

Jiwa seorang guru dibangun oleh beberapa tiang penyangga. Satu diantaranya adalah perasaan terpanggil untuk meluruskan jalan anak didiknya; jika ternyata sedang melenceng atau bahkan terlanjur keblasuk. Caranya dengan memberikan informasi yang cukup, mudah diterima, dan efektif.

Panggilan jiwa seorang guru untuk memberikan informasi yang cukup tidak bisa dinilai sencara kuantitatif. Seberapa banyak kata dalam sebuah petuah yang ia paparkan, tak ada seorang pun yang bisa menilainya. Kalau ada yang bisa menentukan batas minimal jumlah kata per pepatah per hari yang harus disampaikan oleh seorang guru, maka niscaya orang itu sudah diambang keambiguan.

Upaya guru dalam memberikan informasi, tak bisa dipandang sama. Mudah atau sulit informasi itu diterima, banyak faktornya. Standardisasi atas suatu bentuk informasi mustahil dilaksanakan. Karena informasi dalam arti sebuah pepadhang bukan sekedar susunan kata-kata biasa. Anggukan kepala bisa jadi lebih mudah diterima daripada penjelasan panjang lebar yang tidak sesuai dengan kebutuhan anak didik.

Efektivitas informasi yang disampaikan guru dapat dilihat dari perubahan kebiasaan. Jika ada perubahan yang signifikan, maka nilai efektivitasnya tinggi. Apa itu perubahan? Perubahan adalah sebuah perbandingan dua kejadian. Jika perbedaannya mencolok, semisal mula-mula diam lalu tertawa, inilah wujud asli dari sebuah perubahan.

Mempertahankan Idealisme dengan Realistis

Idealisme banyak diajarkan di sekolah. Tapi cara mempertahankannya sangat jarang disinggung, apalagi dijelaskan.

Lalu muncullah banyak orang yang terkesan merelakan idealismenya runtuh karena terbentur oleh realitas yang mereka hadapi. Masih untung sebagian dari mereka bisa lupa bahwa dulu pernah mempertahankan idealisme sampai mati-matian. Tapi, ada juga yang terbebani oleh keputusan mereka mengakhiri idealismenya.

Apapun itu, memang baiknya seimbang. Idealisme diperjuangkan wajar-wajar saja. Asalkan tidak lupa bahwa kita perlu menikmati realitas; saat demi saat yang kita temui.