Menuju Kemajuan

Saya tahu, saodara-saodara tak suka sama mereka yang banyak berteori. Mereka akan tetap gembredek ketika ada percobaan yang masih bisa dijelaskan dengan teori lama.

Maka dari itu, segeralah kerja keras. Mari kita lakukan percobaan-percobaan baru yang tidak bisa dijelaskan oleh mereka. Saat inilah kemajuan dikatakan terjadi.

Sayangnya, ini teori lama. Hihihi…

Memilih Jurusan Kuliah

Bagi yang sedang bingung menentukan pilihan, segera saja ambil keputusan. Hehehe…

Menurut pengalaman yang sudah-sudah, jurusan kuliah sarat dengan keberuntungan. Kalau memang suka sekali dengan salah satu jurusan, kemungkinan besar bisa diterima. Yakinlah.

Selain itu juga didasarkan pada hasil tes kemampuan akademik. Boleh juga dari hasil tes IQ. Lihat saja pada kolom jurusan yang disarankan. Itu sudah lebih dari cukup untuk pertimbangan memilih jurusan kuliah.

Tren terbaru saat ini, jurusan kuliah adalah urusan nomor sekian. Yang paling penting adalah status mahasiswa segera digenggam. Dengan begitu, saat nanti berurusan  dengan birokrasi di negeri ini, biasanya dapat kemudahan.

Apa pun jurusan kuliahnya, yang penting Anda suka.

 

 

Mbah Putri Baju Oranye

Sinar Keduwang, turun. Lurus terus sampai ketemu jembatan. Rumah kedua setelah jembatan, sebelah utara jalan. Di situ ada Mbah Putri yang kemarin bajunya oranye. Tiap saya lewat, kebetulan saja sedang duduk santai sambil ber-mbako ria.

Saya bisa memastikan beliau tidak punya akun FB. Kalau sampai punya, para pecinta status bebau menyedihkan pasti akan segera punah.

Sebab Mbah Putri itu akan update status begini, “Ndhuk, Le. Umurku nganti tekan sak mene iki ora merga kakehan dhuwit. Tuwekku sak mene isih seger nyumet mbako, ora merga bandha donya. Aku awet urip merga yen pas gela, tak peksa tetep seneng. Siji welingku, sing entheng aja digawe abot. Perkara cilik aja digedhek-gedhekne. Apa meneh nganti ditulis dadi status neng efbe.”

Orang Besar Beneran

Kegiatan pembagian sesuatu di negara ini sering membuat marah beberapa pihak. Apalagi di daerah perbatasan. Kalau kulon kali sudah dibagi sedangkan etan kali belum, mulailah kecemburuan itu.

Banyak tudingan muncul. Mulai dari menyalahkan pejabat etan kali yang dirasa kurang profesional, sampai keinginan untuk berontak. Kalau perlu dicopot saja pejabatnya.

Ini baru saja terjadi. Namun sekali lagi, keberuntungan masih di tangan saya.

Saya sempatkan berpikir dua kali. Apakah dengan pemberontakan itu bisa menyelesaikan masalah? Jangan-jangan kondisi negara yang seperti sekarang ini bermula dari pemberontakan yang hampir saya lakukan tadi?

Karena banyak orang besar yang tidak punya masalah besar, akhirnya masalah kecil sering dibesar-besarkan. Sebagai orang kecil, marilah masalah yang besar-besar ini kita perkecil. Biar kita bisa cepat menutupi kekurangan mereka.

 

Mulai Menulis Lagi

Bicara soal visi menulis, saya ingin punya tulisan yang berkualitas dan berbobot. Mengusung tema terkini. Bisa berpengaruh buat kehidupan orang banyak. Dan yang pasti bisa menyuruh orang menyebut saya penulis ulung.

Sayang sekali, saya tidak punya banyak misi untuk meraih visi itu. Makin sering berpikir tentang visi menulis, makin lama pula tulisan saya benar-benar bisa disebut tulisan. Paling mentok ya tidak jadi menulis.

Untung saja ada tema terlaris sepanjang masa di dunia tulis-pertulisan. Tema apakah itu? Ya tema seputar menulis itu sendiri.

Seperti halnya manusia, paling mudah kalau tiba saatnya membicarakan sesamanya. Menulis pun kalau yang dibicarakan tentang menulis, rasanya juga mudah.

 

Profesi Dadakan Jelang Pileg 2014

Profesi dadakan yang laris di musim menjelang Pemilu 2014 (urut dari yang terbanyak) adalah:

  1. Pengamat : mulai dari mahasiswa hingga profesor sibuk menjadi pengamat (ya cuma mengamati) di banyak kasus politik. Bahkan mahasiswa yang harusnya mendalami keilmuannya dan menyiapkan diri untuk kepemimpinan masa depan justru sibuk jadi pengamat (ya jadi pengamat saja dengan sudut pandang pragmatis, tidak lebih. Bagaimana? Karena data-data acuannya adalah berita. Dan sudah rahasia umum bahwa berita hari ini tidak ada bedanya dengan gula pasir warna putih atau cokelat yang dijual di warung. Jadi masalahnya sebenarnya rasa manis atau gulanya? Itu juga membingungkan kan).
  2. Pemisuh : ini golongan pengamat yang kehilangan kendali sehingga kalau ada berita, dan ada lobang komentarnya langsung misuh-misuh, ada yang beropini beda dengannya, langsung dipisuhi dan segala pisuh2 yang tidak membersihkan tangan (loh kok) tetapi makin memuakkan. Sayangnya, ada juga sih mahasiswa yang bergabung di golongan ini (ga tahu kenapa kok bisa2nya mau gabung)
  3. Penengah : ini golongan pengamat yang cukup mapan dan semeleh pikirannya sehingga seringkali menjadi penengah ketika para pemisuh berkompetisi satu sama lain menunjukkan kualitas pisuhannya karena mempertahankan Idola masing-masing
  4. Pebisnis : ini golongan pengamat yang kreatif sehingga disamping mengamati kasus politik, mereka juga merumuskan kasus-kasus politik yang bisa dikomersilkan. Bisa wujudnya media massa, hingga sekelompok blogger yang memainkan kata kunci untuk mendulang ribuan dolar.
  5. Pelaku Politik : ini golongan paling kecil jumlahnya yang sering jadi bahan pembullyan, menurutq sih yang beneran jahat sebenarnya sedikit, tapi yang beneran baik juga sedikit, sisanya adalah melihat pasar para pebisnis sehingga mau jadi jahat atau baik itu tergantung sinyal dari pebisnis, mana yang laris (lah ini jadinya jahat atau baik, atau ….. muna…..k ya). Tapi aku lebih mengapresiasi golongan ini, karena merakalah golongan orang yang paling berani di zona bahaya sekaligus yang paling tahu inti dari masalahnya.

Kesimpulan tidak bermutunya :
Semakin orang pengin tahu banget semakin ia tidak tahu, karena biasanya ia hanya memilih jadi pengamat dan kepo2 dari kejauhan. Kalo agak sedikit nglindur lalu misuh2 dengan tidak terkendali meski ada juga yang semeleh pikirannya lalu mencoba melihat sisi lain dan mencoba memperbaiki. Sayangnya upaya golongan penengah ini sering gagal karena isunya dimainkan golongan pebisnis. Sementara para ksatria politik masih sibuk dalam pertarungan yang paling menentukan ini (ada yang jujur, ada yang curang, dan ada yang sembunyi menunggu yang bertarung mati semua lalu mencuri).

Lalu saya siapa? Saya hanya penulis status ini dengan harapan diterbitkan Ki Heri di lapak Ngabdulisasi.com-nya.