Telas Sabin

Iki sing crita anake Pak Ngabdul:
Nalika kula alit, Bapak Mbok kula saben dinten nyambut damel wonten sabin. Namung kaleresan mawon, sabin kalawau lajeng dipunpanggeni dening satunggaling sekolahan.

Duk rikala pemasangan batu pertama pondasi sekolahan, Bapak Mbok kula gondhelan galengan sak kenceng-kencengipun. Amrih boten ical pedamelanipun.

Pitung dinten pitung dalu, gondhelanipun tansaya kenceng. Kenceng gondhelanipun ugi kenceng pikiranipun.

Ndilalah Kersa Allah, pamarintah paring kabijkasanan. Bapak Mbok kula dipunparingi pedamelan enggal nadyan boten kesah saking panggenan ingkang dipungondheli galenganipun kalawau.

Dugi sepriki, Bapak Mbok kula taksih nyambut damel wonten sabin. Namung kemawon, sabinipun sampun pareng dipunwastani ‘telas sawah’.

MH370 & Emha 370

Saya tegaskan sejak awal bahwa saudara-saudara semua harus meyakini bahwa pilot MH370 itu adalah Pak Ngabdul. Memang sulit menerima kenyataan ini. Tapi saya mohon untuk tetap dilaksanakan.

Lalu kenapa harus hilang? Pesawat itu hilang beneran atau dihilangkan? Atau malah ada pihak yang tega menghilangkan pesawat hanya untuk mengalihkan perhatian? Simak berita berikut ini.

ngabdulisasi.com [divider]Dilatarbelakangi oleh maraknya aksi skenarionisasi sebuah peristiwa, hilangnya pesawat MH370 terancam mendapat tudingan serupa. Kerap kali aksi usil tersebut bertujuan untuk mendukung kepentingan suatu pihak.

Pak Ngabdul awalnya tidak berprasangka apa pun. Seperti biasanya, ia menerbangkan pesawat Emha370 dengan bahagia. Baru beberapa saat lepas landas, Pak Ngabdul berupaya untuk melaporkan keadaan pesawatnya. Namun ternyata, banyak sekali pernyataan yang tidak ditanggapi oleh Pemandu Lalu Lintas Udara (PLLU) sesuai dengan konteksnya. Seperti misalnya, “Aku sudah terbang dengan santai,” kata Pak Ngabdul. Lalu PLLU menanggapi, “Apa kamu sudah terbang dengan santai?” 🙁

Lagi…

Pak Ngabdul: “Iki mengko mudhun jam pira? Cuaca cerah apa ora?

PLLU: “Lha kowe arep ngapa?”

Pak Ngabdul: “Alah, yung…

Pak Ngabdul geram sesaat dengan suasana seperti ini. Hingga akhirnya, ia memutuskan secara diam-diam menurunkan pesawatnya tanpa sepengetahuan PLLU. “Para penumpangku kabeh, iki aku lagi sensi karo PLLU. Tak putusne, awake dhewe mudhun neng kene wae. Papan kene iki mbok arani alas ya entuk. Segara ya entuk. Perkampungan apa meneh, entuk! Wis pokoke bebas,”

“Mangan sak anane wae. Nek kesel, ya turu. Neng njero pesawat entuk, neng njaba ya entuk. Bebas.”

“HPmu arep mbok uripne, ya uripna. Ben keluargamu tambah bingung. Mergane, wong-wong sing nonton tipi ngira yen awake dhewe iki wis mati. Nek isih nekat mbok uripne, kuwi tegese malah nguwatne bukti yen prastawa iki mung apus-apusan.”

Dengan keputusan seperti ini, Pak Ngabdul berusaha menyampaikan pesan: kewaspadaan harus diutamakan. Meskipun Pak Ngabdul tahu peristiwa hilangnya pesawat ini berpotensi mengalihkan orang-orang akan kewaspadaan itu sendiri, tetapi inilah satu-satunya cara yang ia ambil demi kembalinya kesadaran orang-orang yang ia sayangi. 🙂

Dhanyangan

Ajaran tentang bahaya sifat sombong memang mudah didengarkan. Mudah dihafal, tapi sangat sulit dijalankan. Dengan pertimbangan efektivitas metode pembiasaan, orang-orang kuno menyusun serangkaian metode pembelajaran yang secara tidak langsung membiasakan masyarakat agar bersikap rendah hati.

Namun sayang, tidak semua rencana pembelajaran dapat berjalan sesuai tujuan. Beberapa aturan itu malah disalahartikan. Orang berhasil jadi rendah hati, tapi tidak berhasil jadi orang yang banyak berpikir. Aturan tinggal aturan, tak pernah ada keinginan untuk memikirkan sebab munculnya aturan itu sendiri.

Ambil saja satu contoh aturan. Kalau akan mengirimkan sejumlah makanan ke luar kota, sedangkan nanti harus melewati kali berpenunggu itu, jangan sampai lupa untuk menyisihkan sedikit bagian, biar rasa makanan yang diantar tetap nikmat. Kalau sampai lupa, siap-siap saja makanan akan berasa hampa.

Masih takut belum bisa rendah hati? Ya silakan menyisihkan makanan. Sedikit saja, tidak usah banyak-banyak. Sebaliknya, kalau sudah tahu sebab dimunculkannya aturan itu, daripada membuang makanan sia-sia, lebih baik kan memilih untuk menjaga kerendahan hati saja.

Kalau masih ditunggangi kesombongan, prestasi setinggi apa pun pasti tak ada rasanya. Itu kira-kira pesan dari rencana pembelajaran orang kuno yang disusun untuk kita.

Aturan ini tidak hanya berlaku untuk makanan. Sudah diperkenankan menjalar ke beberapa sudut kehidupan. Contohnya, beberapa instansi yang secara resmi berprestasi, ternyata kalau kita berada di dalamnya, suasananya hampa. Asin wae ora, apa meneh gurih. 🙂

Otak Butuh Kepercayaan

Saya paling tidak nyaman kalau bekerja dengan seseorang, tapi dia tidak memberi kepercayaan. Belum mulai bekerja saja sudah me-wanti-wanti banyak sekali: Jangan pegang yang ini. Itu berbahaya. Jangan-jangan kamu belum bisa? Kowe tau sekolah apa ora ta?

Mendingan tidak usah bekerja! Itu yang saya pikirkan.

Sama halnya saat mau ujian. Kalau sekiranya sudah belajar, ya itu sudah cukup. Tidak perlu lagi ragu dengan kemampuan otak kita. Kalau otak tidak dikasih kepercayaan, “Mendingan tidak usah mengajak saya bekerja sama!” Itulah ungkapan kekecewaan otak kita.

Masih untung kalau otak ‘cuma’ ngambek gak mau bekerja. Ada kalanya si otak ini berlebihan dalam meluapkan kekecewaannya. Sampai-sampai perut kita dibuat mules. Keringat dingin disuruh keluar. Paling parah kalau otak menyuruh kita pingsan di ruang ujian. Hehehe…

Doa saya, semoga yang mau menghadapi Ujian Sekolah dan Ujian Nasional sudah bisa puas dengan otaknya masing-masing. Jagalah perasaan otakmu. Biar semuanya berjalan dengan lancar.