Menang!

Kemenangan tidak perlu diraih sampai musuh meregang nyawa. Membuatnya bingung atas rasa bersalah yang bergentayangan tiap malam, itu sudah cukup. Biarlah kemenanganku menyatu bersama kepulan asap rokok yang ikut andil dalam menjaga keseimbangan alam. Hahaha…

Teloletkan!

Wahai para sopir bus telolet. Kutangkunpkan kedua tanganku. Seraya memohon: teloletkan apa yang seharusnya telolet. Apalagi di hadapanmu telah berjajar anak-anak generasi penerus bangsa ini.

Sadarkah bahwa engkau telah menambah kekecewaan mereka jika sampai telolet yang seharusnya lolet tapi tidak engkau teloletkan. Mereka sudah cukup sering dikecewakan, Pak.

Nuwun.

Mitos 29 Februari

Pas dina iki, aku biasa wae. Asline iki ya mung dina tambahan kesepakatane para manungsa. Ket wingi-wingi ya wis nambah. Sithik-sithik, ning ora krasa.

 

Wis umum menawa barang sing ora ketok mlaha kuwi, arang-arang sing maspadakake.

Yen kesepakatan kaya ngene iki, akeh sing padha ngrayakake. Klebu aku dhewe. Merga meh ora ana sing untung apa dene sing rugi.

Seje meneh karo kesepakatan-kesepakatan liyane sing bisa digolekne bathi. Mesthi wae ana sing gelem ngrayakne, ana uga sing moyok-moyoki.

Yen tranah niyat golek bathi, kana neng pasar kana. Nyepakne modhal dhisik. Wis ora modhal, kepengin bathi. Woo, lha kene, ayo tak kancani. Hahaha…

Syarat Lolos Tilang Tambah 1 Lagi

Menyalakan lampu kendaraan di siang hari kini bukan hal baru lagi. Konon alasan ilmiah yang menjadi pertimbangan diberlakukannya aturan ini adalah kecepatan cahaya yang lebih besar dibandingkan kecepatan rambat bunyi (klakson). Cahaya merambat 300.000.000 meter tiap detik. Sedangkan bunyi hanya 300 meter tiap detiknya.

Banyak pihak berharap dengan ikut andilnya kecepatan cahaya ini, angka kejadian kecelakaan lalu-lintas dapat menurun. Namun tidak sedikit pula yang menolak dengan alasan isyarat cahaya lampu hanya bisa digunakan saat berlawanan arah. Kalau dari belakang terus mau nyalip, ya harus ngebel thin-thin. 

Terlepas dari itu semua, muncul sebuah wacana unik. Ide ini menyangkut keberlangsungan hidup dari dua lampu utama tiap-tiap kendaraan. Lampu jauh dan lampu dekat.

Saat berkendara pada malam hari, tentu lampu dekat lebih dominan. Walaupun lampu jauh tak kalah penting juga untuk memberikan isyarat kepada pengguna jalan lain.

Sedangkan pada siang hari, kita cenderung berpikir untuk menggunakan lampu jauh. Karena tidak seperti malam hari, meskipun lampu jauh yang dinyalakan, pasti tidak mengganggu pengguna jalan lain. Alias tidak menyilaukan.

Selain alasan di atas, kita juga perlu memikirkan masa hidup kedua lampu itu. Kalau siang malam hanya lampu dekat yang dipakai terus, tentu ia akan cepat mati.

Maka demi kelancaran berkendara, kita harus menyeimbangkan waktu menyala antar keduanya. Idealnya ya sama.

Ini masalahnya, apa kita sanggup dan telaten melakukan hal itu?

Kalau sekiranya tidak, mari kita minta tolong kepada pihak-pihak terkait agar mau membantu. Kalau boleh, syarat lolos tilang ditambah satu lagi.

Nanti rencananya, di spedometer akan ditambah alat penghitung waktu menyala lampu jauh dan dekat. Kalau tidak sama nilainya, kita kena tilang. 😀

Tips Mengajar Asyik di Kelas

Mengajar di kelas perlu banyak persiapan. Tiga hal penting yang wajib diperhatikan antara lain: persiapan, persiapan, dan persiapan. Persiapan adalah kunci utama.

Namun ada satu hal yang amat sangat paling penting. Sayang, satu hal ini jarang diperhatikan. Akhirnya, mengajar di kelas jadi tidak asyik. Anda penasaran? Simak artikel berikut ini:

Hal paling penting tapi jarang diperhatikan saat mengajar di kelas adalah lamanya waktu berdiri. Katakanlah tiap hari kita mengajar sejak pukul 7 sampai dengan 14. Tidak kita sadari bahwa hampir 7 jam penuh kita berdiri.

Jika kita tidak mengantisipasi hal ini, maka efek dari kelamaan berdiri akan terasa pada sore hari. Kaki terasa tegang, linu, kesemutan, dan macam-macam.

Kini pilihan ada di tangan Anda. Ubah kebiasaan Anda, atau rasakan sendiri akibatnya. Hahaha…

Selamat mencoba!

Tuku Sepedha Motor

“Pak!” Bu Sakinah membuka percakapan.

“Ada apa ta, Bune?” jawab Pak Ngabdul santai.

“Ndhak kok, Pak. Aku cuma heran. Coba itu jenengan pirsani. Akhir-akhir ini anak kita kok kerjaannya cuma ngelapi sepeda motor punyane jenengan terus? Mesakne, Pak…”

“Ha mbok biar,” jawab Pak Ngabdul dengan lebih santai.

“Jangan-jangan minta motor?” Bu Sakinah makin panik.

“Memang iya,”

“Wadhuh, kojur tenan iki, Pak!”

“Kemarin, dia bilang sama saya, minta dibelikan motor. Terus saya jawab, Le, kalau belum bisa beli sendiri, sementara ini kamu ngelapi dulu saja. Mbesuk pasti akan datang hasil jerih payahmu saat ini.”

“Alhamdulillah kalau gitu, Pak. Ternyata anak kita nurut.” kepanikan Bu Sakinah mereda.

“Terus saya juga bilang sama bocahe, ibumu kan suka sama bocah yang resikan. Kalau kamu konsisten ngelapi, pasti ibumu tidak tega melihat kerjaanmu yang nrenyuhne ati itu tiap hari, Le. Tunggu saja, pasti tidak lama lagi kamu dibelikan motor. Pakai uangnya ibumu.”

Akhirnya, Bu Sakinah tak kuasa menahan amarah.