Kabar Baik

Kabar baik bisa lebih ber-energi daripada sarapan pagi. Untuk itu marilah kita berusaha keras berbagi kabar baik setiap harinya. Demi kelangsungan hidup manusia Indonesia yang sehat lahir dan batin. Amin.

Pertinyiinnyiii…

Saya yakin, dari sekian banyak pemimpin golongan-golongan itu telah melalui perjalanan panjang mencari jatidiri. Golongan apa, sih? Ya golongan agama. Wis ben jelas.

Dan mereka memang benar-benar sudah menemukan jatidirinya. Jadi, apapun golongannya, pemimpinnya memang bukan orang sembarangan. Kalau pengikutnya, entahlah.

Lantas pertanyaannya, sudahkah jatidiriku kutemukan? Kalau belum, mau sampai kapan mencari? Atau selamanya aku hanya akan ikut-ikutan? Kalau sudah, lantas aku mau apa? Akankah hanya akan mengambang di antara lautan kebenaran-kebenaran ini? Membanggakan pemahaman tanpa aplikasi? Tidakkah lebih baik aku segera menakar kadar kebermanfaatanku bagi orang-orang disekitarku? Menakar sejauh mana aku ikut menjaga keseimbangan alam seisinya?

Lalu berbuat sebisanya, meski sedikit tapi terus-terusan? Iya, kan?

(Sing arep njawab sapa?)

Apa Iya?

Keterpaduan agama dan budaya sulit diwujudkan. Sebab keduanya sama-sama punya pakem yang wajib dijaga kelestariannya. Para praktisi murni diantara keduanya (pemuka agama atau budayawan), pasti sama-sama berupaya keras menentang; jika ada pihak yang ingin ngowah-owahi pakem. Baik pakem agama maupun pakem budaya.

Jika sampai ada praktisi budaya yang beragama secara baik, atau pemuka agama yang menjunjung tinggi kelestarian pakem budaya leluhur; maka tak heran kalau mereka banyak pengikutnya.

Saya yang tinggal di lingkungan budayawan, sering menemui upaya keras menentang owah-owahan pakem. Apalagi jika pengubahan itu dilakukan atas dasar aturan agama.

Tapi sebaliknya, ternyata pakem budaya yang dipertahankan mati-matian oleh budayawan ini juga dikeluhkan oleh praktisi murni agama. “Sama-sama kesepakatan manusia mbok ya yang agak luwes dikit…” tandas mereka yang saya yakin ingin sekali menjaga keutuhan NKRI.

Apakah Kita Sedang Dijajah?

Kalau membaca hasil analisis rekan-rekan kaum cerdik cendikia tahun 2016 tentang penjajahan di era modern, kelihatannya memang benar: kita sekarang sedang dijajah. Apakah dulu semasa penjajahan Belanda (yang katanya 250 tahun itu) kondisinya mirip dengan sekarang? Maksudnya, ada yang sadar sedang dijajah dan ada pula yang santai-santai saja?

Continue reading “Apakah Kita Sedang Dijajah?”

Identitas Diri

Identitas diri lebih layak diperjuangkan terlebih dahulu daripada identitas organisasi. Karena identitas organisasi itu, biasanya, meski hanya benda mati, selalu dihormati dan dijunjung tinggi-tinggi. Seperti lambang, bendera, kantor sekretariat, misalnya.

Kamu benda hidup, kan?