Lagu Malam Seekor Anjing

Ditulis oleh: Indra Tranggono

Dicopy dari: https://cerpenkompas.wordpress.com/2006/05/28/lagu-malam-seekor-anjing/

Aku sempat melihat ekor gerakan sesosok bayangan melintas di samping rumah. Tempias cahaya lampu taman membantu mataku untuk melihat sosok itu melompat pagar rumah tuanku. Namun, hujan yang turun deras membuat malam makin kelam, hingga aku kehilangan jejak orang yang mencurigakan itu. Kuedarkan pandanganku. Tapi, orang itu terlalu sigap menyelinap.

Aku mencoba menakutinya dengan menggonggong sangat keras. Kuharap orang itu panik, dan kabur dengan sendirinya. Tapi aku kecewa. Beberapa gonggongan panjang yang kulepas tak mendapatkan reaksi apa-apa. Malam tetap terbungkus kesunyian. Dan aku merasa menggigil sendirian. Jejak bedebah itu tak kulihat lagi. Aku pun bergidik. Bayangan kengerian mengepungku: orang itu menjeratku dengan kawat baja dan mengantarkan tubuhku di penjual tongseng, seperti ratusan bahkan ribuan kawan-kawanku.

Kantuk yang menggelayut di mataku keempaskan. Tatapan mataku terus kebelalakkan. Begitu orang itu tampak, akan langsung kuterkam. Gigi dan taringku rasanya sudah tidak sabar mengoyak urat nadi di lehernya. Awas! Waspadalah hei bedebah!

Aku menggonggong lagi. Sangat keras. Kukatakan, aku sangat tidak senang kepada tamu yang tidak sopan, yang datang malam-malam dan menambah pekerjaaanku. Semestinya aku sudah tidur, bermimpi bisa bertemu dengan Moli, anjing tetangga yang lama kutaksir itu. Aku sangat ingin bercinta dengannya, dalam mimpiku malam ini. Tapi cita-cita itu telah digugurkan oleh orang yang tidak tahu diri itu. Dasar tidak manusiawi!

Mendadak kudengar sebuah benda jatuh di depanku. Kuamati. Ternyata segumpal daging sapi segar. Aku sangat hafal baunya. Tuanku setiap pagi dan sore memberiku daging seperti itu. Si pelempar itu mungkin menduga aku langsung menyantap daging itu. Aku tersenyum masam. Daging itu hanya kulihat lalu kutinggalkan. Aku bukan anjing bodoh yang tidak bisa membedakan mana daging segar dan mana daging penuh racun. Orang itu juga terlalu meremehkan. Dia mengira aku bisa diakali hanya dengan segumpal daging. Bukannya sombong. Pengalamanku menjadi anjing belasan tahun membuat aku sangat terlatih untuk membedakan mana pemberian yang tulus dan mana pemberian yang basa-basi, penuh pamrih bahkan ancaman. Melihat caranya memberikan daging saja aku sudah sangat tersinggung. Betapa orang itu tak punya sopan santun. Aku memang sangat mengharap pemberian orang, tapi aku bukan pengemis. Meskipun anjing, aku tetap punya harga diri. Martabat anjing harus kujunjung tinggi.

Mungkin orang itu kecewa, melihat aku acuh tak acuh. Tapi dia tidak menyerah. Ini usaha yang sangat kuhargai. Ia melemparkan lagi segumpal daging. Kali ini lebih besar. Namun, aku hanya menatapnya sebentar, lalu berlalu. Aku memang sengaja mengaduk-aduk perasaannya, biar dia kecewa dan mengurungkan niat buruknya untuk mencuri. Sengaja kupakai cara yang lebih manusiawi agar tidak jatuh korban. Aku tak ingin lagi melihat ada maling babak belur bahkan mati dihajar massa gara-gara tertangkap. Aku sangat sedih dengan nasib manusia yang celaka itu, meskipun hal itu membuat aku bersyukur: ternyata menjadi anjing seperti aku jauh lebih beruntung daripada menjadi orang miskin. Sungguh, aku mensyukuri rahmat ini.

Lama tak ada reaksi. Aku menduga orang itu kecewa, lalu pergi begitu saja. Diam-diam aku pun bersyukur, malam ini ada orang telah mengurungkan niat jahatnya. Bagiku ini sebuah prestasi. Meskipun aku ini hanya anjing, binatang yang sering dicerca dan dinistakan, aku toh masih punya niat baik.

Namun, kebanggaan yang diam-diam menggumpal dalam rongga dadaku itu, akhirnya pudar. Ketika aku mengitari rumah tuanku, aku melihat orang itu duduk di pojok halaman di bawah pohon rambutan. Aku mundur beberapa langkah, siap-siap melawan jika orang itu menyerangku. Kepada sesama anjing, aku bisa menduga niatnya. Tapi kepada manusia? Ah, hati manusia tak bisa dijajaki. Penuh misteri. Mereka bisa saja menyimpan rapi kekejaman di balik senyum ramahnya. Aku harus waspada. Awas!

Orang itu tetap saja diam. Aku mencoba mendekat. Ia tetap diam. Kuberikan gonggongan lirih, seperti berbisik. Tapi dia memberikan isyarat agar aku diam. Aku pun menurut. Kudekati dia. Kuamati orang itu. Dari tempias cahaya lampu, tampak wajahnya lebih tua dari usianya, penuh kerut-merut. Melihat urat-uratnya, ini pasti orang susah! Urat orang susah sangat tidak teratur dan membentuk garis yang serba melengkung. Aku tahu itu, karena dulu, aku cukup lama bergaul dengan para gelandangan yang mendiami gubuk-gubuk di pinggir sungai, sebelum aku dipungut sebagai anjing piaraan tuanku.

Ya, Tuhan, dia menangis. Baru kali ini kulihat ada calon maling begitu cengeng. Tapi sebentar… tangisnya sangat dalam. Ya sangat dalam. Dan tanpa sadar aku jadi terharu (baru kali ini ada anjing yang terharu). Tapi, aku selalu waspada. Siapa tahu itu tangis buaya. Bisa saja diam-diam ia menyimpan pisau, dan siap dihunjamkan di perutku. Maka, kuambil jarak beberapa depa. Kulihat apa reaksi selanjutnya. Orang itu tetap asyik dengan tangisnya. Ia menyebut empat anaknya yang tidak bisa bayar sekolah dan hendak dikeluarkan gurunya. Ia menyebut anak gadisnya yang kini harus dirawat di rumah sakit karena diperkosa oleh tetangganya. Ia menyebut nama istrinya yang hamil lagi (untuk yang terakhir ini aku terpaksa tidak bisa terharu).

Semula kupikir dia sengaja menjual iba kepadaku. Bukankah kebanyakan manusia itu tukang main drama yang ujung-ujungnya hanya menelikung pihak lain? Tapi, sebagai anjing yang terbiasa membedakan mana yang tulus dan mana yang basa-basi, aku berani menyimpukan bahwa kesedihan orang ini cukup meyakinkan. Entah kenapa, naluriku memaksaku berpikiran begitu.

Aku pun mulai menimbang-nimbang untuk memberikan kebebasan orang ini bisa masuk rumah tuanku, mengambil sedikit barang-barang agar tangis anak istrinya berhenti. Kukibaskan ekorku, mengenai kakinya. Dia memandangku. Kulihat sumur penderitaan yang begitu dalam dan gelap. Tangannya mengelus-elus kepalaku. Kubalas sentuhan itu dengan kibasan ekorku yang menyentuh kakinya. Rupanya ia tanggap. Ia pelan-pelan bangkit, menyiapkan berbagai peralatan, ada besi pengungkit, drei, pukul besi, alat pemotong besi, alat pemotong kaca, linggis kecil dan masih banyak yang lain. Ternyata perlengkapan maling jauh lebih lengkap dan canggih daripada bengkel. Aku terharu sekaligus bangga dengan usahanya untuk menjadi maling beneran. Maling pun tetap harus serius, agar tidak konyol dicincang massa.

Pelan-pelan ia menyelinap pepohonan. Hujan turun makin deras. Aku terpejam dan tidak ingin membayangkan apa yang dilakukan orang itu di rumah tuanku. Diam-diam aku merasa berdosa atas pengkhianatanku, namun aku juga berdoa semoga orang itu selamat. Yang kubayangkan hanyalah tangis anak istrinya di rumahnya

Tidak lebih dari lima menit, orang itu telah keluar membawa bungkusan. Aku hanya berdoa semoga saja dia bukan maling yang rakus dan hanya mencuri arloji, hand phone, atau benda lainnya. Dengan langkah yang gagah, ia menjumpaiku. Tangannya mengelus-elus kepalaku. Segaris senyuman kini terpahat di bibirnya. Aku menunduk. Perasaanku campur aduk. Tiba-tiba kesedihanku pun jebol. Aku menangis dengan suara ringkikan kecil. Orang itu merasa serba salah. Ia merengkuh tubuhku dan hendak memangku aku. Tapi aku menolak dengan halus. Ia mencoba memberiku segumpal daging. Dengan bahasa isyarat, ia meyakinkan bahwa daging itu murni, bukan seperti yang dilemparkannya sebelumnya. Tapi aku merasa kehilangan selera makan.

Tiba-tiba kudengar kegaduhan dari dalam rumah tuanku. Istri tuanku menjerit-jerit histeris, sambil menyebut kalung berliannya yang hilang. Suaminya berteriak-teriak sambil berlari keluar, diiringi letusan senapan yang membabi buta. Kata “maling” diteriakkan berulang-ulang. Aku memukul kaki orang itu dengan ekorku, dan berharap ia segera berlari. Ia tampak panik, dan canggung. Mungkin ia merasa berat berpisah denganku. Tapi aku terus memaksanya untuk segera lari. Aku sangat panik. Kulihat tuanku berlari makin mendekati tempat pertemuan kami. Senapannya terus menyalak. Aneh, maling itu tetap diam. Aku memaksanya lari. Tapi ia hanya berlindung di balik pohon rambutan. Sial, muncul kilat. Tempat kami mendadak terang dalam sekejap. Kontan tuanku langsung melepas timah panas. Orang itu tumbang, rebah ke tanah. Muncrat darah merah dari dadanya. Aku menggonggong sangat keras. Aku marah kepada tuanku yang sangat kejam. Tapi tuanku justru mengelus-elus kepalaku. Dia merasa bangga punya anjing piaraan yang telah menyelamatkan hartanya dari jarahan maling malang itu. Aku menggonggong makin keras. Makin keras, hingga orang-orang pun keluar rumah. Mereka mengelu-elukan aku. Hampir tak ada yang peduli dengan mayat maling malang itu yang membujur kaku… Mata maling itu tetap saja melotot, seperti menatapku. Terus menatapku. Aku masih mendengar tangisnya, tangis anak dan istrinya. Tangis itu sangat panjang dan dalam, penuh kesunyian.

 

Yogyakarta 2006

Menulis Cerpen

Menulis cerpen mulai dilakukan di Indonesia sejak tahun 1930. Kalau saya, menulis cerpen pertama kali waktu masih duduk di bangku SMP. Saya ingat betul waktu itu saya menulis cerpen dengan suka cita. Sayang sekali, saya lupa cerpennya berjudul apa.

Menulis cerpen ada aturannya. Aturan utamanya adalah: pernah membaca cerpen. Kalau belum memenuhi syarat utama tersebut, silakan baca dulu salah satu contoh cerpen berikut ini: Tani Sakti.

Aturan berikutnya adalah, mengetahui alur cerita. Setiap cerita biasanya punya alur begini:

  1. perkenalan keadaan;
  2. pertikaian/konflik mulai terjadi;
  3. konflik menjadi makin rumit;
  4. klimaks;
  5. peleraian/solusi/penyelesaian.

Biar menulis cerpen lebih mudah, penokohannya juga harus diperhatikan. Penokohan atau perwatakan berarti sebuah lukisan seorang tokoh cerita. Bisa diambil dari keadaan lahir atau batinnya. Boleh juga dari keyakinannya, pandangan hidupnya, adat-istiadatnya, dan sebagainya. Silakan digambarkan langsung atau tidak langsung.

Tidak kalah penting adalah aturan tentang latar. Ada latar tempat, waktu, dan suasana.

Menulis cerpen tidak boleh asal-asalan. Paling tidak ada nilai moral atau nilai keagamaan yang mau disampaikan.

Tani Sakti

TANI SAKTI

Oleh: Dra. Heny Rahayu

NIP 19521025 199512 2 002

 Pak Ngabdul masih belum bisa meredam pikirannya pagi ini. Imipiannya tadi malam masih sangat jelas tergambar. Kelihatannya kepingan puzzle idenya hampir ketemu. Ia mengubah posisi duduknya. Yang semula jigang bersandar di tembok depan rumah, kini ia terlihat sila methekel. Kemudian ia menghisap rokoknya lebih dalam daripada sebelumnya.

“Belum berangkat ta, Pak?” suara Bu Sakinah memecah konsentrasi Pak Ngabdul.

“Ah, Bune, Bune. Sukanya kok ngganggu orang sedang bepikir saja!”

“Berpikir terus! Kapan kerjanya?!”

“Kamu ndhak tahu pola pikir saya, Bu. Diam saja!”

“Kalau sudah tani, ya tani saja! Ndhak usah macem-macem, Pak!”

Nyoba mikir cari kerja lain kan ya boleh ta, Bu. Orang kok pikirannya tidak berkembang.”

“Kerja lain apa? Maling?”

Pak Ngabdul menoleh ke istrinya dengan mata terbelalak. Ia tidak menyangka kalau istrinya berani mengucapkan kalimat semacam itu.

Bu Sakinah kembali ke dapur. Ia kesal dengan tingkah laku suaminya. Akhir-akhir ini omongannya mirip orang berkhayal. Tiap hari yang dibicarakan selalu saja Mas Norman. Pegawai negeri yang sukanya cuma dolan. Meski begitu, mobilnya gonta-ganti terus tiap bulan. Kerja sampingannya ngajak orang-orang kumpul. Mirip seperti rembugan RT itu. Lalu orang-orang daftar pakai uang. Dapat bonus tiap bulan. Tiap tahun uangnya berlipat ganda. Menggunung emas, mirip lautan berlian.

Pak Ngabdul mulai terpengaruh bisnis itu berkat dorongan kuat dari Mas Norman.

“Bu, ini bisnis, lho!” Pak Ngabdul setengah berteriak. Biar istrinya yang di dapur dengar.

“Bisnis?” Bu Sakinah tidak yakin.

“Iya, Bu. Zaman sekarang, petani seperti kita ini harus inovatif, Bu!”

“Inovatif yang bagaimana ta, Pak? Lha wong jenengan saya suruh belajar buat kompos saja tidak mau. Dikasih buku sama Man tentang kremi EM-4 yang menguntungkan juga belum dibaca.”

Pak Ngabdul mendekati istrinya yang sedang isah-isah.

“Pokoknya ini menjanjikan, Bu. Itu baru setahun, lho. Baru satu juta. Coba bayangkan kalau uangnya itu seharga sawah kita?!”

“Pak! Jangan singgung-singgung lagi masalah jual sawah!” Bu Sakinah berhenti mencuci piring.

“Tapi, Bu. Ini demi…”

“Tidak, Pak. Itu satu-satunya warisan dari Mbah Wa Saman.” Tukas Bu Sakinah sambil berdiri, kemudian menata piring-piring yang sudah selesai dicuci.

Merasa diskusinya dengan sang istri tidak menemui jalan keluar, akhirnya Pak Ngabdul berangkat ke sawah. Sepanjang jalan, pikirannya masih terbayang ajakan Mas Norman. “Pokoknya aku harus dapat jalan!” katanya dalam hati. Langkahnya menuju sawah makin cepat.

Sampai di sawah, ia melihat tanaman jagung Pak Wira yang sudah tinggi-tinggi. Jantennya sudah keluar. Luar biasa. Sedangkan miliknya, benihnya saja baru selesai ditanam dua minggu kemarin.

Piye, Dul?” sapa Pak Wira sedikit mengejek.

“Apanya, Pak?”

“Tanamanmu kok biasa saja? Tidak sebagus tanamanku ini lho. Ini lho, coba kamu lihat,”

“Biar saja. Itu, tanaman saya juga sudah siap dangir kok, Pak,” sambil menunjuk tanamannya yang baru setinggi anak ayam.

“Haha, sudah tanggal segini kok baru dangir,”

“Biar saja. Sebentar lagi saya mau pindah profesi. Saya mau ikut bisnis menjanjikan,” lalu Pak
Ngabdul menuju sawahnya.

Sepulang dari sawah, perbincangan tentang menjual sawah itu kembali terulang. Kali ini Pak Ngabdul lebih ngotot. Pasalnya, nanti jam delapan malam, Mas Norman sudah menunggu keputusannya.

“Jadi orang mbok jangan egois ta, Bu!”

“Kamu itu Pak yang grusa-grusu. Aku ini kurang ngalah gimana coba?”

“Dasar wong wedok tidak tahu diuntung! Goblok!” setelah melemparkan cangkir jembung warna hijau ke lantai, Pak Ngabdul lalu pergi.

Mendengar ucapan suaminya, Bu Sakinah hancur hatinya. Menangis sejadi-jadinya. Ia merasa serba salah. Selama ini ia sudah rela hidup sederhana. Tapi masih saja mendapat perlakuan yang kurang mengenakkan dari suaminya.

Sampai di rumah Mas Norman, Pak Ngabdul mendapat penguatan lebih hebat dari sebelumnya.

“Sebulan kita bisa dapat sepuluh juta enam ratus tujuh puluh tujuh ribu tujuh ratus lima puluh tujuh rupiah, Pak!” tandas Mas Norman.

“Wah, banyak sekali ya, Mas.”

“Jangan heran dulu, Pak. Ini belum bonusnya.”

“Bonus?”

“Iya. Bonus kesetiaan 5 %. Bonus kerelaan 10 %. Sawah jenengan itu sudah cukup untuk modal awal. Tunggu apa lagi, Pak?”

“Baik, Mas. Tapi…”

“Ya kalau jenengan belum bisa ikut sekarang, biar Mas Sarmo dulu saja. Sawah beliau kemarin sudah ada yang nawar tiga puluh.”

“Satu lagi, Pak. Bisnis ini butuh fokus. Kalau fokus, berhasil. Kalau tidak, ya tidak. Ndhak boleh jadi bisnis sampingan,”

Lha jenengan kan pokoknya jadi pegawai negeri, Mas?”

“Siapa bilang, Pak. Pegawai negeri itu pekerjaan sampingan saja,” kata Mas Norman yang kemudian tertawa terbahak-bahak.

Pak Ngabdul pasti berhenti berkhayal kalau sudah ingat sawahnya. Malam ini ia kembali pulang dengan beban yang makin banyak. Ia merasa sungkan karena tidak segera memberikan keputusan di hadapan Mas Norman tadi. Padahal menurutnya, Mas Norman itu orang yang baik sekali. Sudah bersusah payah mau memberi jalan untuk mengubah nasib orang kecil. Tanpa meminta imbalan. Apalagi setiap datang ke sana selalu disuguhi rokok samsu dan white coffee. Jarang sekali ada orang sebaik Mas Norman di Dusun Wangun ini.

Tambah lagi, kalau sampai Mas Sarmo yang selama ini terkenal jadi saingan pamor Pak Ngabdul lebih dulu kaya, apa jadinya nanti. Pasti semua orang menganggap remeh pada Pak Ngabdul. Belum lagi masalah orang-orang sedusun Wangun yang sudah tahu kalau Pak Ngabdul mau pindah profesi jadi bisnisman.

Tapi ia juga sadar, istrinya tidak seperti yang diharapkan. Bagaimanapun caranya, istrinya pasti bersikukuh tidak mau menjual sawah warisan itu. Bisa saja Pak Ngabdul diam-diam menjualnya. Tapi, Mbah Wa Saman itu dukun sakti. Pasti arwahnya selalu mengganggu kalau sampai sawah itu dijual. Apalagi tanpa sepengetahuan Bu Sakinah, anak angkatnya.

Sampai di perempatan dekat Kuburan Gedhong, ia berhenti. Ia menguatkan tekadnya untuk matek Aji Sirep Begananda malam ini.

Itu ilmu maling. Ia tidak akan diketahui karena seluruh penghuni rumah terlelap tidur. Ya, para pencuri memiliki ajian ampuh yang bernama Aji Sirep Begananda. Untuk memiliki ajian hebat ini, dulu Pak Ngabdul harus puasa mutih 21 hari atau 40 hari dan meneruskan dengan puasa pati geni 3 hari atau 7 hari, yang dimulai dengan hari Rebo Pon.

Setelah mengambil segenggam tanah kuburan, Pak Ngabdul kembali meneruskan langkahnya. Ia sudah bersiap beraksi malam ini. Mau maling, di rumahnya sendiri!

Di depan rumahnya, Mantra Aji Begananda pun dibacakan:

Hong ingsun amatak ajiku sirep begananda kang ana indrajit, kumelun nglimuti ing mega malang, bul peteng dhedet alimengan upas racun daribesi, pet pepet kemput bawur wora wari aliweran tekane wimasara, kang katempuh jim setan peri prayangan, gandarwa, jalma manungsa tan wurung ambruk lemes wuta tan bisa krekat, blek sek turu kepati saking kersane Allah.

Bu Sakinah yang ada di dalam rumah sejenak kemudian terkena efek mantra itu. Sedari tadi ia menanti suaminya pulang. Tapi kini sudah tak kuat lagi menahan kantuknya. “Le, Man. Kalau sudah selesai belajarnya, terus tidur, ya.”

Tidak terdengar jawaban dari Man, anaknya. Bisa dipastikan ia sudah tidur lebih dulu. Lantas Bu Sakinah pun tertidur di kursi ruang tamu.

Meski masuk rumahnya sendiri, Pak Ngabdul sadar malam ini ia bukan sang empunya rumah itu. Ia resmi disebut maling. Khusus untuk malam ini.

Segera saja ia menuju kamar. Bu Sakinah yang sudah terkena sirep, hanya dilihatnya sekilas. Dalam hatinya ia meminta izin, “Nah, semua ini aku lakukan demi masa depan kita.”

Kotak kayu ukiran itu dibuka. Semerbak wangi kembang melati menyebar ke seluruh sudut kamar. Tangan Pak Ngabdul gemetar. Tapi kata hatinya ia abaikan. Langsung saja ia ambil sertifikat sawah warisan yang jadi bahan perdebatan beberapa hari ini.

Semua isi almari dirasa sudah kembali seperti kondisi semula. Cepat-cepat Pak Ngabdul keluar rumah. Mumpung masih jam sepuluh malam, pasti Mas Norman belum tidur. Begitu pikirnya.

Sebelum menuju ke rumah Mas Norman, di depan rumahnya ia berhenti. Menoleh ke belakang beberapa detik. Senyum keberhasilan yang ia sunggingkan masih mirip seperti beberapa tahun yang lalu. Waktu ia melakukan aksi bejatnya ini di beberapa rumah di kawasan Surakarta.

Di perempatan dekat Kuburan Gedhong, ia kembali terhenti. Secara psikologis ia dipastikan tertekan atas kelakuannya malam ini. Beberapa jam tadi ia berhasil melupakan sumpah janjinya untuk tidak maling lagi. Tapi kini sumpah pocong itu bergema di langit malam Dusun Wangun. Entah apa yang terjadi, tiba-tiba tubuhnya gemetar. Matanya berkunang-kunang. Keringat dinging keluar dari tubuhnya. Tak mampu lagi ia menopang tubuhnya. Pak Ngabdul ambruk di tengah-tengah perempatan. Membujur ke utara.

Dalam ketidaksadarannya, ia seolah berjalan di hamparan sawah yang tak ada ujungnya. Lama sekali.

Tak disangka, ia berjumpa dengan Mbah Wa Saman.

“Dasar bajingan! Orang tidak tahu diuntung!” tangan Mbah Wa Saman menyasar ke perut Pak Ngabdul.

“Ampun, Mbah Wa. Saya mengaku salah.”

“Saya rela sawah itu dijual. Asalkan untuk kuburanmu! Sisanya, biarkan tetap jadi lahan tanam.”

“Maafkan kelakuan saya, Mbah. Saya tidak akan mengulanginya lagi. Saya minta bantuan kepada jenengan, Mbah. Biar saya tidak gegabah lagi,”

“Mintalah bantuan kepada dirimu sendiri! Sudah, pulang sana!”

Adzan Subuh mengembalikan kesadaran Pak Ngabdul. Sertifikat itu masih didekapnya erat. Segera saja ia pulang.

Sampai di rumah, ia melihat istrinya masih tertidur. Man juga belum pindah dari kasurnya. Sadar akan kesalahannya beberapa hari ini, ia berniat memperbaiki diri. Ia pergi ke dapur untuk nggodhog wedang. Semua alat makan ia cuci bersih. Kemudian ia menyeduh kopi.

Dalam kesadarannya, ia mencoba menata kembali kehidupannya yang wajar. Kembali ke pola pikir sederhana tentang jagung, ayam, kambing, sapi, dan tanah. Jagung, jagung, jagung, jadi ayam. Ayam, ayam, ayam, jadi kambing. Kambing, kambing, kambing, jadi sapi. Sapi, sapi, sapi, jadi tanah. Tanah, tanah, tanah, jadi mobil mewah. “Ah, tidak usah” pikirnya, “tanah yang tak berujung itu, akan
kutanami jagung yang lebih banyak lagi.”