2.3.a.9. Koneksi Antarmateri – Coaching

Heri Adhi Nugraha, S.Pd. | SMKS Pancasila 6 Jatisrono

Sistem Among (Tut Wuri Handayani) menjadi salah satu kekuatan dalam pendekatan pendampingan (coaching) bagi guru. Tut Wuri (mengikuti, mendampingi) mempunyai makna mengikuti/mendampingi perkembangan murid dengan penuh (holistik) berdasarkan cinta kasih tanpa pamrih, tanpa keinginan menguasai dan memaksa. Handayani (mempengaruhi) mempunyai makna merangsang, memupuk, membimbing dan memberi teladan agar murid mengembangkan pribadinya melalui disiplin pribadi.

Among merupakan bahasa Jawa yang memiliki arti mengasuh, mengikuti, mendampingi. Guru (Pamong/Pedagog) adalah seorang memiliki cinta kasih dalam membimbing murid sesuai dengan kekuatan kodratnya. Guru sejatinya bebas dari segala ikatan/belenggu untuk menguasai dan memaksa murid. Sistem Among dapat disebut juga sebagai upaya memanusiakan sang anak sebagai seorang manusia (humanisasi).

Menilik kembali filosofi Ki Hajar Dewantara tentang peran utama guru (Pamong/Pedagog), maka memahami pendekatan Coaching menjadi selaras dengan Sistem Among sebagai salah satu pendekatan yang memiliki kekuatan untuk menuntun kekuatan kodrat anak (murid). Pendampingan yang dihayati dan dimaknai secara utuh oleh seorang guru, sejatinya menciptakan ARTI (Apresiasi-Rencana-Tulus-Inkuiri) dalam proses menuntun kekuatan kodrat anak (murid sebagai coachee). ARTI sebagai prinsip yang harus dipegang ketika melakukan pendampingan kepada murid. Proses menciptakan ARTI dapat dilatih melalui pendekatan coaching sistem among dengan menggunakan metode TIRTA.

Pembelajaran berdiferensiasi adalah pembelajaran yang mengakomodir kebutuhan belajar murid. Guru memfasilitasi murid sesuai dengan kebutuhannya, karena setiap murid mempunyai karakteristik yang berbeda-beda, sehingga tidak bisa diberi perlakuan yang sama. Dalam menerapkan pembelajaran berdiferensiasi guru perlu memikirkan tindakan yang masuk akal yang nantinya akan diambil, karena pembelajaran berdiferensiasi tidak berarti pembelajaran dengan memberikan perlakuan atau tindakan yang berbeda untuk setiap murid, maupun pembelajaran yang membedakan antara murid yang pintar dengan yang kurang pintar.

Ciri-ciri atau kerekteristik pembelajaran berdiferensiasi antara lain; lingkungan belajar mengundang murid untuk belajar, kurikulum memiliki tujuan pembelajaran yang didefinisikan secara jelas, terdapat penilaian berkelanjutan, guru menanggapi atau merespon kebutuhan belajar murid, dan manajemen kelas efektif.

Pembelajaran Sosial dan Emosional adalah pembelajaran yang dilakukan secara kolaboratif oleh seluruh komunitas sekolah. Proses kolaborasi ini memungkinkan anak dan orang dewasa di sekolah memperoleh dan menerapkan pengetahuan, keterampilan dan sikap positif mengenai aspek sosial dan emosional.

Jadi secara ideal, guru merupakan pendamping bagi murid di sekolah. Utamanya dalam pemenuhan kebutuha belajar mereka. Sekaligus membentuk karakter/kepribadian sosial emosional mereka.

Coaching berbeda dengan konseling dan mentoring. Coaching sesuai konteks pendidikan sangat perlu dikuasai oleh guru.

Sumber gambar: https://trishdaviesinternational.com/wp-content/uploads/2021/06/difference-between-coach-and-coachee.jpg

2.2.a.9. Koneksi Antar Materi – Pembelajaran Sosial dan Emosional

CGP: Heri Adhi Nugraha | Asal Sekolah: SMKS Pancasila 6 Jatisrono

Modul ini berisikan materi tentang:

  1. Penjelasan tentang Pembelajaran Sosial dan Emosional (PSE) sesuai kerangka  CASEL  
  2. Penjelasan tentang  kesadaran penuh (mindfulness)
  3. Penjelasan tentang Pembelajaran  Sosial dan Emosional berbasis kesadaran penuh (mindfulness)
  4. Penjelasan  penerapan 5 kompetensi sosial dan emosional (KSE) berbasis kesadaran penuh (mindfulness)  dalam kegiatan pembelajaran di kelas, lingkungan sekolah dan komunitas praktisi.

Penjelasan tentang Pembelajaran Sosial dan Emosional (PSE) sesuai kerangka  CASEL

Pengertian: Pembelajaran Sosial dan Emosional adalah pembelajaran yang dilakukan secara kolaboratif oleh seluruh komunitas sekolah. Proses kolaborasi ini memungkinkan anak dan orang dewasa di sekolah memperoleh dan menerapkan pengetahuanketerampilan dan sikap positif mengenai aspek sosial dan emosional.

Pembelajaran sosial dan emosional bertujuan:

  1. memberikan pemahaman, penghayatan dan kemampuan untuk mengelola emosi (kesadaran diri)
  2. menetapkan dan mencapai tujuan positif (pengelolaan diri)
  3. merasakan dan menunjukkan empati kepada orang lain (kesadaran sosial)
  4. membangun dan mempertahankan hubungan yang positif (keterampilan membangun relasi)
  5. membuat keputusan yang bertanggung jawab.  (pengambilan keputusan yang bertanggung jawab)

Implementasi Pembelajaran Sosial dan Emosional (PSE)  dapat dilakukan dengan 4 cara:

  1. Mengajarkan Kompetensi Sosial Emosional (KSE)  secara spesifik dan eksplisit
  2. Mengintegrasikan Kompetensi Sosial Emosional (KSE) ke dalam praktik mengajar guru dan gaya interaksi dengan murid
  3. Mengubah kebijakan dan ekspektasi sekolah terhadap murid
  4. Mempengaruhi pola pikir murid tentang persepsi diri, orang lain dan lingkungan.

Pendekatan SEL yang efektif seringkali menggabungkan empat elemen yang diwakili oleh akronim SAFE (https://casel.org/what-is-sel/approaches/):

  1. Sequential/berurutan:   Aktivitas yang terhubung dan terkoordinasi untuk mendorong pengembangan keterampilan
  2. Active/aktif: bentuk Pembelajaran Aktif yang melibatkan murid untuk menguasai keterampilan dan sikap baru
  3. Focused/fokus: ada unsur pengembangan keterampilan sosial maupun  personal
  4. Explicit/eksplisit: tertuju pada pengembangan keterampilan sosial dan emosional tertentu secara eksplisit.

Penjelasan tentang  kesadaran penuh (mindfulness)

Kesadaran penuh (mindfulness) menurut Kabat – Zinn (dalam Hawkins, 2017, hal. 15) dapat diartikan sebagai kesadaran yang muncul ketika seseorang memberikan perhatian secara sengaja pada kondisi saat sekarang dilandasi rasa ingin tahu (tanpa menghakimi) dan kebaikan (The awareness that arises when we pay attention, on purpose, in the present moment, with curiosity and kindness). Ada beberapa kata kunci, yaitu: kesadaran (awareness), perhatian yang disengaja (on purpose), saat ini (present moment), rasa ingin tahu (curiosity) dan kebaikan hati (compassion). Artinya ada keterkaitan antara unsur pikiran (perhatian), kemauan (yang bertujuan), dan rasa (rasa ingin tahu dan kebaikan) pada kegiatan (fisik) yang sedang dilakukan. 

Kesadaran penuh (mindfulness) dapat dilatih dan ditumbuhkan. Artinya, kita dapat melatih kemampuan untuk memberikan perhatian yang berkualitas pada apa yang kita lakukan. Kegiatan-kegiatan seperti latihan menyadari napas (mindful breathing); latihan bergerak sadar (mindful movement), yaitu bergerak yang disertai kesadaran tentang intensi dan tujuan gerakan; latihan berjalan sadar (mindful walking) dengan menyadari gerakan tubuh saat berjalan, dan berbagai kegiatan sehari-hari yang mengasah indera (sharpening the senses) dengan melibatkan mata, telinga, hidung, indera perasa, sensori di ujung jari, dan sensori peraba kita.  Kegiatan-kegiatan di atas seperti bernapas dengan sadar, bergerak dengan sadar, berjalan dengan sadar dan menyadari seluruh tubuh dengan sadar juga dapat diawali dengan cara yang paling sederhana yaitu dengan menyadari napas.

Penjelasan tentang Pembelajaran  Sosial dan Emosional berbasis kesadaran penuh (mindfulness)

*) Diadaptasi dari Diagram K. Fort – Catanese (dalam Hawkins, 2017)

Pembelajaran Sosial dan Emosional berbasis kesadaran penuh yang dilakukan secara terhubung, terkoordinasi, aktif, fokus, dan eksplisit diharapkan dapat mewujudkan kesejahteraan hidup (Well-being) ekosistem sekolah.

Well-being (kesejahteraan hidup)  adalah sebuah kondisi individu yang memiliki sikap yang positif terhadap diri sendiri dan orang lain, dapat membuat keputusan dan mengatur tingkah lakunya sendiri, dapat memenuhi kebutuhan dirinya dengan menciptakan dan mengelola lingkungan dengan baik, memiliki tujuan hidup dan membuat hidup mereka lebih bermakna, serta berusaha mengeksplorasi dan mengembangkan dirinya.

Berbagai kegiatan berbasis kesadaran penuh (mindfulness) dalam sehari-hari memungkinkan seseorang membangun kesadaran penuh untuk dapat memberikan perhatian secara berkualitas yang didasarkan keterbukaan pikiran, rasa ingin tahu (tanpa menghakimi) dan kebaikan hati (compassion) yang akan membantu seseorang dalam menghadapi situasi-situasi menantang dan sulit.  Kondisi tersebut dapat dijelaskan dengan gambar berikut:

Hubungan Mindfulness dan Kompetensi Sosial Emosional (Hawkins, 2011)

Secara lengkap, Pembelajaran Sosial dan Emosional menurut kerangka CASEL dapat dilihat pada gambar berikut:

Kompetensi Sosial Emosioanal CASEL

Mengingat keterbatasan waktu,  pembelajaran 5 Kompetensi Sosial Emosional (KSE) secara eksplisit dalam modul 2.2 ini akan berfokus pada 5 kompetensi seperti yang terdapat pada berikut:

  1. Pengelolaan Emosi dan Fokus
  2. Empati
  3. Kemampuan kerja sama dan resolusi konflik
  4. Pengambilan Keputusan yang Bertanggung Jawab
  5. Pengenalan Emosi

Penjelasan  penerapan 5 kompetensi sosial dan emosional (KSE) berbasis kesadaran penuh (mindfulness)  dalam kegiatan pembelajaran di kelas, lingkungan sekolah dan komunitas praktisi.

Selanjutnya untuk mendapatkan contoh panduan atau kerangka penerapan 5 Kompetensi Sosial Emosional (KSE), silakan baca 5 artikel berikut. Semoga kelima artikel tersebut membantu Anda dalam memahami konsep dan penerapan pembelajaran sosial dan emosional.

Selain contoh kegiatan belajar-mengajar yang diberikan pada fase “Mulai dari Diri” dan kerangka/panduan dalam 5 Kompetensi Sosial Emosional berikut ini adalah berbagai contoh kegiatan yang dapat menumbuhkembangkan berbagai kompetensi sosial dan emosional.

Selamat membaca!

KONEKSI ANTAR MATERI

Kerangka Desain Program Pendidikan Guru Penggerak memiliki topik utama Pemimpin Pembelajaran. Adapun sub topiknya adalah:

  1. Pembelajaran Berdeferensiasi
  2. Komunitas Praktik
  3. Pembelajaran Sosial dan Emosi

Ketiga sub topik tersebut disajikan dalam modul 2 dengan judul Praktik Pembelajaran yang Berpihak pada Murid. Dengan menerapkan pembelajaran berdiferensiasi, membentuk komunitas praktik, dan menerapkan PSE, diharapkan Guru Penggerak dapat mewujudkan pembelajaran yang berpihak pada murid.

Hal di atas juga mendukung capaian pembelajaran pada modul 2 ini, yakni:

Calon Guru Penggerak dapat mengimplementasikan pembelajaran berdiferensiasi untuk mengakomodasi kebutuhan belajar siswa yang berbeda.

Calon Guru Penggerak mampu mengelola emosi dan mengembangkan keterampilan sosial yang menunjang pembelajaran.

CGP mampu melakukan praktik komunikasi yang memberdayakan sebagai keterampilan dasar seorang coach .

Calon Guru Penggerak mampu menerapkan praktik coaching sebagai pemimpin pembelajaran.

Sumber gambar: https://edsurge.imgix.net/uploads/post/image/12264/SEL-1559160355.jpg

2.1.a.9. Koneksi Antar Materi – Modul 2.1

“Semua pengetahuan terhubung ke semua pengetahuan lainnya. Yang menyenangkan adalah membuat koneksinya.” 

(Arthur Aufderheide)

Saya mengubah pemikiran saya sebagai akibat dari apa telah saya pelajari. Utamanya adalah perubahan pemikiran tentang pemenuhan kebutuhan belajar siswa yang berbeda-beda.

Perubahan pemikiran tersebut berkontribusi terhadap pemahaman saya tentang implementasi pembelajaran berdiferensiasi. Saya menjadi lebih percaya diri untuk mempersiapkan pembelajaran yang memiliki karakteristik sebagai berikut:

1. Tujuan pembelajaran dideskripsikan dengan jelas dengan kalimat lengkap, dan mengandung keterangan tentang ABCD (Audience, Behavior, Condition, Degree).
2. Kegiatan Pembelajarannya: Berhubungan langsung dengan tujuan pembelajaran; Mendeskripsikan pengetahuan dan keterampilan
yang akan dikembangkan; Mempertimbang kan kebutuhan belajar murid.
3. Penilaian Pembelajarannya: Mendeskripsikan strategi dan alat penilaian yang akan digunakan, lengkap dengan instrumennya; Penilaian yang dilakukan mencakup penilaian pengetahuan, keterampilan dan sikap.

Sebenarnya, apa yang dimaksud dengan pembelajaran berdiferensiasi dan bagaimana hal ini dapat dilakukan di kelas?

Pembelajaran berdiferensiasi adalah serangkaian keputusan masuk akal (common sense) yang dibuat oleh guru yang berorientasi kepada kebutuhan murid. Keputusan-keputusan yang dibuat tersebut adalah yang terkait dengan:

  1. Kurikulum yang memiliki tujuan pembelajaran yang didefinisikan secara jelas. Jadi bukan hanya guru yang perlu jelas dengan tujuan pembelajaran, namun juga muridnya.
  2. Bagaimana guru menanggapi atau merespon kebutuhan belajar muridnya. Bagaimana ia akan menyesuaikan rencana pembelajaran untuk memenuhi kebutuhan belajar murid tersebut. Misalnya, apakah ia perlu menggunakan sumber yang berbeda, cara yang berbeda, dan penugasan serta penilaian yang berbeda.
  3. Bagaimana mereka menciptakan lingkungan belajar yang “mengundang’ murid untuk belajar dan bekerja keras untuk mencapai tujuan belajar yang tinggi. Kemudian juga memastikan setiap murid di kelasnya tahu bahwa akan selalu ada dukungan untuk mereka di sepanjang prosesnya.
  4. Manajemen kelas yang efektif. Bagaimana guru menciptakan prosedur, rutinitas, metode yang memungkinkan adanya fleksibilitas. Namun juga struktur yang jelas, sehingga walaupun mungkin melakukan kegiatan yang berbeda, kelas tetap dapat berjalan secara efektif.
  5. Penilaian berkelanjutan. Bagaimana guru tersebut menggunakan informasi yang didapatkan dari proses penilaian formatif yang telah dilakukan, untuk dapat menentukan murid mana yang masih ketinggalan, atau sebaliknya, murid mana yang sudah lebih dulu mencapai tujuan belajar yang ditetapkan.

Semua hal tersebut dapat dilakukan dengan langkah awal membuat RPP yang memiliki karakteristik seperti tertuang di atas.

Bagaimana pembelajaran berdiferensiasi dapat memenuhi kebutuhan belajar murid dan membantu mencapai hasil belajar yang optimal?

Sebagai guru, kita semua tentu tahu bahwa murid akan menunjukkan kinerja yang lebih baik jika tugas-tugas yang diberikan sesuai dengan keterampilan dan pemahaman yang mereka miliki sebelumnya (kesiapan belajar). Lalu jika tugas-tugas tersebut memicu keingintahuan atau hasrat dalam diri seorang murid (minat), dan jika tugas itu memberikan kesempatan bagi mereka untuk bekerja dengan cara yang mereka sukai (profil belajar). 3. Sebagai guru, yang dapat kita lakukan untuk mengidentifikasi kebutuhan belajar murid-murid kita adalah dengan memetakan tiga aspek penting. Ketiga aspek tersebut adalah: Kesiapan belajar (readiness) murid, Minat murid, Profil belajar murid.

Bagaimana Anda melihat kaitan antara materi dalam modul ini dengan modul lain di Program Pendidikan Guru Penggerak?

Kaitan antara materi dalam modul ini sesuai dengan isi modul Nilai dan Peran Guru Penggerak. Lebih tepatnya peran sebagai Pemimpin Pembelajaran. Peran sebagai Pemimpin Pembelajaran ini juga menjadi topik utama dalam  Kerangka Desain Program Pendidikan Guru Penggerak.

Sumber gambar: https://media.suara.com/pictures/653×366/2015/04/17/o_19j3m1hgthf63ni1h951v366r6a.jpg

Portofolio Aksi Nyata Modul 1.1 dan 1.2

Heri Adhi Nugraha, S.Pd.

SMKS Pancasila 6 Jatisrono

  1. Latar Belakang

Sebagai tahapan terakhir dari siklus pembelajaran MERDEKA, Aksi Nyata merupakan ruang bagi saya dalam menerapkan pengetahuan yang telah diperoleh dalam satu rangkaian modul. Bagian ini diharapkan dapat menjadi proses pengembangan konsep yang sudah saya dapatkan dengan implementasinya ke depan. Pada modul ini 1.1 dan 1.2, saya diminta untuk melakukan aksi yang dapat membawa perubahan konkret dalam proses pembelajaran sesuai dengan pemikiran KHD, serta menguatkan peran dan nilai Guru Penggerak dalam diri saya. Saya dapat menerapkan strategi yang sudah saya tuliskan juga pada kesimpulan pada bagian Koneksi Antarmateri.

Untuk mendokumentasikan penerapan pemikiran Ki Hadjar Dewantara di kelas dan sekolah, menerapkan strategi untuk menguatkan nilai dan peran Guru Penggerak, serta membiasakan diri merefleksikan hasil pembelajaran yang didapat selama rangkaian modul, saya menyusun portofolio aksi nyata ini.

  1. Tujuan

Portofolio aksi nyata ini bertujuan untuk:

    1. Mendokumentasikan penerapan pemikiran Ki Hadjar Dewantara di kelas dan sekolah
    2. Mendokumentasikan penerapan strategi untuk menguatkan nilai dan peran Guru Penggerak
    3. Membiasakan diri merefleksikan hasil pembelajaran yang didapat selama rangkaian modul.
  1. Portofolio Aksi Nyata Modul 1.1 dan 1.2

Senin, 18 Oktober 2021

Pada pukul 06.17 Pak Purwo Suyono selaku Fasilitator mengingatkan kepada kami tentang ketentuan durasi maksimal video refleksi diri pemikiran KHD, yakni 4 menit. Pengumuman tersebut sekaligus menjadi alarm bagi saya untuk segera menyiapkan proses pembuatan video.

Selain pengumuman di atas, Pak Purwo Suyono juga memberikan informasi tentang undangan pembekalan LMS yang akan dilaksanakan pada tanggal 20 Oktober 2021, Room 16 bersama tim P4TK Matematika, Bapak Victor Deddy Kurniawan.

Kedua informasi di atas saya terima saat saya masih berada di sekolah. Sesampainya di rumah, saya mempersiapkan lokasi pengambilan video dengan peralatan seadanya.

Konsep video refleksi pemikiran KHD yang akan saya buat adalah berbentuk video narasi. Saya menampilkan gambar-gambar sebagai kata kunci dari pernyataan yang saya sampaikan. Sehingga perlu bluescreen/greenscreen untuk membantuk memudahkan menyisipkan video rekaman narasi saya tersebut.

Selasa, 19 Oktober 2021

Setelah melalui proses pengeditan, video refleksi diri tentang pemikiran KHD berhasil saya upload link nya pada pukul 01.28 WIB. Selanjutnya pada pukul 05.31 WIB, Pak Purwo Suyono memberikan masukan terhadap video tersebut, “Video Refleksi kritis yang kreatif, inovatif dan mantap sudah menyampaikan sesuai konten filosofis pendidikan Ki Hajar Dewantara, mohon lebih tenang dalam menyampaikan materi lain kali.”

Saya menyadari bahwa pada saat proses pembuatan video tersebut memang banyak kekurangan. Terutama penguasaan materi. Pengambilan gambar yang dijeda setiap paragraf menyebabkan kurangnya ketenangan pada saat menyampaikan materi.

Inti dari pemikiran KHD semula sulit untuk dipahami. Namun berkat tuntunan dan tuntutan dari LMS yang telah didesain sedemikian rupa, sehingga para user secara tidak langsung mampu menangkap materi yang telah disajikan.

Rabu, 20 Oktober 2021

Pada hari ini dilaksanakan kegiatan pembekalan LMS oleh Bapak Victor Deddy Kurniawan. Banyak manfaat yang kami dapatkan setelah mengikuti kegiatan tersebut. Salah satunya adalah pemahaman lebih mendalam terhadap fasilitas-fasilitas yang disediakan pada LMS.

Kamis, 21 Oktober 2021

Pak Purwosuyono menyampaikan pembagian kelompok untuk kegiatan 1.1.a.5. Ruang Kolaborasi – Mendesain Kerangka Pembelajaran sesuai dengan Pemikiran KHDGoogle Meet™ for Moodle. Kegiatan tersebut akan dilaksanakan pada Hari Jumat, 22 Oktober 2021 pukul 15.00 s.d. 16.30 (Kelas D/Sesi 2).

Untuk mempersiapakn kegiatan tersebut, Pak Hanung mengusulkan untuk mengambil profil pelajar pancasila: kreatif. Saya bersama anggota kelompok lain, yakni: Bu Yanti, Bu Siti, dan Pak Wawan sepakat.

Kemudian kami mencari referensi bersama tentang kreativitas siswa, diantaranya adalah sebagai berikut:

Secara lebih rinci dengan mengutip konsep tentang kreativitas siswa oleh Raudsepp dalam Engineering Education Development Project (Teaching Improvement Workshop) yang dimodifikasi Binadja (Rahayu, 2013: 30) indikator kreativitas siswa meliputi: (1) Mempunyai inisiatif, (2) Mempunyai minat luas, (3) Mandiri dalam berpikir, (4) Berani tampil beda, (5) Penuh energi dan percaya diri, (6) Bersedia mengambil risiko, (7) Berani dalam pendirian dan keyakinan dan (8) Selalu ingin tahu.

Dikutip dari https://www.google.com/amp/s/www.ruangguru.com/blog/pancing-kreativitas-siswa-dengan-cara-cara-berikut-ini%3fhs_amp=true tentang cara-cara meningkatkan kreativitas siswa: (1) Hargai pertanyaan dan khayalan tidak biasa siswa, (2) Coba memanfaatkan visual, (3) Permainan kreatif, (4) Perbanyak project, (5) Pasang karya siswa di kelas, (6)Berintegrasi dengan musik, (7) Belajar sejarah dengan cara menyenangkan. (mapel yg banyak teorinya), (8) Melakukan eksperimen sederhana. (mapel yg banyak praktiknya).

Jumat, 22 Oktober 2021

Berkat diskusi yang telah kami laksanakan hari sebelumnya, kegiatan 1.1.a.5. Ruang Kolaborasi – Mendesain Kerangka Pembelajaran sesuai dengan Pemikiran KHDGoogle Meet™ for Moodle berjalan dengan lancar. Kami tinggal memantangkan kosep kerangka pembelajaran yang sudah dibahas sebelumnya. Sekaligus berbagi tugas untuk menyusun presentasi yang akan digelar pada hari Senin, 25 Oktober 2021.

Senin, 25 Oktober 2021

Ruang Kolaborasi – presentasi (2JP)

Pada hari ini diselenggarakan presentasi kerangka pembelajaran berdasarkan pemikiran KHD. Melalui media daring, bersama Fasilitator Bapak Purwo Suyono, kami diarahkan menjadi 2 kelompok.

Presentasi secara bergantian. Sesuai peran masing-masing.

Ada beberapa kesepakatan yang perlu kita taati bersama demi terwujudnya kolaborasi yang efektif selama diskusi.

Selasa, 26 Oktober 2021

Refleksi Terbimbing – asinkron

Setelah selesai mempresentasikan kerangka pembelajaran sesuai pemikiran KHD, saya membuat refleksi sebagai berikut:

Setelah mengikuti kegiatan presentasi kerangka pembelajaran sesuai KHD, saya mendapatkan pengetahuan baru bahwa dalam melaksanakan pembelajaran perlu dipersiapkan secara maksimal. Berorientasi pada anak, melibatkan pihak-pihak seperti kepala sekolah, tenaga kependidikan, stakeholder, dan masyarakat sekitar. Upaya tersebut juga diarahkan agar anak memiliki profil pelajar Pancasila.

Kekuatan saya dalam melaksanakan pengetahuan baru ini adalah memiliki kemampuan dalam menyiapkan pembelajaran yang berorientasi pada siswa. Selain itu juga memiliki akses sarana untuk menghadirkan pembelajaran yang menarik.

Hal-hal mendasar yang perlu saya ubah untuk menerapkan pengetahuan baru di atas adalah pola kedisiplinan dan keberlanjutan dalam menerapkan pembelajaran.

Perubahan kongkret setelah mendapatkan pengetahuan tersebut adalah saya menyadari sepenuhnya bahwa sebelum melaksanakan pembelajaran perlu dipersiapkan semaksimal mungkin.

Rabu, 27 Oktober 2021

Demonstrasi Kontekstual

Selain metafora, cara lain untuk mengabadikan pemahaman dan pengalaman belajar kita adalah dengan karya seni. Jadi, saya menciptakan sesuatu yang menarik mengenai filosofi pendidikan KHD. Berupa dua bait tembang kinanthi yang kemudian saya bawakan dengan iringan gender Subakastawa Laras Slendro Pathet Sanga.

KINANTHI

budaya gung wijinipun (kebudayaan adi luhung bermula dari)

siswa kang pamong den nganthi (siswa yang dituntun oleh seorang pamong)

kodrat jaman kodrat alam (mereka dibina sesuai kodrat jaman dan alam)

cipta karsa karya karti (ditanamkan makna budi pekerti)

benten saben ing kluwarga (sejatinya pendidikan tiap keluarga berbeda)

mandriya pramana jati (melatih panca indra untuk mengasah batin)

pawiyatan kang satuhu (pendidikan yang sebenarnya itu)

ndhedher kabudayan yekti (adalah benih kebudayaan)

pra dwija momong amulang (para guru menuntun mendidik)

budi pekerti mrih becik (budi pekerti agar selamat)

cipta karsa karyanira (cipta karsa dan karya)

olah rasa lahir batin (melatih perasaan dan batin)

Banyak pelajaran yang saya dapatkan selama proses pembuatan video demonstrasi di atas. Satu hal paling berkesan adalah: semuanya perlu persiapan, semua hal terjadi perlu waktu. Tidak bisa instan.

Kamis, 28 Oktober 2021

Demonstrasi Kontekstual

Proses upload sudah selesai. Karya sudah dinilai oleh fasilitator.

Jumat, 29 Oktober 2021

Saya mengikuti webinair pemaparan langsung dari siswa KHD, yakni Ki Prijo Dwiarsa. Satu hal yang paling saya ingat adalah perlunya guru membawa visi dari rumah tentang apa yang ingin disampaikan kepada siswa di sekolah. Namun tak harus dipaksakan. Anak-anak cenderung suka bermain. Guru dituntut untuk bisa menyelenggarakan bermain sambil belajar. Belajar sambil bermain.

Pada sesi kedua (paralel), Pak Budi Santosa (Sanggar Anak Alam) menyampaikan hal senada. Anak usia SMA/K juga masih suka bermain. Bermain di usia mereka adalah berkarya.

Senin, 1 November 2021

Koneksi Antar Materi

Ringkasan dari pemikiran filosofis Ki Hadjar Dewantara adalah sebagai berikut:

Pendidikan adalah tempat persemaian benih-benih kebudayaan dalam masyarakat.

Seorang ‘pamong’ dapat memberikan ‘tuntunan’ agar anak dapat menemukan kemerdekaannya dalam belajar.

KHD menegaskan juga bahwa didiklah anak-anak dengan cara yang sesuai dengan tuntutan alam dan zamannya sendiri.

Menurut KHD, budi pekerti, atau watak atau karakter merupakan perpaduan antara gerak pikiran, perasaan dan kehendak atau kemauan sehingga menimbulkan tenaga. Budi pekerti juga dapat diartikan sebagai perpaduan antara Cipta (kognitif), Karsa (afektif) sehingga menciptakan Karya (psikomotor).

Pendidikan itu sebenarnya berlaku di tiap-tiap keluarga dengan cara yang tidak teratur.

Maka dari itu, Latihan paca indra adalah pekerjaan lahir untuk mendidik batin (pikiran, rasa, kemauan, nafsu dan lain-lain)

Selasa, 2 November 2021

Aksi Nyata

Rabu, 3 November 2021

Mulai dari Diri

Gambar di atas merupakan trapesium usia saya. Adapun penjelasannya adalah sebagai berikut:

Pada usia 9 Tahun (1999), saya memiliki pengalaman negatif tidak bisa bersikap serius saat latihan menjadi petugas upacara SD. Oleh guru kelas saya waktu itu, diingatkan agar dapat berlatih dengan serius. Karena sikap serius/bersungguh-sungguh saat latihan sangat menentukan keberhasilan latihan.

Pada usia 15 Tahun (2005), saya memilih ekstrakurikuler Purna Caraka Muda (kegiatannya latihan baris-berbaris) di tingkat SMA. Kegiatan saya tersebut mendapatkan dorongan dari guru dan keluarga. Pada saat ada kesempatan seleksi Paskibraka, saya mengikutinya dengan sungguh-sungguh. Hasilnya, saya berhasil menjadi salah satu personel Paskibraka Kabupaten Wonogiri.

  1. Mengapa momen yang terjadi di masa sekolah masih dapat dirasakan dan mungkin masih dapat memengaruhi diri Anda di masa sekarang?

Sekolah merupakan wahana untuk membiasakan sikap tertentu kepada siswa. Hal itu menjadi alasan momen yang terjadi di masa sekolah masih dapat dirasakan dan mungkin masih dapat memengaruhi diri kita di masa sekarang. Selain itu, pembiasaan yang dilakukan secara berkesinambungan akan membentuk karakter siswa.

  1. Menurut Anda, apa saja peran dari seorang Guru jika dikaitkan dengan trapesium usia?

Guru sangat berperan penting pada trapesium usia yang saya gambarkan di atas. Peran utama guru saya pada saat itu adalah mengingatkan sikap negatif (tidak sungguh-sungguh saat latihan) yang ada pada diri saya. Sekaligus menanamkan kebiasaan baru yakni bersungguh-sungguh dalam melaksanakan kegiatan.

Menghadapi siswa usia remaja (SMA), guru cenderung berperan dalam mengarahkan siswa sesuai dengan potensinya. Selain itu juga memberikan motivasi terhadap pilihan-pilihan kegiatan yang mendukung proses penguatan potensinya.

  1. Buatlah 1-2 kalimat yang dapat menggambarkan nilai-nilai yang Anda percayai sebagai seorang Guru, menggunakan kata-kata berikut: Guru, Murid, Belajar, Makna.

Seorang guru berperan dalam menyajikan kegiatan belajar mengajar yang bermakna dan berpusat pada murid.

Kamis, 4 November 2021

Bereksplorasi Konsep-Mandiri

Menurut Anda, Apa hubungan antara Profil Pelajar Pancasila, dengan Peran serta Nilai Guru Penggerak yang sudah Anda pelajari?

Profil Pelajar Pancasila ini dicetuskan sebagai pedoman untuk pendidikan Indonesia. Tidak hanya untuk kebijakan pendidikan di tingkat nasional saja, akan tetapi diharapkan juga menjadi pegangan untuk para pendidik, dalam membangun karakter anak di ruang belajar yang lebih kecil. Pelajar Pancasila disini berarti pelajar sepanjang hayat yang kompeten dan memiliki karakter sesuai nilai-nilai Pancasila. Pelajar yang memiliki profil ini adalah pelajar yang terbangun utuh keenam dimensi pembentuknya. Dimensi ini adalah: 1) Beriman, bertakwa kepada Tuhan yang Maha Esa dan berakhlak mulia; 2) Mandiri; 3) Bergotong-royong; 4) Berkebinekaan global; 5) Bernalar kritis; 6) Kreatif. Keenam dimensi ini perlu dilihat sebagai satu buah kesatuan yang tidak terpisahkan. Apabila satu dimensi ditiadakan, maka profil ini akan menjadi tidak bermakna.

Dalam usaha mewujudkan Profil Pelajar Pancasila ini, tentunya perlu peran pendidik untuk menuntun anak serta menumbuhkan berbagai karakter/nilai yang dijabarkan. Peran pendidik yang pertama dalam terkait dengan Profil Pelajar Pancasila ini adalah mengenali dan menjalankan profil ini terlebih dahulu. Ketika seorang pendidik mencoba menjalankan profil ini, maka akan lebih mudah bagi murid untuk mengikutinya. Keteladanan seorang guru dalam menjalankan ini pastinya akan dilihat dan kemudian dipelajari oleh para murid.

Untuk mencapai tujuan di atas, terdapat 5 butir peran dari seorang Guru Penggerak:

Menjadi Pemimpin Pembelajaran

Menggerakkan Komunitas Praktisi

Menjadi Coach Bagi Guru Lain

Mendorong Kolaborasi Antar Guru

Mewujudkan Kepemimpinan Murid

Jika ada rekan Guru ataupun Kepala Sekolah yang kurang mendukung Anda dalam menjalankan peran sebagai Guru Penggerak, Apa yang bisa Anda lakukan? Gunakan pengetahuan Anda terkait nilai dan peran seorang Guru Penggerak!

Agar dapat melaksanakan peran Guru Penggerak, seorang guru perlu memegang teguh nilai nilai Guru Penggerak. Nilai-nilai ini yang diharapkan bisa muncul dari Bapak/Ibu Calon Guru Penggerak sekalian. Nilai ini yang nantinya akan mendukung Bapak/Ibu Calon Penggerak dalam melaksanakan peran-peran Guru Penggerak, serta mewujudkan Profil Pelajar Pancasila.

Kelima nilai dari Guru Penggerak adalah: Mandiri, Reflektif, Kolaboratif, Inovatif, serta Berpihak pada Murid.

Jika ada rekan Guru ataupun Kepala Sekolah yang kurang mendukung Anda dalam menjalankan peran sebagai Guru Penggerak, kita perlu merefleksi diri tentang 5 nilai dari guru penggerak di atas. Adapun langkah-langkah nyata yang bisa kita tempuh bersama rekan Guru ataupun Kepala Sekolah adalah:

Mengomunikasikan tujuan perubahan yang ingin dicapai dan dampak dari pencapaian tujuan tersebut.

Merayakan keberhasilan dalam setiap pencapaian.

Membuka diri terhadap pengalaman yang baru dilaluinya

Melakukan evaluasi terhadap apa saja hal yang sudah baik, serta apa yang perlu dikembangkan.

Senantiasa membangun hubungan kerja yang positif terhadap seluruh pihak pemangku kepentingan yang berada di lingkungan sekolah ataupun di luar sekolah.

Memunculkan gagasan-gagasan baru dan tepat guna terkait situasi tertentu ataupun permasalahan yang berlum terselesaikan.

Mengutamakan kepentingan perkembangan murid seb