Nyopros-lah!

Speak or write in English, and the world will hear you.

Ini yang ngomong Orang Inggris (sekarang). Ya mau bagaimana lagi, lha wong kenyataannya apa-apa pakai Bahasa Inggris. Bukan bermaksud apa-apa. Hanya ingin membayangkan saja kalau yang bilang begitu gantian Orang Indonesia, “Hai, para orang luar negeri. Jika ingin dikenal oleh dunia, menulis dan bicaralah menggunakan Bahasa Indonesia. Jangan lupa EYDnya, ya.”

Rasanya itu lho… Nyesss… Adhem…

Pertinyiinnyiii…

Saya yakin, dari sekian banyak pemimpin golongan-golongan itu telah melalui perjalanan panjang mencari jatidiri. Golongan apa, sih? Ya golongan agama. Wis ben jelas.

Dan mereka memang benar-benar sudah menemukan jatidirinya. Jadi, apapun golongannya, pemimpinnya memang bukan orang sembarangan. Kalau pengikutnya, entahlah.

Lantas pertanyaannya, sudahkah jatidiriku kutemukan? Kalau belum, mau sampai kapan mencari? Atau selamanya aku hanya akan ikut-ikutan? Kalau sudah, lantas aku mau apa? Akankah hanya akan mengambang di antara lautan kebenaran-kebenaran ini? Membanggakan pemahaman tanpa aplikasi? Tidakkah lebih baik aku segera menakar kadar kebermanfaatanku bagi orang-orang disekitarku? Menakar sejauh mana aku ikut menjaga keseimbangan alam seisinya?

Lalu berbuat sebisanya, meski sedikit tapi terus-terusan? Iya, kan?

(Sing arep njawab sapa?)

Menang!

Kemenangan tidak perlu diraih sampai musuh meregang nyawa. Membuatnya bingung atas rasa bersalah yang bergentayangan tiap malam, itu sudah cukup. Biarlah kemenanganku menyatu bersama kepulan asap rokok yang ikut andil dalam menjaga keseimbangan alam. Hahaha…

Tentang Kematian

Kehidupan mudah kita mengerti dan kita pelajari. Dengan berbagai pengalaman yang kita lalui.

Sedangkang tentang kematian, mustahil kita mendapatkan pemahaman. Banyak buku yang mengupas informasi tentangnya. Tapi kita tak akan sempat mengambil kesimpulan setelah kematian mendatangi kita.

Mari terus belajar.

Teloletkan!

Wahai para sopir bus telolet. Kutangkunpkan kedua tanganku. Seraya memohon: teloletkan apa yang seharusnya telolet. Apalagi di hadapanmu telah berjajar anak-anak generasi penerus bangsa ini.

Sadarkah bahwa engkau telah menambah kekecewaan mereka jika sampai telolet yang seharusnya lolet tapi tidak engkau teloletkan. Mereka sudah cukup sering dikecewakan, Pak.

Nuwun.

Apa Iya?

Keterpaduan agama dan budaya sulit diwujudkan. Sebab keduanya sama-sama punya pakem yang wajib dijaga kelestariannya. Para praktisi murni diantara keduanya (pemuka agama atau budayawan), pasti sama-sama berupaya keras menentang; jika ada pihak yang ingin ngowah-owahi pakem. Baik pakem agama maupun pakem budaya.

Jika sampai ada praktisi budaya yang beragama secara baik, atau pemuka agama yang menjunjung tinggi kelestarian pakem budaya leluhur; maka tak heran kalau mereka banyak pengikutnya.

Saya yang tinggal di lingkungan budayawan, sering menemui upaya keras menentang owah-owahan pakem. Apalagi jika pengubahan itu dilakukan atas dasar aturan agama.

Tapi sebaliknya, ternyata pakem budaya yang dipertahankan mati-matian oleh budayawan ini juga dikeluhkan oleh praktisi murni agama. “Sama-sama kesepakatan manusia mbok ya yang agak luwes dikit…” tandas mereka yang saya yakin ingin sekali menjaga keutuhan NKRI.